Who ?

20.5K 851 4
                                    

Hari ini hari pertamaku pergi kesekolah setelah sekitar sebulan liburan semester. Aku memandang wajah ku di cermin. Mataku kelihatan seperti panda karena terdapat lingkaran hitam di bawah mataku. Ku oleskan BB cream ku untuk menyamarkan kantong mata ku. Akhir-akhir ini aku memang sering begadang karena aku sulit tidur. Entahlah aku tidak tahu apa yang terjadi pada tubuh ku ini. Setelah penampilan ku menyakinkan aku turun kebawah untuk sarapan. Aku duduk sendiri karena kemarin Kak Dennis sudah kembali ke Inggris bahkan aku kemarin sampai menangis karena tidak ingin ditinggalkan oleh Kak Dennis. Entahlah mengapa akhir-akhir ini aku sering menangis tidak jelas karena suatu masalh kecil. Aku makan dalam diam mengunyah roti kejuku.

“Hai Sayang.” sapa seseorang lalu mencium pipi kiri ku

Siapa dia yang berani-beraninya mencium ku. Aku merasakan pergelangan tangan ku di tahan sebuah tangan ketika hendak mengeluarkan gerak reflek ku. Memukulnya. Aku mendongak menemukan Raffa memakai seragam sekolah rapi tersenyum evil menahan tangan ku

“Reflek kamu hebat banget sayang, tapi jangan tampar tunanagan kamu dong.” ucapnya pura-pura merajuk

Aku memutar bola mata bosan heran sejak kapan dia bisa merajuk seperti itu

“What are you doing right now Mr Darwin?” ucapku formal

“Buset, jangan formal-formal dong sayang, panggil aja sayang atau honey kek.” ucapnya sambil menyomot satu roti tawar yang ada di depannya

Aku tersenyum miring “Apa yang kau lakukan di sini SAYANG?” ucapku menekankan kata sayang

“Jemput kamu.” ucapnya santai

“Kamu gak inget apa yang aku bilang, jangan sampai semua orang tau kalau kita bener-bener tunangan. Kamu mau aku bat.....”

“Bla bla bla. Aku tau kok kamu gak pengen mereka tau kita tunangan tapi gak papa kan kalau mereka ngira kita pacaran.” ucapnya tersenyum penuh kemenangan

“Pacaran? Kapan gue bil...” belum sempat aku menuntaskan perkataan ku, bibir ku sudah di tutup oleh jarinya. Aku merasakan jantung ku meliar menerima sentuhannya. Aku bahkan tidak sanggup berkata apa-apa setelah dia melepaskan jarinya di bibir ku

Dia tersenyum geli “Diem kan.” ucapnya

Aku bahkan langsung menundukkan kepala pura-pura memusatkan pikiran ku pada rotiku. Padahal aku ingin menyamarkan warna pipi ku yang sudah memerah karena dengan cepat darahku mengalir naik ke pipiku.

“Ya udah yuk udah jam setengah tujuh.”

Aku mengangguk lalu mengambil tasku di kursi. Aku mengikutinya dari belakang menuju mobil sport putihnya. Aku bahkan baru sadar setelah setengah jalan kalau dia membawa mobil yang berbeda dari pada biasanya. Beda sekali dengan mobil tersangka penabrakan ku yang mengakibatkan terjatuh ke selokan. Aku tersenyum geli mengingat itu. Aku bahkan tak menyangka dunia ini sangat sempit. Lamunanku terbuyar ketika suara Raffa menginterupsi ku

“Kenapa senyum-senyum sendiri sih?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan

“Enggak kok.” ucapku berdusta

Dia tidak menjawab lagi karena terus menjalankan mobilnya. Tak lama kemudian kami tiba di gerbang sekolah. Raffa memarkirkan mobilnya di parkiran. Aku memperhatikan dari dalam mobil sudah banyak anak yang datang ke sekolah. Tiba-tiba gugup menyerang ku. ini lebih parah ketika aku jadi murid baru di sini. Dulu aku tidak merasakan gugup sekali namun malah kali ini aku gugup parah. Kurasakan pintu di sebalah ku terbuka. Aku melihat Raffa tersenyum menyuruhku keluar tanpa bersuara. Tatapan seluruh anak langsung tertuju pada kami tepat aku keluar dari mobil putih mahal Raffa. Aku merasakan pandangan seluruh siswa dan siswi penasaran dan kaget melihat ku di gandeng oleh Raffa. Kulihat Raffa masih cuek tidak menghiarukan pandangan mereka.  

My Love Will Never ChangeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang