Tertangkap

1.4K 213 6

Aku berlari secepat mungkin menuju kota Zarakh dan kini aku mulai memasuki hutan. Ditengah perjalanan aku masih memikirkan bagaimana caranya melakukan Telepati. Peri Floss di saku jubahku melesat dan melayang di atas kepalaku. Ia terbang mengikutiku kemanapun aku berlari. Pada awalnya aku tidak menyangka bahwa jarak kota Harazh dan Zarakh akan sejauh ini. Tiba-tiba sebuah kastil tersembunyi berkelebat dalam kepalaku begitu cepat dan berulang kali. Kastil itu tampak megah namun tidak semegah istana di Zarakh mauapun Harazh yang pernah kumasuki. Kastil yang sederhana dan nyaman dengan cahaya matahari yang membuatnya tampak hangat.

"Kastil Occultum," gumamku tanpa sadar.

"Kastil Occultum." Peri Flos membeo.

"Aku seperti pernah melihat kastil itu sebelumnya." Ucapku bingung.

"Mungkin kau memang pernah kesana," sahutnya.

Aku mengedarkan pandanganku kesekeliling hutan sambil meraba-raba udara. Jika tanganku tampak menghilang berarti aku sudah di tepi lingkaran Occultum. Entah apa yang aku pikirkan saat ini, yang ingin aku lakukan hanyalah memasuki kastil itu dan bertemu penghuninya.

"Aku yakin kastil itu benar-benar ada disekitar hutan ini. Seharusnya tidak jauh dari sini."

"Kau benar-benar yakin? Biar ku bantu."

Peri Floss melesat ke atas dan menggantung di udara dengan sayap birunya yang terbentang lebar. Aura ungu bercampur dengan warna sayapnya membuat udara di sekitarnya berputar dengan warna warni.

"Tempat itu—sangat dekat denganmu. Ikuti aku!"

Peri Floss melesat sementara aku mengikuti arah terbangnya. Ternyata memang tidak terlalu jauh dari tempatku tadi dan kini aku sudah berdiri di sebuah celah antara dua pohon yang berdiri sejajar.

"Coba kau sentuh."

Aku mengulurkan tanganku dan meraba udara sambil melangkah maju perlahan hingga telapak tanganku tampak menghilang. Aku menarik kembali telapak tanganku dan dalam sekejap kembali utuh lalu aku mengulurkan kembali tanganku dan telapak tanganku kembali menghilang.

"Kita masuk sekarang."

Peri Floss langsung hinggap di bahuku sambil mencengkram kuat sejumput rambutku untuk berpegangan. Aku melompat dan akhirnya aku sudah berada di lingkaran Occultum. Aku mengamati keadaan sekitarku yang tampak hening. Tapi ada yang tidak biasa dengan kastil ini, seharusnya ada sebuah sinar berwana kuning layaknya Matahari yang sedang menyinari kastil ini, tapi pemandangan di kastil ini tampak sebaliknya. Begitu gelap dan sedikit menyeramkan layaknya kastil yang sudah lama tak berpenghuni.

Aku memberanikan diri untuk masuk kedalamnya dengan waspada. Didalam memang benar-benar gelap hingga aku harus mengeluarkan sedikit Ulqiku untuk menerangi tempat ini. Kastil ini benar-benar kosong, tapi segala perlengkapannya masih tersusun rapi sama seperti saat terakhir aku berkunjung ketempat ini namun udara disini begitu dingin, tidak sehangat dulu.

Aku mengelilingi seluruh ruangan yang benar-benar sepi sama sekali, hanya suara langkah kakiku yang memecah kesunyian. Aku terduduk di meja makan di mana aku pernah mendudukinya dan makan bersama keluarga Alex yang penuh dengan kehangatan. Aku ingin sekali waktu kembali berputar agar aku bisa merasakan kehadiran mereka.

Aku beranjak dari tempat dudukku dan mulai memasuki ruangan di mana dulu ruangan ini pernah menjadi kamarku. Kamar yang benar-benar menyenangkan. Aku melirik satu pintu yang sudah kutebak bahwa itu adalah kamar mandi. Aku membuka pintu itu perlahan dan sebuah kolam berukuran sedang sudah berada tepat di hadapanku dengan pohon kecil yang sudah berdiri di sampingnya dan mengeluarkan aroma yang menenangkan.

Sebuah gambaran kembali berkelebat cepat dalam kepalaku. Aku mendekat beberapa langkah dan terdiam menatap air yang tampak gelap namun jernih. Waktu itu aku sedang berendam dan Alex datang lalu kami berciuman. Begitu hangat sampai aku ingin merasakannya lagi.

Loizh III : ReinkarnasiBaca cerita ini secara GRATIS!