1. Rencana Liburan

86 1 0
                                    


Nama dia Senjanira Aldita Subroto. Ada nama Subroto karena itu nama bapaknya. Biar keliatan kalo terlahir dari keluarga bapak Subroto yang merupakan si juragan ayam penyet bercabang-cabang di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebut saja Ayam Penyet Subroto yang didirikan sejak tahun 1978 itu adalah sumber pemasukan dan dana dari Senja untuk liburan ke Nagoya saat ini. Bukan tanpa alasan, kedatangannya ke Nagoya juga untuk menjenguk kakaknya yang tengah menempuh pendidikan magisternya di Nagoya. Ada udang di balik batu, jengukin kakak sekalian liburan sekalianlah liburan sebelum mumet mikir skripsi. 

Setelah kaki dan badan pegel karena ketiduran di pesawat, akhirnya Ia sampai di Bandara Chubu. Sudah pukul 7 pagi, Ia sudah kenyang sarapan dari pesawat tadi. Sarapan jam lima pagi dengan mata masih merem melek belekan belum cuci muka langsung makan. Kalo kata kakaknya sih, si Mas Bumi, dia keluar dulu ke ambil koper, ke bagian imigrasi terus nunggu dua puluh menit sampai kakaknya tiba karena keretanya memang tidak sampai bertepatan dengan pesawat Senja yang mendarat. 

"Bang Bumi, dimana?" Senja menelepon kakaknya.

"Dek, tunggu bentar ya, Abang telat ngejar kereta. Tungguin satu jam lagi gak papa?" 

"Bang, gue kaya orang ilang, kagak ngerti apa-apa selain sumimasen sama arigatou doang." Senja mengeluh lantas cemberut. 

"Keliling bandara dululah, biar gak gabut."

"Kalo gue ilang di Bandara emang lo mau nyariin gue keliling?" 

"Ya enggak sih. Paling gue tinggal balik. Yaudah ngapain lah lo sono. Bye!" Bang Bumi mematikan panggilannya sepihak. Jelas membuat Senja ngedumel marah. Ini kali pertamanya ke luar negeri sendirian. Biasanya ada duo kwek-kwek yang suka ngintilin ketika main ke luar negeri, itu si Bang Bumi dan Bang Langit. Kedua abangnya itu hobi banget travelling. Inget banget terakhir kali liburan dengan mereka berdua itu dua tahun lalu ke Thailand dengan alasannya cuma mau liat gajah thailand secara langsung. 

Daripada bosen, bener juga kata Bang Bumi. Mending Senja keliling bandara terlebih dahulu mencari jajan contohnya meskipun harus menarik kopernya kemana-mana sendirian. 

"Aduh berat amat." Keluhnya kala menarik kopernya. Memang rempong sekali barang bawaannya. Harus tampil fashionista katanya makanya gadis itu membawa setumpukan pakaian untuk modal pamer feed instagram contohnya atau biar gak kalah sama cosplay anime yang bertebaran di Jepang. 

"Pulang-pulang gue bawalah jodoh orang jepang. hahahaha..." gumamnya tertawa tidak jelas. Liburanya hanya seminggu di Jepang. Gak bisa lama-lama masih ada skripsi yang menanti. 

"Cari pengusaha kaya raya auto nikah aja, yes, halu dulu sebelum ditabok skripsi." 

.

.

Benar memang kata Bang Bumi. Satu jam kemudian pemuda itu sudah sampai dengan tangan melambai-lambai dan menenteng boba. 

"Oy anak dajjal. Berani juga lo sampai sini sendirian?" sapaan yang mencerminkan bang Bumi sekali. Senja berdecak, meringsek memeluk abangnya itu tapi tak lupa menggigit lengannya hingga pemuda itu meringis kesakitan. 

"Anjir bar-bar lo gak sembuh-sembuh ternyata." Mengambil alih koper dari tangan Senja. Bang Bumi menggiring adiknya itu menuju stasiun kereta bandara. 

"Langsung ke apartemen Bang Bum aja dulu ya. Gue pengen mandi, lengket banget ini dari kemarin."

"Oke."

Tak perlu lama, hanya lima belas menit mereka sudah duduk di kereta dengan Senja yang menyandarkan kepalanya di bahu abangnya. Ia mengantuk. Efek jetlag. Setelah turun dari kereta, berpindah naik bus selama lima belas menit kemudian jalan kaki hingga tiba di apartemen abangnya. Langit mulai cerah namun udaranya mulai dingin. Bulan Oktober memang saat dimana kondisi cuaca berubah-ubah. Baru kemarin masih merasakan sisa panasnya musim panas, esoknya sudah hujan lebat, kemudian mulai dingin dan dingin tiap harinya. 

Senja yang katanya mau langsung mandi ketika sampai di apartemen nyatanya malah rebahan di atas kasur, guling kanan guling kiri. Aroma kamar abangnya enak betul. 

"Abang cuddle sini!"

"Ogah lo bau, dasar jamet."

"Hilih." Senja mencebik. Masa bodoh Ia langsung menarik Bumi hingga pemuda itu terjatuh di atas kasur lantas memeluknya erat-erat. 

"Kangen banget sama abang tau." Senja merajuk. Emang dasarnya gadis itu anak paling bontot yang aslinya paling manja kalo udah ketemu abang-abangnya. 

.

.

"Jadi begini adinda. Lo mau jalan-jalan kemana aja? ada planning kagak lo?" Mereka baru saja selesai makan siang. Bumi yang memasak, ayam goreng dan lauk sambal dari Senja yang Ia bawa dari rumah. 

"Mau main ke Kyoto, Tempozan, terus jalan-jalan ke Tokyo deh bang."

"Tapi gue cuma free dua hari doang minggu ini. Sorry banget adek. Lo main sendiri gapapa kan?"

Senja merengut, "Ntar kalo gue ilang gimana?"

"Gak mungkin ilang. Oke? Atau lo mau main sama temen abang aja biar nemenin lo. Dia sebenarnya lagi jabat assoc. prof sih tapi minggu ini katanya gak ke kampus. Mau gak? Masih muda kok anaknya, ganteng lagi." 

"Apa perasaan gue aja ya lo kaya lagi promosiin temen abang ini buat jadi gebetan gue." Bumi tertawa, mencubit pipi Senja terlampau gemas. "Ya siapa tau aja lo jodoh sama dia kan. Lagian dia kayanya sih jomblo."

"Baru kayanya ya. Gak terbukti kevalidannya." tapi kemudian Senja setuju tawaran Bumi, daripada Ia nyasar di negara orang. "Namanya siapa, Bang?"

"Naren." 

.

.

.


TBC 


Scripshit!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang