Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Aether: Solitude

18.3K 1.2K 40
                                        

𝐀𝐄𝐓𝐇𝐄𝐑: 𝐒𝐎𝐋𝐈𝐓𝐔𝐃𝐄

– book one –

– book one –

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

kalian bisa search Aether: Solitude di Spotify dengan keyword aetherians

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

kalian bisa search Aether: Solitude di Spotify dengan keyword aetherians

°˖➴⋆✴︎˚。⋆࣪ ִֶָ☾.

MENURUT mereka, aku tidak normal

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

MENURUT mereka, aku tidak normal.

Sebagai makhluk Aether yang sudah menginjak usia enam belas tahun, mestinya aku sudah mengetahui wujud lain diriku atau bakat sihir yang kumiliki.

Begini. Kami semua, makhluk Aether, terbagi dalam klasifikasi tertentu. Apakah kau ditakdirkan menjadi seorang Pengubah Wujud, seorang Penyihir, atau malah keduanya. Di dunia kami, tidak sedikit makhluk Aether yang memiliki kemampuan ganda. Mereka biasa disebut Multis-Viribus. Aether paling kuat. Sosok-sosok yang kerap mendominasi Aether lainnya—yang berkemampuan tunggal.

Namun, hal itu tidak berlaku kepadaku.

Seperti yang kusinggung-singgung sebelumnya—bahwa aku dianggap tidak normal—ialah lantaran aku tidak tergolong ke dalam klasifikasi tersebut-baik di golongan Pengubah Wujud atau Penyihir. Aku tidak berkemampuan tunggal, tidak juga berkemampuan ganda.

Aku ... tidak teridentifikasi.

Situasi janggal yang kualami secara tidak langsung semakin diperkuat dengan fakta bahwa terhitung genap dua pekan semenjak ulang tahunku yang ke-16, aku tak kunjung mengetahui jati diriku yang sebenarnya—benar-benar tidak ada perubahan, sekecil apapun itu.

Mula-mula aku memutuskan untuk menunggu. Berpikir positif. Kendati demikian, aku tidak bisa menampik perasaan risau yang terus menghantui benakku. Terlebih Mom, yang tak henti-hentinya berupaya keras menguak apa yang terjadi padaku; mulai dari menghabiskan setumpuk buku mengenai sejarah kehidupan Aether, menghubungi beberapa temannya—yang ujung-ujungnya selalu berpapasan dengan jalan buntu.

Semua niscaya akan baik-baik saja, aku ingat mengutip sederet kalimat itu di hadapan Mom. Masalah yang kuhadapi memang bisa dikatakan jauh dari kata sepele, tapi memangnya apa yang bisa kulakukan?

"Kita sama-sama tahu semua tidak akan baik-baik saja, Jade," kata Mom selagi mengusap wajahnya yang kelihatan lebih tua dibanding biasanya.

"Barangkali terjadi suatu kesalahan-keterlambatan," ujarku, sekalipun tahu yang kulakukan tak ubahnya membohongi diri sendiri.

"Jade, Penguasa Tertinggi tak pernah melakukan kesalahan dan tak akan pernah terlambat." Mom terus menyanggah argumenku. "Semua Aether yang mana saja seharusnya mendapatkan berkah pertama mereka begitu usianya menginjak enam belas tahun. Dan sesuai peraturan yang ditetapkan oleh Dewan, kau akan dikirim ke Akademi Arcane untuk mendalami kesaktianmu."

Aku refleks terdiam begitu kusadari arah pembicaraan Mom sudah merujuk pada Akademi Arcane–sekolah sihir ternama yang didirikan untuk melatih kaum Aether seusiaku. Setiap Aether yang menginjak usia enam belas diwajibkan menempuh pendidikan di sana dalam kurun waktu tiga tahun. Bukan berarti kami bisa sekonyong-konyong bersekolah di sana. Ada segelintir syarat yang mesti dipenuhi.

Salah satunya adalah memiliki kesaktian sebagaimana makhluk Aether diciptakan.

"Masih ada ujian lain, bukan?" tanyaku, penuh harap. "Pihak Arcane pasti tidak berfokus pada kesaktian saja, 'kan?"

Mom memandangku sedih. "Andai semudah itu. Mom tak bermaksud mematahkan keyakinanmu, Jade. Hanya saja ... ujian lain yang kaumaksud dilaksanakan tak lebih untuk formalitas saja. Pihak Arcane ... lebih mengutamakan kesaktian—"

"Mereka pasti menerimaku," potongku. "Sekalipun aku ini tidak ... normal, aku tetaplah seorang Aether," aku menarik napas dalam-dalam, "dan aku lahir dari seorang Aether murni."

Tatapan Mom berubah menerawang jauh. "Mom tidak tahu pasti, Jade." Kepalanya menggeleng lemah. "Tapi ... mari berharap saja pihak Arcane mau menerimamu dengan tangan terbuka—terlepas dari keadaanmu yang sekarang."

"Tentu saja, Mom," ujarku penuh keyakinan. "Bagaimana pun juga, pada akhirnya mereka harus, 'kan?"[]

Tbc.

.
.
.

a.n
hii, peeps! Bertemu lagi dengan Blu di cerita yang berbeda! Ah, akhirnya Blu bisa menulis cerita di luar werewolfㅡmeskipun masih satu universe, a.k.a. shapeshifter.

Anyway, this story might be a dark-fantasy story dan alurnya terbilang "agak" lambat. Dan tentu saja, di sini bakal ada banyak teka-teki yang berkeliaran di setiap chapternya hehe :3 jadi ... yuk main tebak-tebakan bareng!

Terakhir, jika kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa vote + komentarnya, yaa! simak terus cerita ini sampai tamat! :-)

Terakhir, jika kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa vote + komentarnya, yaa! simak terus cerita ini sampai tamat! :-)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aether: SolitudeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang