4# Tanda - tanda Kebangkitan Part 1

33 2 0

"Oe oe.. itu kan anak 2C yang selalu sendirian"
Tiba tiba saja ada segerombolan berandalan sekolah, mendekatiku. Salah seorang dari mereka merangkulku sinis dan menarik ke pojok lapangan basket..
Bayangan pengalaman buruk masa lalu pun terlintas dikepalaku.

Ada 7 orang mengerumuniku, seakan menghalangiku untuk lari..

" Oe.. perkenalkan, aku SobarUdin... orang orang memanggilku Sobar.. hahaha, orang yang dikenal Sabar dalam menghajar orang.. terutama sampah sepertimu "

Suasananya sungguh sangat membuatku muak.. aku tak punya masalah dengan mereka, tapi mereka mencoba membuat masalah denganku.
7 vs 1 memang tak pernah adil.

" Kalau kau mau damai, sudah serahkan semua Uang sakumu!! Atau kau akan kuhabisi disini "

Mendengar perkataan frontal Sobar seperti itu, anak anak berandal lain tertawa merendahkanku, mata mereka sinis menatapku.

Suasana yang begitu sepi, tak ada satupun orang yang dapat ku mintai pertolongan, ya karena ini belum waktunya jam istirahat.

"Cih!"

Aku pun muak dengan situasi seperti ini, situasi yang sama terulang.. kembali..

" Hey hey... anak ini coba buat masalah dengan kita... maksud mu meludah apa?? Ha?? Kau berani melawan kita, kau tak takut kita habisi ?? "

Dengan tangan yang meremas pundakku, sobar melayangkan pukulan tepat mengenai pipiku,
Akupun langsung tersungkur, badanku terlempar ke dinding pojok lapangan basket.. Menandakan pukulan itu sangat keras.

" Hoy.. kau berani sekali dengan bos sobar.. tinggal kasih setoran aja susah amat !!! "

Salah seorang dari mereka itu pun menendangku, seakan akan aku adalah bola yang sedang dipermainkan.

" haha.. kau itu seperti rusa tanpa kawanan.. yang siap kita santap kapan saja !! Camkan itu!! "

" haha betul, apalagi loe rusa berani meludahi sang macan.. bisa bisa loe tamat sekarang "

Satu persatu merekapun mengataiku seakan akan aku bahan bully'an empuk yang tak dapat melawan.

Kenapa bahkan di sekolah yang cukup terpandang inipun, masih ada orang orang seperti mereka, seakan hal tersebut sudah menjadi tradisi, sepertinya memang terobsesi dengan dunianya, atau karna kebanyakan nonton sinetron brandal.. atau inikah cerminan dunia..

Posisiku saat ini menjadi sangat tidak menguntungkan, sial.. sial.. sial kenapa hal ini terjadi lagi.

Dengan tanganku erat memegang pipiku yang terasa sangat sakit karna pukulan keras sobar, tubuhkupun jadi terasa sangat berat untuk berdiri..

" Ayo jagoan berdiri!!"
Sobar menarik erat seragamku, memaksaku berdiri, sampai sampai leherku sakit, Memar biru dipipiku seakan tidak diperdulikannya.

Ia mendekatkan wajahnya dengan wajahku, seakan menjadi sangat murka.

Aku pun juga demikian, aku tidak tahan lagi dengan tekanan emosi tersebut.

" Cih!!"

Di puncak kebencianku, Tak terasa ludahku keluar tepat mengenai wajah sobar..

Seketika itu pula, sobar melemparkanku keras ke pojok tembok, wajahku sempat mengenai jaring jaring kawat diatasnya.

Badannya yang besar kekar, tidak terlalu gemuk, tangan yang berisi dan kaki yang kokoh, topi yang diputar ke samping, dengan kalung karet yang melekat di lehernya, seakan menjadi kode bahwa dia itu kuat dan brandal.

Kali ini aku benar benar sudah tak berdaya.. pandanganku mulai kabur, dan seketika anak buahnyapun menyerangku secara frontal.

Ada jongkok memukul tubuhku dengan kepalan tangannya,
Ada yang bolak balik menendangku yang sudah tersungkur ke lantai.
Sampai sampai percikan darahpun keluar dari bibirku.

Tapi tak dihiraukan oleh mereka, satu kata terlintas dipikiranku... apakah aku akan berakhir disini..

Sepertinya nafsu merekapun takkan terpuaskan sebelum benar benar menghabisiku.

Dengan pandangan yang mulai kosong, mataku memandang si sobar yang berdiri sepertinya menyiapkan pukuran pemungkasnya untuk menghabisiku..

Sialan si sobar.. kebencianku mulai memuncak, kupandangi si sobar dengan kebencian yang telah meluap dengan mataku yang mulai kabur.. badanku sudah berat untuk digerakkan, mereka terus memukuliku, pikirankupun seakan sudah sangan menghitam.. gelap, aku kehilangan akal..

" Sialan kau sobar.. Kalau kau sendirian, tak kan ada apa apanya.. kau hanya seperti Anjing yang berlagak kalau punya kawanan, kalau sendirian, kau pun takut dengan batu kecil dan lari terbirit birit "

Hah.. sepertinya aku sedikit puas, ketika kata kata yang sudah sangat kuusahakan itupun berhasil keluar dari mulutku..

Setidaknya aku berhasil tidak mengulangi kesalahanku di masa lampau, yaitu memberi orang seperti mereka uang sakuku..

Mungkin itu sudah sangat cukup bagiku..

Aku sudah tidak kuat lagi, heh... mereka tak cukup puas, terus menyerangku memukul, menendang ya.. berakhir disini ya.. akhir dari seorang abdi hermanto..
Kata kata itupun terlintas dipikaranku.. Suara merekapun mulai samar..

Cahayapun sudah tertelan kegelapan..



*************
Shira Kayato
Instagram @shirakayato
Blog Karya Pribadi http://shirakayato.rahmancyber.net
Twitter @shirakayato

Kebohongan Nase Akari_Baca cerita ini secara GRATIS!