Di saat Qilla kembali pindah ke Jakarta, tanpa di duga ia bertemu dengan sahabat lamanya di sekolah baru. Tapi ia tidak bertemu dengan Eza-sahabat semasa kecilnya yang entah mengapa laki-laki itu selalu ada di dalam pikirannya.
Seiring berjalannya w...
Unexpected : tak terduga, yang tak diduga-duga, tiba-tiba.
Seperti artinya, kalian akan menemukan kejadian-kejadian yang tidak terduga.
Siap dengan semua kejutannya?
——–—
Nama sebagian tokoh aku ubah, tapi nama panggilannya tetap sama cuman sedikit aku revisi aja, pun ceritanya.
Btw, sebelum mulai membaca jangan lupa vote ya<3
Oke, happy reading👐🏻
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Bocah kecil perempuan berkepang dua gaya Pancake pull-through braids and fishtails bersama seorang bocah laki-laki berwajah manis sedang bermain pasir di taman bermain yang tak jauh dari komplek perumahan.
"Kok, Eza bikin gambal es klim?" tanya bocah perempuan itu dengan ekspresi bingung.
"Es klim, 'kan manis, sama kaya Naya," jawab bocah laki-laki itu sambil tersenyum. Ia menggambar ice cream di atas pasir dengan ranting kayu yang ia temukan tadi.
"Tapi Naya sukanya klipik kentang," ucap bocah perempuan itu dengan polos.
Naya itu bisa dikatakan nama panggilan sayang dari bocah laki-laki itu, pun sebaliknya. Khusus hanya mereka berdua yang boleh memanggilnya dengan panggilan itu tidak dengan orang lain.
"Ila," panggil seorang pria jangkung yang baru saja datang menghampiri mereka berdua.
Bocah perempuan itu menoleh, kemudian berlari menghampiri pria itu. "Abangggg," rengeknya sambil memeluk kaki jenjang pria itu.
Eza yang masih berjongkok pun langsung berdiri menatap Naya dan pria itu dengan ekspresi bertanya-tanya.
Sekarang, 'kan masih siang. Seharusnya Naya belum waktunya pulang. Kenapa pria itu sudah menjemputnya?
"Kok, Abangnya Naya udah jemput Naya?" tanya Eza. "Kan, masih siang," imbuhnya dengan bibir yang ia majukan tanda tak suka.
Naya menggigit bibir bawahnya sambil menatap Sang Abang.
Pria yang di ketahui Abangnya Naya itu menghela napas berat, lalu berjongkok menyamai tinggi badan Eza. "Naya mau pergi," ujarnya sambil mengelus kepala bocah itu.
"Pergi?" beo bocah laki-laki itu dengan tatapan kosong. Eza mau di pisahin sama Naya?
Sebenarnya dia tak tega untuk memisahkan Naya dengan Eza. Mereka itu seperti ulat bulu, iya nempel terus! Dari bayi mereka selalu bersama. Ini kali pertamanya mereka berpisah dengan jarak yang sangat jauh.
Tapi mau bagaimana lagi.
Eza hanya diam memperhatikan Naya—sahabat tersayang yang kini sudah berdiri dihadapannya. "Eza ... maafin Naya yah, Naya hali ini mau pindah lumah." Bocah perempuan itu menggapai jari jemari Eza.
Eza meneteskan air matanya. Tuh, 'kan, Eza nangis. Terlalu berat untuk membiarkan Naya pergi dari sisinya.
"Naya mau ninggalin Eza?" tanyanya dengan air mata yang mulai mengalir deras.
Naya mengusap air mata Eza. "Eza cengeng," ujarnya sambil terkekeh.
"Ila, ayo," ajak pria itu seraya menarik tangan Naya. Ia memang selalu memanggil Naya dengan sebutan Ila.
Cepat-cepat Eza menggenggam tangan Naya dengan sangat erat. Dia tidak mau di pisahkan dengan Naya.
Mata mereka saling menatap penuh harap dan kesedihan. Naya mengulas senyum di bibir kecilnya. "Eza janji ya, nanti kalo udah besal, Eza bakal jemput Naya."
Tangisan Eza semakin kencang bersamaan dengan ingusnya yang juga keluar disaat Naya mengucapkan kata-kata itu. "Na-Naya jangan per-pergi, hiks, hiks ..."
Naya hanya membalas dengan senyuman. Senyuman penuh luka. Ia juga tak mau berpisah dengan Eza. Tapi ... tapi ...
Perlahan-lahan genggaman mereka berdua terlepas. Setelah Naya menjauh, ia melambaikan tangannya kepada Eza sedangkan bocah laki-laki itu tetap diam di tempat sambil menangis dengan sesenggukan.
Sesekali ia menjilat ingusnya yang terus-menerus keluar.
"Yah, cengeng. Cowok kok cengeng?" ejek seorang bocah laki-laki yang tiba-tiba ada di sampingnya.
"Udah Gede kali. Kita kan udah sekolah, jangan cengeng!" katanya lagi. Btw, mereka baru masuk TK.
Di lain tempat Naya menangis di pangkuan Abangnya. Tadi ia tidak mau menangis di depan Eza karena ia takut jika bocah laki-laki itu semakin sedih melihatnya menangis.
Naya sayang Eza sampai kapan pun. Naya tunggu Eza jemput Naya ya, batinnya.
•
•
"Awal yang menyedihkan tidak selalu berakhir dengan kesedihan."