MEMAGUT SECANGKIR RASA

1.2K 32 1
                                    

“Tanpa sengaja dirinya terlintas. Apakah aku harus menegur sebuah sapa padanya? Seorang menyuruhku meninggalkannya, cinta pertama yang pernah kulihat.” ~ Kyle

Aku menyapa pagiku, di akhir pekan ini. Kesibukan mereda, dan santai menunggu untuk segera disambut. Aku masih setia terduduk memandang gulaku yang segera larut dalam cangkir tehku pagi ini. Sebelum suara deham membuatku terbangun dari lamunan.

Sebuah payung kuning berada di genggamannya. Tangannya membenahi kerah kemeja hitam yang dikenakannya, dan seterusnya  melingkarkan arloji di tangannya. Dirinya sudah rapi di pagi hari, di akhir pekan seperti ini dengan kemeja hitamnya.

Segera langkah tegapnya berlalu di hadapanku. Dan langkahku mulai mengejar dan menyusul kepergiannya. Lalu dirinya menyadari keberadaanku, dan membalikkan tubuhnya sebelum meninggalkan rumah.

“Ayah harus menghadiri upacara pemakaman isteri teman ayah di Gereja pagi ini. Ayah akan usahakan pulang secepat mungkin.” jelasnya, disertai lambaian tangannya sebelum mobilnya melaju memecah sunyinya jalan.

Aku hanya tersenyum dalam kepahitan duka saat ini, mendengar perkataan ayahku tadi. Lalu langkahku kembali masuk ke dalam rumah kayu ini. Namun, diriku segera tersentak. Menyadari baru saja yang kupikirkan tentang Kyle. Apakah Kyle yang akan menjemputnya pagi ini? Aku harus bertemu dengannya meminta sebuah jawaban, entah aku tak akan tahu apa yang harus kutanyakan.

Segera aku berlari ke kamar. Manarik mantelku yang tersampir di atas kursi, lalu menenteng tasku. Berlari meninggalkan rumah, menyusuri jalan di sisi danau.

Langkah lariku beradu cepat dengan jalan. Napasku perlu beberapa waktu untuk kembali teratur, kembali menenangkan diri. Lalu, aku mulai memutar langkahku menyusuri jalan lain saat di persimpangan jalan. Langkahku mulai menjadi tenang, begitu mendekat ke tempat itu. Tempat makam yang terletak di pinggir kota.

Di balik pohon dapat kulihat pemakaman sedang berlangsung di sana. Namun, mataku tak mendapati ayahku ada di salah satu kerumunan orang itu. Lalu segera kusandarkan tubuhku untuk sesaat beristirahat.

Kulihat seseorang menapaki jalan di depanku, lalu berhenti tepat di depanku. Tubuhnya tinggi, membuat aku segera mendongakkan kepalaku.

Dirinya tersenyum. Seperti yang kuduga aku bertemu dengannya di sini. Lama aku tak bertemu dengannya, begitu sulit untuk aku memulainya lagi dari awal lagi. Kyle.

“Apa yang kau lakukan di sini, Marie?” tanyanya di tengah kebingunganku.

“Aku mencari ayahku, aku ingin menyusulnya.” jawabku, mencoba menutupi jawaban yang sebenarnya.

“Dia hanya datang saat upacara pemberkatan di Gereja, dia tidak ingin ikut upacara pemakaman di sini.”

Dirinya menggeram geli, lalu terkekeh. Suara lembutnya kembali terdengar. Seperti nyanyian, tetapi bukan seperti itu terdengarnya. Berbisik namun lembut terdengar.

“Dia akan marah jika kita bertemu. Kau bisa pergi sekarang, gadis berpayung kuning.” lanjutnya.

“Dia siapa? Payung kuning? Payung itu bukan lagi milikku.”

“Kau tak perlu tahu, siapa yang akan kutemui setelah ini. Dan, ayahmu meninggalkan payungnya di dalam mobil, bukan?” suaranya terdengar lembut, bahkan hanya bisa terdengar seperti bisikan lembut.

Aku hanya menggelengkan kepalaku dengan ragu, aku tak tahu apa pun. Lalu aku melangkah, melewati dirinya yang masih dikuasai oleh senyum candanya.

“Marie..” suaranya kembali terdengar olehku.

Aku terhenti untuk menyahut panggilannya. Mendengar kelanjutan kalimatnya.

“Bisakah kita bertemu lagi?” Dirinya mulai membalikkan tubuhnya menatap punggungku yang mulai menjauh.

Sketsa Rindu untuk HujanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang