*Psst* Notice anything different? 👀 Find out more about Wattpad's new look!

Learn More

Rahasia Yang Terkuak

3.9K 438 32

"Kita mau kemana?" tanyaku dengan langkah terseret.

"Kau akan tahu nanti."

Yap, jawaban yang sama. Setiap kali seseorang bertanya saat bersamanya pasti ia akan menjawabnya seperti itu. Kenzie sama sekali tidak berubah baik dalam wujud Manusia maupun saat menjadi Una. Kurasa memang seperti itu karakternya, ia suka memberi kejutan.

Aku terus berlari mengikuti gerakannya. Dulu aku juga pernah berlari seperti ini dengan tangan bergandengan--dengan Alex tentunya tapi sebagai Karin. Tapi sekarang Kenzie menarik tanganku dan aku terpaksa berlari. Aku tersenyum sejenak saat memory Karin dengan Alex berputar dalam kepalaku. Kenangan yang benar-benar manis, aku bahkan hampir tidak percaya kisah ini akan terkubur oleh masa. Sekarang aku yang memegang memory itu. Entah kenapa saat aku melihat kepingan-kepingan kenangan itu aku jadi merindukan Felix. Aku merasa mungkin kisahku dengan Felix akan semanis itu. Tapi entahlah, situasinya berbeda.

"Sebentar lagi kita sampai," ucap Kenzie membuyarkan lamunanku.

Kulihat kami sudah memasuki kota Zarakh yang sudah tampak seperti kota mati karena ditinggal penduduknya yang disebabkan oleh peperangan. Mengingat peperangan, aku jadi merindukan Roy bahkan aku masih mengingat wajahnya yang membuatku terpesona sekaligus iri saat terakhir aku mengunjungi tempat ini. Mengingat Roy aku jadi ingat Axcel. Kira-kira apa yang sedang ia lakukan saat ini?

Aku sadar betul, saat ini aku mungkin akan menjadi Karin meskipun aku menyadari diriku sepenuhnya sebagai Ririn. Rasanya menyesal sekali karena sudah mempeributkan masalah statusku disini dengan Kenzie, seharusnya aku mengaku saja kalau aku Karin. Mungkin aku harus lebih banyak menyatukan pikiranku dengan ingatan Karin.

"Kita sudah sampai," gumamnya lagi menyadarkanku.

Di hadapanku sudah berdiri sebuah bangunan yang sudah lapuk yang berdiri terpencil disudut kota. "Rumah hantu?"

Kenzie mendengus tertawa. "Ayolah Karin, yang benar saja. Di Loizh tidak ada hantu. Ini hanya bangunan kosong." Kenzie berbisik ditelingaku. "Ada yang ingin aku tunjukan padamu."

"Apa itu?"

"Ikut aku."

Kenzie memasuki bangunan tua itu dan aku mengikutinya. Aroma lumut yang lembab langsung menyeruak saat aku memasukinya. Keadaan didalam bangunan begitu temaram dan tampak mengerikan. Tapi sepertinya Karin sudah biasa memasuki tempat-tempat seperti ini, aku merasa takut tapi bagiku juga ini adalah hal yang sudah biasa aku masuki.

Kenzie membuka lantai dengan kemampuan telekinesisnya. Didalam sana seperti sudah terlihat ruangan gelap yang menurun kebawah. Kenzie memberiku aba-aba agar aku mengikutinya masuk kedalam ruang bawah tanah itu dan lantainya kembali tertutup saat aku sudah memasukinya. Oh, aku jadi ingat sesuatu. Dari dulu aku ingin bisa Telekinesis tapi selalu gagal. Apa aku bisa melakukannya dalam wujud Una?

Kenzie menggunakan Ulqinya sebagai penerangan saat kami menuruni tangga yang melingkar kebawah. Saking gelapnya aku sampai tidak bisa melihat dasar dari ujung tangga ini.

"Kenzie, tempat apa ini?"

"Kau akan tahu setelah kita sampai kebawah."

Lagi-lagi jawaban seperti itu yang kudengar. "Apa kau tidak bisa memberitahuku sedikit? Berhentilah membuat kejutan."

Kenzie berhenti dan berbalik kearahku. "Apa kau takut? Bukannya kau sangat menyukai tempat yang temaram seperti ini?"

"Aku tidak takut, hanya saja—aku penasaran."

Kenzie tersenyum sambil mengacak-acak rambutku. "Kau akan menyukainya nanti."

Kami melanjutkan langkah menuruni tangga. Hanya langkah kaki yang menggema diantara keheningan. Semakin lama, aku merasa jenuh oleh tangga tak berujung ini. Aku bahkan tidak bisa mengira-ngira seberapa dalam tangga ini menembus tanah. Apa didasar sana aku akan melihat magma atau sebagainya?

Loizh III : ReinkarnasiBaca cerita ini secara GRATIS!