Perang Yang Lampau

3.1K 393 27

Yoii diatas pic Roy versi cowok kawan.. ^_^ Mungkin yang udah baca Loizh tahu pic versi cewek nya.. XD

Aku mengganti pakaianku mengikuti gambaran yang sebelumnya pernah dipakai dalam ingatan Karin. Jubah bertudung dari pilinan daun yang lembut dan hangat dan didalam jubahku sudah ada kantong besar. Peri Floss yang sedari tadi duduk dibahuku kini beringsut masuk kedalam kantong jubahku yang sepertinya tampak nyaman baginya. Ia menarik sejumput rambutku untuk berpegangan.

Aku tahu kenapa ia memaksaku untuk segera berganti pakaian, ia menyadari langkah Axcel yang sedang menuju kemari. Peri Floss dikantongku sudah membenamkan kepalanya dengan sempurna didalam jubahku saat pintu kamarku terbuka dan menampakan sosok Axcel yang sudah berdiri anggun.

"Ririn, ikut aku."

Aku mengangguk sambil merapatkan jubahku. "Kemana kita?"

"Kita ke taman. Aku yakin kau menyukainya."

Aku melangkah mengikuti Axcel yang tampak berpikir keras. Entah apa yang sedang dipikirkannya, itu membuatku sedikit terganggu melihat dirinya yang terkadang berubah drastis. Aku berharap tidak ada situasi yang berbahaya di kota ini.

"Axcel."

"Iya," sahutnya.

"Sudah berapa lama kau di Bumi?" Sementara hanya itu pertanyaan dalam benakku yang baru keluar.

"Entahlah, sepertinya sudah lama sekali. Mungkin sebelum kau lahir aku sudah ada di Bumi."

Aku termanggut mendengarnya. "Hmm—apa kau tahu kalau ayahmu memiliki saudara?" Meskipun ragu akhirnya pertanyaan itu terlotar.

"Tentu saja aku tahu. Apa ada masalah dengan itu?" Axcel meliriku dengan curiga.

Aku menggeleng cepat. "Tidak, tidak ada masalah sama sekali."

"Kau tidak perlu menyembunyikannya dariku Ririn. Aku sudah tahu semua, Frederick sudah melaporkannya padaku tentang dirimu."

Aku mengerutkan keningku. "Tuan Erick memberitahumu?"

Axcel mengangguk. "Aku tidak tahu bagaimana masa lalumu, tapi aku yakin sekali bahwa ini sangat berkaitan denganmu terutama—" Axcel menatapku secara intens. "Kau Una yang sedikit aneh."

Aku terdiam kaku. "Maksudmu aneh?"

"Kau tampak seperti Manusia dibandingkan Una pada umumnya. Karena itu setiap aku melihatmu aku selalu bertanya-tanya kau ini siapa? Una atau Manusia? Di Bumi penampilanmu sebagai Manusia terlihat sempurna bahkan tidak ada celah sedikitpun yang menandai kau adalah Una. Itu membuatku terkejut saat pertama melihatmu sebagai Una seperti sekarang."

Bagus. Pikiranku kini terasa jernih dan pertanyaan demi pertanyaan sudah tersusun rapi dalam benakku.

"Axcel,"

"Ya."

"Kenapa waktu itu kau menyerangku? Apa kau benar-benar ingin membunuhku?" Yap, satu pertanyaan keluar dengan lancar.

Pertanyaanku sontak membuat Axcel menoleh ke arahku dengan sempurna. "Itu—" Wajahnya terlihat bingung. "Karena kau satu-satunya orang yang memberi tahu rahasiaku pada Dendez."

"Maafkan aku soal itu, aku benar-benar tidak tahu kalau putri yang sedang diburu adalah kau. Kupikir—dengan menyebutkan namamu akan menyelamatkannya dari mara bahaya, dan sayangnya tuan putri itu benar-benar kau."

"Dilihat dari keadaan yang telah lalu aku sempat berpikir bahwa—"

Aku terdiam dan menunggu ucapannya yang menggantung.

Loizh III : ReinkarnasiBaca cerita ini secara GRATIS!