SKETSA TERAKHIR HUJAN

2.1K 60 0
                                    

“Dia hanya perlu belajar melupakan. Tak perlu mengingat kembali, atau semua akan kembali terulang menjadi sederet memori runtut. Bukan lagi mengenang, seperti yang lalu dan terlupakan.”  ~ Derryl

Aku terduduk di sudut kamarku, menatap dalam diam pada payung hitam yang senantiasa teronggok di dekat jendela. Begitu kesepian dan sendiri, sama sepertiku.

Aku mulai berjalan mendekat ke arahnya, namun sama sekali tak memandangnya. Aku hanya mengintip sekilas keadaan di teras, begitu sepi dan tenang. Lalu kulangkahkan kakiku menuju sudut yang lain. Sebuah kalender terpasang di dinding, menunjukkan sederet tanggal dan hari.

“Bulan lalu adalah yang terburuk. Dan besok akan berganti musim, dan inilah saatku menyiapkan ujian akhir kelulusanku. Aku akan segera bebas..”

“Bibi berdoa untuk ujianmu, semoga berhasil..” pesan bibiku sebelum aku berangkat ke sekolah.   Menepuk pelan lenganku, dan mengelus lembut pipiku, menandakan dirinya tidak ingin dikecewakan.

Aku mengangguk pelan, dan aku mencoba tersenyum, lalu melangkah pergi.

Satu minggu ke depan, itulah jadwal ujian akhirku.  Berjuang mempersembahkan kelulusan kelak. Meskipun suasana hatiku sedang tak mendukungku, aku ingin mencoba yang terbaik.

Belajar di setiap malam, memaksakan mataku untuk terus berjaga agar  tidak tertidur. Itulah rutinitasku selama ujian. Dan seminggu selalu disambut dengan gerimis hangat,  membuatku ingin segera mengakhiri musim ini. Di kala mereka menderas, aku akan selalu menghindar.

Kusilangkan sebuah tanggal di kalender dengan spidol merah, berurutan dengan silangan pada tanggal lain sebelumnya. Hari terakhir ujianku.

Hujan menggila siang ini, begitu aku keluar dari ruang ujian. Membuatku bingung untuk melangkah pulang, segera mencari kehangatan di dalam ruangan bukan seperti ini. Berlari dan menerjang, itulah yang  terpikir olehku.

Semua di luar dugaanku, kukira aku akan cepat tiba di rumah. Hujan menghujamiku begitu keras,  seakan ingin membalas dendamnya padaku. Aku tak boleh menyerah.

Seseorang ada dalam arah pandanganku saat berjalan, berdiri di bawah payung birunya. Raut cemas mendominasi di wajahnya, aku mengenal kekhawatiran itu. Saat cukup lama aku berdiri sambil terus memandangnya,  akhirnya dirinya mengetahuiku. Lalu tersenyum dan berjalan mendekat ke arahku.

“Bibi cemas kalau kamu tidak bisa pulang siang ini.” katanya lembut begitu aku bisa berlindung bersamanya di bawah payung.

Tubuhku telah seluruhnya basah, bukan masalah untukku. Aku mengenal lama bibiku,  dirinya selalu cemas bila aku berhadapan dengan hujan.

Lalu kami mulai berjalan pulang, menghangatkan kegundahan hati yang berantakan ini.

“Ujianmu sudah selesai, bisa luangkan waktu untuk kita membicarakan suatu hal sebentar.” Bibiku datang ke kamarku,  mengantar segelas susu hangat.

“Bisa, malam ini saja. Setelah kita selesai untuk makan malam.”  jawabku sambil menerima uluran tangan bibiku, mengambil susu itu dari tangannya.

Bibiku hanya bergumam dan mengangguk, lalu mulai melangkah meninggalkan kamarku. Aku lelah,  terpejam sejenak mungkin akan meredam segalanya. Melupakan dan menghapus ingatanku, itulah yang  kuinginkan. Semoga hujan bisa melakukannya.

Hingga waktu mulai menjelang malam,  aku tengah selesai duduk untuk makan. Aku berjalan mendahului bibiku menuju ruang tengah. Menyiapkan selimut hangat dan segelas susu lagi, kalau-kalau aku akan tertidur di sana.

“Bibi ingin datang ke acara kelulusanku?” Aku mencoba membuka suasana, begitu bibiku duduk membawa cangkir kopinya.

“Tentu, bibi tak akan melewatkan itu.”

Begitu kembali hening, suara petir bersautan di luar menggelegar, menggetarkan suasana di bumi ini. Dan tak  lama suara rintikan hujan pelan samar-samar terdengar oleh kami. Disusul yang  lebih besar dan lebat menderukan suara lebih tajam.

“Setelah ini, apakah kita masih sanggup untuk di sini?” tanya bibiku tanpa berpaling dari cangkirnya.

“Mungkin—”

“Bibi melihatmu sedikit resah dengan kepergian pria itu. Jika kau mengenalnya, bibi harap kau mengerti maksud ini semua. Langkahmu akan terdahului, kau tahu apa yang harus kau lakukan?”

“Jadi kita harus pergi?” aku mencoba menelan ketakutanku ini.

“Itulah yang terbaik, kau tahu itu. Bukan kita namun hanya kau yang pergi.”

Dengan susah payah kutelan ludahku, gugup dan tak percaya. Begitu cepat dan tak terduga olehku.

“Mungkin benar Bibi Sarrah ingin aku meninggalkan kekelaman hujan di kota ini. Aku harus pergi, dan mencoba melanjutkan hidup, bukan terjebak dalam suram dan gelap hujan ini.”

Aku berjalan menuju toko aksesoris yang dulu pernah menjadi tempatku untuk selalu menunggu. Kali ini aku ingin mengunjunginya, bukan menunggu.

Berbagai aksesoris tersebar ke seluruh ruangan dan setiap sudut dindingnya. Memanjakan pandangan untuk segera melirik dan membelinya. Aku hanya membeli sebuah pena merah, dan beberapa lembar kertas surat. Bukan efektif mencarinya di toko aksesoris.

Dan lama aku kembali duduk di kursi di depan toko aksesoris itu. Menuliskan sesuatu di atas kertas itu, sebuah pesan terakhir. Berusaha sekuat tenaga untuk mencegah jatuhnya atau hanya menetesnya air mataku, aku tak sanggup. Kulipat kertas itu, meletakkannya di atas kursi, di sampingku. Berharap malaikat hujanku ‘kan menemukannya.

Lalu aku kembali berjalan menuju arah lain. Seseorang yang kucintai, aku ingin mengunjunginya. Pemakaman keluarga sedang berlangsung di sudut kananku, begitu aku memasuki tempat pemakaman ini. Aku mengerti, mereka berduka cita, kehilangan seorang anggota keluarga merupakan salah satu hal terberat bagi mereka.

Aku terus melangkah menuju sebuah makam, yang beberapa bulan lalu terisi oleh jasad ibuku. Di sinilah ibuku sekarang, aku terus memandangi nisannya. Nama yang menorehkan kesan terdalam dalam hidupku, waktuku seluruhnya hanya untuknya, hanya kepedihan yang ditinggalkannya untukku. Elaine..

Tak perlu berkata apa pun pada ibuku, dirinya mengenal lebih diriku. Dialah yang melangkah terlebih dahulu. Aku tertinggal, dan aku akan pergi lebih menjauh.

Lalu, inilah terakhir kali aku akan berada di sini. Saat aku melangkah, aku akan semakin jauh. Dan musim berganti di lain tempat. Menyuguhkan kisah baru untuk mengenang.

Seseorang menggenggam sebuah kertas, entah itu apa—sebelumnya tidak diketahuinya. Di depan toko aksesoris, dan terabaikan di atas kursi.

Awalnya aku sakit, begitu melihat namanya tertulis di atas nisan. Aku menyalahkan segalanya yang membuatnya pergi. Salah satunya hujan terakhir yang dihadapinya, meninggalkan sebuah payung yang terakhir dibawanya. Hingga aku harus berhadapan dengan hujan yang merenggut itu, membencinya. Tak akan mengelak sebuah kenyataan, bahwa dirinya memang harus pergi. Begitu kata malaikat hujanku. Dirinya tak ingin terlupakan karena itu payung kuningnya kembali mencoba untuk mengingatkan. Embun hujan menjadi sebuah tanda bahwa dirinya juga pernah menyambut hujan. Bahwa hingga tetes hujan terakhir pun dirinya masih ingin terkenang. Sebuah kisah hujan semusim lalu terdengar olehku, menyadarkanku bahwa seorang akan pergi lalu menungguku. Karena itu aku mengakhiri kisah sepenggal kenangan tentang hujan dan cinta. Karena penyesalan dan kekecewaan selalu hadir di akhir. Untuk itu, semua ini harus kuakhiri.

Begitu akhirnya, aku pergi sekarang. Bertemu seseorang yang akan selalu ada di sisiku, walau entah kapan—dirinya juga harus pergi meninggalkanku. Di akhir sketsa ini, biarlah semua menjadi tanda tanya.

©FYP

Sketsa Rindu untuk HujanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang