"Aku mencintaimu... Aku mencintaimu... Sangat mencintaimu," sangat pelan namun masih terdengar olehku, ia memelukku begitu erat seperti tak ingin melepaskanku.
Hujan deras dan angin yang berhembus menusuk tulang menjadi hangat karena pelukannya.
"Aku juga mencintaimu," aku tersenyum bahagia dan ya aku menangis, menangis karena bahagia.
"Kita bertemu di surga ya," kalimat terakhir yang membuat tubuhku menegang, apa maksudnya? Kenapa itu seperti kalimat perpisahan? Kisah ini baru saja dimulai.
Pelukan itu menjadi berat, tangan yang tadinya erat memelukku kini mulai melemah, kepala yang tadinya berdiri tegak kini tersandar dibahuku.
Karena tak kuat menopang beratnya, aku terduduk begitu pula dengannya, dengan dia yang telah menutup mata untuk selamanya.
"Hey apa kau hanya mengkelabuiku?" aku menepuk pipinya berharap dia hanya berpura-pura.
"Bangunlah!" mataku mulai memanas, pandanganku mulai kabur terhalang air mata, dibalik deras hujan aku menangis pilu.
"Alan ayo bangun! Buktikan semua janjimu...buktikan kau tidak akan meninggalkanku," air mata tak hentinya membasahi pipiku, sulit rasanya untuk berbicara, semua kata-kata yang ku lontarkan terseka oleh tangisan.
"Buktikan bahwa kau mencintaiku," Aku memeluk tubuh dinginnya, tubuh hangatnya kini telah dingin. Telapak tangan yang dulu menggenggam tanganku dan bibir yang dulu selalu memberikan senyum manisnya kini telah pucat.
Disini, ditempat ini, kisah cintaku berakhir, kisah cinta yang belum menyentuh titik akhir, kisah cinta yang belum terjalani, kisah cinta yang telah berakhir disaat semuanya baru saja dimulai.
"Tunggu aku di surga," hanya itu yang dapat keluar dari mulutku selebihnya hanya isakan tangisku yang tiada henti.
Terima kasih semesta, karena kau telah menjadi saksi bahwa aku sangat mencintainya. Mencintai pria yang kini berada didekapanku.
"I love you Alan."
-END
Lael menutup novel yang telah ia baca tuntas sambil menyeka air mata yang sedari tadi membanjiri pipinya.
"Kau selalu membuatku jatuh cinta dengan kisah yang kau tulis," Lael terkekeh. Ya, Lael sedang membaca novel yang baru saja dirilis oleh penulis favoritnya, Lael adalah salah satu penggemar penulis yang memiliki nama pena Mistirios itu.
Semua novel terbitannya telah Lael baca. Namun sayang, sampai sekarang ia belum bertemu dengan sang penulis novel-novel favoritnya ini.
Setau Lael, Penulis yang bernama Mistirios itu tidak pernah datang ke meet and greet maupun launching novel-novelnya dan hanya diwakilkan oleh tangan kanannya. Sampai sekarang semua orang tidak tau dia siapa, wanita atau priakah saja orang-orang tidak tau. Namun, dari namanya saja Lael yakin dia adalah pria. Lael berharap bisa menikah dengan pria seperti Mistirios. Dia sangat romantis, terbukti dari novel-novel yang telah Lael baca.
Lael bangun dari duduknya saat melihat pria yang menjulang tinggi berjalan keluar kamar mereka, "Kamu mau kemana?"
Tak ada jawaban, Lael hanya diabaikan seperti tak ada orang disana. Tak mau diabaikan saja, Lael mengejar pria yang berstatus suaminya sejak 2 hari yang lalu.
"Aku buatin sarapan ya," ucap Lael dan pria itu menatap Lael dengan tatapan membunuhnya, "Nggak usah sok perhatian."
1 kalimat, 4 kata.
Singkat, padat dan menyakitkan.
Pria itu kembali melanjutkan langkahnya, tak peduli dengan perasaan Lael yang disakitinya.
Lael tak lagi mengejarnya, ia membiarkan pria itu pergi, "Kapan kamu mau menerima aku?" gumam Lael menundukkan kepalanya membiarkan air matanya luruh begitu saja.
"Ck cengeng," suara bariton itu, membuat Lael mengangkat kepala dan dengan cepat menghapus air matanya.
"Kamu belum pergi?"
-
-
-
Welcome to the world of my imagination🌐
Next part
Update sekali seminggu, tunggu ya!
Vote and comment ya
KAMU SEDANG MEMBACA
Eik
Teen FictionApa jadinya jika kau menikah dengan seorang yang selama ini kau harapkan? Menikah dengan idola misalnya? Seperti impian seorang gadis bernama Lael Lyvonne yang ingin menikah dengan pria penulis sajak romansa favoritnya. Namun sayang, impiannya na'as...
