Andreas mengambil kunci motornya kasar lalu berlari kearah parkiran sekolah dan berjalan menuju jalan yang tadi Luna sebutkan. Ia memang tau bahwa disitu rawan sekali perampokan dan pemerkosaan, apakah Luna? Ah tidak! Tidak mungkin itu terjadi! Bodoh sekali Andreas jika sampai memikirkan hal itu.
********
Luna membuka matanya perlahan dan mengerjapkan matanya berkali-kali. Kepalanya terasa berat dan sangat pening. Dia kenapa? Luna melihat sekelilingnya dan terus memperhatikan secara seksama. Ia meyakini bahwa sekarang ia berada disebuah rumah tak berpenghuni dan terlebih lagi ia yakin ini jauh dari keramaian kota.
"Gelap sekali" gunamnya. Ia merasakan sakit didaerah pergelangan tangan dan kakinya, astaga! Kenapa ia tidak sadar kalau sekarang ia sedang disekap? Terlebih lagi tangan dan kakinya sedang diikat dengan tali yang sangat kencang dan mulut yang disumpel dengan kain yang ia yakini bukan kain bersih!.
Siapa yang melakukan ini semua? Apa salahnya? Apa mungkin yang melakukan ini adalah orang yang pernah disakiti hatinya oleh Luna dan ingin memilikinya seperti cerita di FF wattpad yang sering ia baca? Ah tidak mungkin! Ia membuang jauh-jauh fikiran melenceng itu dan berharap tidak akan terjadi apa-apa padanya. Sangat berharap.
Ia mendengar suara langkah seseorang dari luar dan sedikit suara pintu yang terbuka. Ia yakin sebentar lagi akan ada yang masuk, dan siapa dia? Entahlah. Luna berpura-pura tertidur lagi. Anggap saja ia belum sadar dan semoga saat ia bangun ini adalah mimpi.
Seorang lelaki berumur sekitar 25 tahunan perlahan melangkah mendekati Luna.
"Benar-benar gadis yang cantik. Kalau saja bos tidak menyuruhku untuk menyakitimu aku akan dengan senang hati membawamu kehotel untum bersenang-senang terlebih dahulu," gunamnya saat menatap lekat wajah Luna yang benar-benar sangat cantik ditambah dengan tubuhnya yang kecil dan kulitnya yang mulus yang selalu menjadi lawan jenisnya terpesona olehnya.
Luna merasa tertohok saat mendengar bahwa seseorang yang ia yakini pria yang bersamanya saat ini bukan pria baik. Terlebih lagi ia takut jika masa depannya akan hancur disini karena pria itu.
Luna merasakan pipinya disentuh oh tangan berat dan ia langsung membuka matanya perlahan dan melihat siapa orang yang berani menyentuhnya? Lancang sekali!
"Jadi, ternyata dari tadi kau hanya menipuku dengan berpura-pura tidur gadis manis?" Tanya pria itu dengan mata penuh selidiknya.
Luna menggerakkan kepalanya sehingga tidak lagi tersentuh oleh tangan pria itu dan menatapnya penuh amarah.
"Ckckck! Jadi kau marah? Ingat disini hanya kau dan aku. Jadi, jangan macam-macam okay?!" Ucapnya lebih tepat dibilang sebagai ancaman.
Luna menghembus nafasnya kasar seakan-akan sangat tidak mau membenarkan apa yang dikatakan pria itu. Tapi memang benar! Merema hanya berdua disini, dan jika aku macam-macam? Ahhh aku tidak tau akan berakhir seperti apa aku jika memang begitu.
"Kau lapar bukan? Akan kubawakan makanan dan aku harap kau tidak akan kabur, karena itu akan sangat sia-sia!" Ucapnya disertai seringai yang sangat membuatku ingin melemparkan pisau ke wajahnya.
Luna menarik nafas lega saat pria itu berjalan menjauh darinya dan entah kemana ia akan pergi, Luna sama sekali tidak peduli.
**********
Andreas sudah beberapa kali mengelilingi pusat ibukota ini. Ia selalu berharap menemukan Luna ditempat yang sering ia kunjungi bersamanya. Walau sebenarnya ia tau Luna tidak mungkin sedang berada ditempat yang nyaman sampai ia teledor menjatuhkan handphone didepan mobilnya dan tentu saja disana ada kunci mobilnya pula. "Shit! Kemana dia? Kenapa dia malah bikin gue panik sih?" Andreas masih setia mengelilingi ibu kota dengan motor merah kesayangannya.
YOU ARE READING
C I N (T) A (COMPLETE)
Teen Fiction"Kenapa sih lo gak pindah aja ke agama gue Lun?" Tanya Andreas serius. "Kalo, gue pindah agama ke agama lo, yakin lo masih mau nerima gue?" Balas Luna dengan senyum manisnya yang tidak terkesan dibuat-buat. "Maksud lo?" Andreas menaikkan alis matany...
^Masalah^
Start from the beginning
