Chapter 4

11.4K 1K 38
                                    

Aku mengenakan kemeja saat Axcel baru keluar dari kamar mandi seraya mengibaskan rambutnya yang basah. Pagi ini tenagaku seperti terkuras habis. Kulihat diriku yang tampak mengerikan dengan kantung mata hitam seperti panda. Ini lah efek samping yang terjadi saat aku kurang tidur. Semalam aku tidur dini hari dan itu belum cukup untuk mengobati kantukku.

Mandi pagi hanya memberi efek kesegaran beberapa persen saja. Itu pun kantukku hilang hanya saat aku menyentuh air dan setelahnya, mataku kembali sayu dan terasa berat. Kulihat Axcel malah sebaliknya, nampak bugar dan cerah. Apa dia jarang tidur sampai terbiasa?

Aku menguap untuk kesekian kali. Rasanya aku ingin membanting diri ke tempat tidur dan menarik selimut lagi lalu terlelap. Namun, sayangnya waktu terus berjalan. Seandainya saja aku bisa tidur beberapa jam lagi.

“Tidak ada toleransi membolos untuk karyawan baru,” ucap Axcel membaca pikiranku.

“Axcel, aku benar-benar butuh tidur,” pintaku.

“Kau sudah tidur semalaman, itu pun sudah ditambah dengan waktu pingsanmu. Masih kurang?”

Aku mengangguk lesu.

“Tidak. Pokoknya tidak. Kau harus bekerja, Ririn. Gajimu akan dipotong jika kau bolos.”
“Lima menit saja.”

“Tidak”.

“Baiklah, bagaimana kalau 15 menit?” candaku.

“Lima menit saja kau tidak diizinkan apa lagi 15 menit.”

“Ya sudah, 30 menit kalau begitu.”

Axcel menghela napas dan melipat tangan. “Ririn!”

“Ayolah, Axcel. Aku mohon beri aku waktu tambahan untuk tidur. Satu jam saja.”

“Apa? Satu jam? Kalau aku tahu kau akan seperti ini, aku tidak akan mengizinkanmu tidur di rumahku,” jawabnya dingin.

“Kenapa—“

“Kedai dibuka sepuluh menit lagi. Jika kau keluar dari kamar satu jam ke depan, mereka akan melihat kemunculanmu dari bawah meja.” Axcel menatapku lekat. “Aku tidak ingin mereka tahu bahwa kedai ini adalah rumahku. Jika mereka tahu terutama Adelia, mungkin kedai ini akan ditutup. Mereka akan takut menginjakan kaki di tempat ini karena rumah seseorang yang mereka anggap penyihir.”

Aku beranjak dari tempatku dan melangkah menuju ke wastafel. “Indigo bukan penyihir. Kenapa kau harus takut?”

Axcel mengikat rambutnya menjadi ekor kuda seperti biasa. “Itu memang benar. Tapi kenyatannya tidak sesederhana yang kau pikirkan.”

Aku membasuh wajah untuk ke sekian kali agar kantuknya berkurang. Kemudian mengelap dengan handuk dan kembali memakai bedak tipis di wajah.

“Pagi ini kau mau sarapan apa?” tanyaku sambil memakai pita kecil untuk menghalangi poni yang jatuh ke dahi.

“Aku tidak biasa dengan sarapan pagi.”

Aku menoleh seketika, refleks menatap perutnya yang memang tampak mengempis dan selalu ramping.

“Kau sehari makan berapa kali?” tanyaku sambil memperhatikan Axcel yang sedang merapikan pakaiannya.

“Sehari sekali cukup.” Axcel balas menatapku. “Makan sehari sekali tidak akan membuatku mati.”

Lagi-lagi Axcel mambaca pikiranku.
“Bukan begitu. Kalau makanmu tidak tertatur, kau bisa sakit.”

“Buktinya dari kecil sampai sekarang aku tidak pernah flu.”

“Apa kau terbiasa hidup seperti itu?”

“Kau tau? Terlalu banyak makan akan membuat pikiranmu tidak jernih.”

Loizh III : ReinkarnasiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang