Chapter 10

9.1K 900 70
                                    

“Matilah kau di tanganku.”

Aku memejamkan mata pasrah. Benar saja, sesuatu telah menembus tepat bagian ulu hati dengan menyakitkan. Terasa membakar saat ia menghujamkannya semakin dalam.
L Aku memekik pelan menahan nyeri dan pedih. Energiku terkuras seketika dan aku terkulai lemas. Rasanya ingin menampar diriku sendiri, berharap terbangun dari mimpi buruk ini.

Aku membukan mata perlahan, menatap Axcel dengan pandangan yang kabur. Aku tidak melihat ekspresi apapun di wajahnya, hanya kebencian yang terpancaran dari matanya.

Axcel mencabutkembali benda yang menghujam tubuhku. Seketika aku mengejang lalu tersungkur di tanah sambil memegang luka, sementara Axcel mulai beranjak pergi tanpa mengatakan apa pun.

“Axcel,” lirihku.

Suasana menjadi hening seketika. Hanya aku seorang diri yang tergeletak tak berdaya di antara jajaran pohon yang menjulang tinggi. Aku menatap langit temaram di atas dengan hampa seiring dengan matinya perasaanku, yang tertinggal hanya rasa sakit yang semakin mejalar. Aku mulai kedinginan—sendirian di tempat ini.

Aku belum kehilangan kesadaran sepenuhnya ketika ada seseorang yang memangku tubuhku. Ia mendekap erat dan membenamkan wajahnya di leherku. Ada sesuatu yang sedingin air hujan menetes di antara wajahnya yang basah air mata. Aku mencoba menggerakan tangan dengan kesadaran yang tersisa dan membuka mata, tapi aku sudah terlalu lemah.

Aku hanya memberi kode dengan sedikit erangan agar ia tahu bahwa aku belum sepenuhnya mati. Bisa dibilang—aku masih dalam kategori sekarat level satu dan sebentar lagi aku mendekati sekarat level dua, maka aku akan lebih lemah dari ini.

Ia mulai mengangkat wajah perlahan dari leherku. “Katakan sesuatu,” bisiknya.

Aku mengenali suara itu meski tak melihat wajahnya, membuatku lega. “Felix.”

“Aku bukan Felix,” jawabnya. “Apa kau tidak mengenaliku?”

Aku sedikit mengerutkan kening. Rasanya aku ingin mengatakan ‘Aku bisa mengenali suaramu, jadi jangan berbohong untuk menakutiku’, tapi aku hanya membuka mulut tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun.

Ia menggenggam jemariku dan menuntun tanganku untuk menyentuh pipinya yang sedingin hujan di malam hari. Tekstur yang keras dan basah membuatku tahu bahwa yang kusentuh adalah Una.

“Si-siapa?” bisiku sekuat tenaga.

“Ini aku, Alex.”

“Alex.”

“Kenapa kau selalu membiarkan dirimu dalam bahaya? Ada apa denganmu? Kau selalu saja seperti ini. Bisakah kau untuk tidak bertindak sembarangan? Kenapa kau—“ Kalimatnya terhenti lalu mebelai wajahku. “Kau bahkan tidak mempedulikan dirimu sendiri dan sekarat untuk ke sekian kalinya.”

“Maaf.” Hanya itu yang bisa kukatakan sebelum kesadaranku semakin menipis.

Alex menempelkan dahinya ke dahiku dengan gemas dan perlahan mengecup bibirku. Kecupannya tak ada bedanya dengan kecupan Felix. “Kali ini aku tidak akan memaafkanmu.”

Alex mengangkat tubuhku, membawaku entah kemana. Namun, aku mencium aroma air dan langsung bisa menebak bahwa ia membawaku ke danau tempat di mana aku mendarat tadi.

“Kali ini aku akan menghukummu.” Alex membaringkanku ke air.

Tubuhku langsung mengendap ke bawah hingga punggungku menempel lumpur di dasar air. Gelap, hanya itu yang bisa kulihat. Namun, disaat yang sama, aku melihat cahaya kecil yang semakin membesar. Cahaya itu menjadi sosok gadis yang mirip denganku, tapi lebih dewasa.

Karin, itulah yang terlintas dalam pikiranku tentang dirinya.

“Kau mengenaliku bukan?” tanyanya.

“Karin.”

Loizh III : ReinkarnasiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang