Prolog + Perkenalan tokoh

Start from the beginning
                                    

Eleena Feshikha

Shin Yuna

Shin Yuna

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Yassika


Lee Jeno

Arsa Bramanty

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Arsa Bramanty

Hwang Hyunjin

Sagara Narasimha

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Sagara Narasimha

Na Jaemin

Chandra Ekadanta

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Chandra Ekadanta

Choi Soobin

Ahsan Arkatama

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Ahsan Arkatama

···

(And other supporting characters)

••

Senja menyapa, suara deburan ombak yang bersahut-sahutan, memandangi langit yang indah pada sore hari dengan seulas senyuman yang terpatri rapi di kedua sudut bibir.

"Gue gak suka senja," ujar Kara spontan, membuat pria yang menemaninya menoleh cepat dengan salah satu alis yang menukik ke atas.

"Kenapa?" ujar Arsa.

"Senja datang membawa keindahan sesaat, kemudian mempersilakan gelap hadir dengan cepat," katanya memandang ke samping. Keduanya saling bertatapan. "Gue gak mau kisah cinta gue berakhir tragis seperti itu."

"Kar, jika cinta disamakan dengan senja, lo, terlalu naif," ujarnya memandang ke depan dengan seulas senyuman. "Ibarat air laut di pantai, meski ia kadang pasang dan surut, percayalah, rasa air laut itu tidak akan berubah," ujarnya tiba-tiba, membuat Kara memandang Arsa kebingungan meresapi apa yang dia katakan.

Arsa kembali memandang Kara lekat. "Sama halnya dengan cinta gue ke lo. Walaupun badai menghadang, masalah datang menganggu hubungan kita dan sakit setelah senang menghampiri, rasa cinta gue ke lo gak bakal pudar dengan mudahnya."

"Ha?" Kara tampak bingung dengan semua yang dikatakan Arsa padanya.

"Gue sadar, rasa gue ke lo gak bisa dikontrol, lagi," katanya menunduk, menggapai tangan Kara. "Gue ... gue cinta sama lo, Kar." Arsa duduk menghadap Kara mengelus punggung tangan Kara dengan senyum yang tulus.

Kara menatap tangan Arsa yang menggenggam erat tangannya, kembali memandang Arsa dengan keraguan yang mendalam. "Ini terlalu mendadak buat gue." Kara menarik tangannya dari genggaman Arsa dengan cepat.

"Gue takut, cinta yang gue dapati gak sebanding dengan apa yang gue pikirkan. Gue takut terlalu bahagia karena lo, kemudian rasa sakit yang dalam gue rasakan saat setelah gue menerima cinta lo. Karena gue takut, kejadian yang gak gue harapkan datang setelahnya." Arsa menggapai tangan Kara untuk kedua kalinya.

"Percaya sama gue, Kar. Gue gak akan buat kisah cinta lo kayak apa yang lo pikirkan sekarang. Gue akan bahagiakan dan selalu ada di sisi lo bagaimanapun keadaannya. Karena gue, udah banyak belajar dari pengalaman," balas Arsa dengan raut yang serius, membuat jantung Kara berdetak tak karuan.

"Tapi, kalau emang lo belum siap menjalaninya bareng gue, gue gak bisa maksa. Karena cinta gak bisa dipaksa, kan?" Arsa melepaskan genggamannya, tersenyum memandang Kara-senyuman keputusasaan. Mendadak rasa kecewa menyelimuti sebagian hati Kara.

Tak lama, Kara berdiri, membuat harapannya pupus begitu saja. Arsa mengira dirinya sudah mendapat penolakan setelah Kara mendengar pernyataan cinta yang dia katakan tanpa tahu situasi.

Kara bersedekap dada, memandang senja dengan seulas senyuman. "Sekarang gue gak lagi benci sama senja." Ucapan itu membuat Arsa mendongak, berdiri mensejajarkan diri dengan tubuh Kara.

Kara berbalik memandang Arsa dengan senyuman yang belum luntur dan semakin mengembang. "Karena lo, gue berhasil menyukai senja seutuhnya. Momen yang lo kasih membuat gue sadar akan cinta tulus yang sesungguhnya."

Kara tiba-tiba memeluk Arsa cepat, membuat Arsa terkejut kemudian menenggelamkan wajahnya di dada Arsa.

"Kenapa lo tiba-tiba ...?"

Kara melepaskan dirinya dari tubuh Arsa, memandang Arsa dengan senyum yang manis.

"Perasaan anda diterima."

••
Yeay! Akhirnya bagian ini sudah saya revisi dengan gaya yang baru. Prolog yang lama kurang memuaskan hati saya. Semoga kalian suka dengan prolog yang terbaru ini, ya!

Komentar yang lama-lama berbeda dengan alur cerita dikarenakan bagian ini sudah saya revisi.

Jangan lupa vote dan komen sebanyak mungkin!😄👌❤️💛💚💙💜

Fyi, prolog ini aku ambil dari salah satu scene dalam cerita ini. So, prolog ini gak bersangkutan dengan bagian pertama, terimakasih ☺️🙌

Di tempat ternyaman, kamar minimalis ku
Thursday, August 20, 2020

|TELAH DI REVISI|
16.12.20
14.01.21

KARA |Serendipity|Where stories live. Discover now