Yaksa berjalan memasuki area pemakaman dengan malas, bagaimana tidak? Tempat ini adalah tempat ke-empat yang ia kunjungi bersama Mamanya yang baru tiba di Bandung kemarin.
"Ma, Yaksa tunggu di mobil. Jangan lama-lama!" Ia berjalan meninggalkan Mamanya yang baru saja berjongkok di sebelah salah satu makam.
Yaksa terus berjalan sebelum pandangannya tertuju pada seorang gadis. Ia berhenti melangkah, meneliti sekilas. Mata hitam pekat meneteskan air mata, bahu bergetar, dan bibir tipis terisak.
"Gadis malang" tetap meneliti, hingga gadis itu mencium nisan kemudian beranjak yang membuat Yaksa bergegas menuju mobilnya.
***
"Ma, kita mau kemana lagi sih? Yaksa tuh udah capek tau. Kenapa Mama gak dianter Pak Didit aja sih?"
"Kamu tuh harus nurut sama Mama Sa, enak aja Mama dianter Pak Didit sementara kamu masih sanggup temenin Mama." Yaksa menghela nafas, tak mungkin Mamanya mau mengalah.
"Ayo turun! Mama mau ketemu teman Mama." Yaksa hanya menurut tanpa berniat untuk mengomentari perintah Mamanya.
Yaksa mengekori langkah Mamanya memasuki sebuah toko kue yang bisa dibilang cukup besar. Berjalan melewati lemari yang memajang beberapa kue, melewati antrian beberapa pengunjung di depan meja kasir, kemudian berjalan menuju lantai dua toko tersebut.
"Ini itu toko kue sahabat Mama. Bagus banget tau Sa. Pelanggannya dari remaja labil sampai pebisnis elit loh. Satu toko, tapi bisa dua suasana. Mau nyantai bisa, mau serius juga bisa. Sahabat Mama tuh emang keren deh pokoknya. Kalau kamu mau ngumpul sama teman-teman kamu juga bisa di sini, mau yang santai yah di lantai satu aja. Mau bahas soal serius bisa pesan ruangan di lantai dua. Pokoknya top deh." Yaksa menyimak, menilai seberapa menarik tempat ini untuk ia kunjungi meski tidak bersama Mamanya.
Keduanya memasuki sebuah ruangan dan disambut hangat oleh seorang wanita paruh baya. Tak lupa pelukan disertai cipika-cipiki persis sahabat lama saling melepas rindu. Yaksa tersenyum, menjabat tangan sahabat Mamanya, Tante Kinar. Setelahnya, kedua sahabat lama itu saling bertukar cerita, sementara Yaksa hanya duduk menikmati kue dan minuman, sungguh merasa terjebak.
"Kalau bosan, di lantai satu ada perpustakaan mini. Di sana ada beberapa buku kedokteran loh." Saran Tante Kinar setelah menyadari Yaksa yang terabaikan sejak keduanya asik bercerita.
"Ya udah Tante. Ma, aku tunggu di bawah ya." Yaksa berjalan keluar ruangan setelah mendapat anggukan dari Mamanya.
Di lantai satu terlihat ramai, tapi ia bingung dimana letak perpustakaan mini yang dimaksud Tante Kinar si pemilik toko.
"Ada yang bisa saya bantu Mas?" tanya seorang gadis yang sepertinya menyadari kebingungan Yaksa.
"Perpustakaan mini dimana Mba?"
"Di sana Mas." Gadis tadi menunjuk sebuah pintu di bawah tangga yang tadi dilalui menuju lantai dua. Toko kue yang cukup menarik.
"Oke, makasih Mba" Yaksa memasuki perpustakaan mini tersebut kemudian cukup fokus mencari sebuah buku dan duduk di sebuah kursi untuk membacanya.
***
Novia masih sibuk dengan pilihan kue untuk perayaan ulang tahunnya. Sepertinya ia membutuhkan seseorang yang memahaminya untuk membantu menentukan pilihan. Melirik ke jam tangannya, sudah hampir masuk waktu makan siang. Seseorang itu akan datang tepat waktu seperti biasa. Beberapa menit setelahnya, seorang gadis telah duduk di kursi berhadapan dengannya dan memberikan sebuah paper bag berukuran cukup besar. Tanpa membuang waktu, Novia segera membukanya. Melihat isinya, Novia tersenyum sumringah kemudian menarik gadis tadi memasuki ruangan di bawah tangga, ruangan paling menyenangkan dan aman untuk keduanya berteriak kegirangan atau terbahak-bahak menertawakan sesuatu. Tanpa memerhatikan sekitar, Novia melompat girang kemudian memeluknya, meneriakkan ucapan terima kasih berkali-kali, cukup gaduh.
YOU ARE READING
Segara Rasa
Teen Fiction"Hal yang terbaik adalah kamu masih memiliki perasaan." "Kembalilah." "Dan hal terburuk adalah kamu tidak memikirkan perasaan orang lain." "Dan yang membuatmu menderita adalah lebih memikirkan perasaan orang lain dibanding perasaanmu sendiri." Bagai...
