Jika kalian tertarik dengan cerita ini, follow dulu ya!
[16+] Untuk remaja!
[Romance-Islami]
|Blurb|
Apa yang terlintas di benak kalian saat mendengar kata menikah muda? Apakah itu menjadi satu hal yang biasa? By Accident kah?
Menikah muda di umur...
"O Allah, akankah takdirku begitu rumit? Apakah sama dengan cerita dongeng? Ku harap menjadi Cinderella yang bertemu Pangeran berkuda putih "
¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.
MENIKAH muda?
Aku menggelengkan kepalaku berkali-kali mencoba menepis pertanyaan bodoh itu yang selalu bermain-main di otakku, seperti sebuah musik dengan nada-nada yang salah. Aku benar-benar tak habis pikir dengan jalan pemikiran kedua orang tuaku. Ya Tuhan! Aku masih 18 tahun dengan jiwa kelabilan tingkat tinggi. Mereka berdua memintaku untuk menikah dengan tetanggaku yang sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri. Bagaimana mungkin? Bisa-bisa kami tak pernah bisa jatuh cinta.
Dengan kesal aku mengacak-acak rambutku seperti orang tak waras. Ku lihat wajahku yang memantul di depan cermin, sudah seperti gembel kelas kakap.
"Yang benar aja! Hawa masih 18 tahun! Masa udah disuruh nikah?! Kuliah aja belum!" teriakku seperti orang kesetanan.
Tiba-tiba pintu kamarku terbuka, buru-buru aku memalingkan wajahku dari Umi yang berjalan menghampiriku.
"Menikah itu gak melihat umur, Hawa. Kamu tahu kan? Rasul saja menikahi Aisyah di usia yang masih sangat belia. Umur mereka terpaut jauh. Lagipula, menikah itu menjalankan sunah Rasul," jelas umi sudah duduk di sampingku. Tangannya mengelus rambutku dengan sangat pelan, berharap aku tenang.
"Tapi itu aneh Umi!" demoku padanya, "coba deh liat wajah Hawa." Aku memperlihatkan wajahku yang masam tanpa senyum secuil pun.
"Kenapa?" Umi menatapku dengan heran.
Mataku mengerling dengan malas. Ku tatap wajah umi sambil berkata, "Hawa ini masih bocah Umi... umur Hawa baru aja 18 tahun dua bulan yang lalu. Hawa ini jiwa labil Umi, kalau Hawa nikah sama Kak Halif dengan Hawa yang berjiwa labil tingkat dewa ini, tiba-tiba ada pertengkaran, terus Hawa minta cerai, gimana? Yang ada Hawa jadi janda di usia muda."
"Umi yakin, Halif tak semudah itu untuk menceraikan kamu. Dia sudah dewasa, mempunyai pemikiran yang matang. Umi percaya kalau dia bisa menuntun kamu yang kekanak-kanakan ini menjadi seorang perempuan yang dewasa," sahut Umi dengan sangat yakin menatapku. Perkataannya selalu saja benar.
Aku menghela napas berat, rasanya begitu pasrah jika berdebat dengan umi. Aku selalu dibuat kalah. Tak bisakah aku yang menang dalam perdebatan ini? Ya Tuhan, nasibku bagaimana?
"Umiku yang cantik..." panggilku begitu lembut sambil memasang mata yang berkaca-kaca.
"Kenapa?"
"Umi gak mikirin nasib Hawa nanti di sekolahan? Mau ditaruh mana muka Hawa kalau teman-teman sama para guru tahu, kalau Hawa udah nikah? Mereka pikir Hawa nikah by accident. Yang ada malah timbul fitnah dan paling ngenes, Hawa bisa di DO sama pihak sekolah." Aku memasang wajah super memelas pada umi. Berusaha membuat rencananya dengan abi gagal.