Mine 3 (End Bag. 1)

1.2K 205 30

Pagi yang cerah seharusnya bisa menularkan energi positif pula bagi dua manusia yang kini belum juga berbaikan. Sang Suami memasak sarapan tanpa semangat, sedang Sang Istri lebih menyukai berdiam diri dalam kamar. Bergelung dalam selimut dengan mata terjaga tanpa berniat melakukan apapun.
Hal yang kini menjadi kebiasaannya.
Bahkan Yuki menolak Al untuk tidur bersamanya.

Sudah seminggu pertengkaran itu berlalu, namun Yuki tidak juga mau berdamai dengan Al atau membalas sikap baik suaminya.
Kemarahan pertama yang Yuki lakukan kali ini sungguh membuat Al menjadi orang linglung. Bagaimana tidak, jika biasanya Yuki yang menyiapkan segala sesuatu dengan usaha keras, atau memberikan perhatian, tidak untuk saat ini.
Semuanya lenyap.

Walau sulit, Al tetap berusaha memperlakukan Yuki seperti biasa. Hanya saja kebiasaan mereka sedikit berubah. Biasanya di pagi hari, Al membawa Yuki ke kamar mandi untuk membersihkan diri atau menyiapkan segala sesuatu yang sulit Yuki lakukan. Kini semua itu tidak terjadi lagi. Yuki khusus menunjuk seseorang untuk membantunya dalam segala hal.

Al terpaksa menyetujui semua permintaan Yuki walau dalam hati tidak menyukainya.

Al ingat kejadian malam itu, dimana Yuki mengamuk dengan melempar barang-barang hingga pecah dan berantakan hanya karena dirinya memeluk Yuki saat tertidur . Al merasa letih saat beban yang Tuhan berikan merenggut kebahagiaan singkatnya hingga membuat pikirannya hanya fokus pada Yuki.
Dan malam itu juga Yuki mengancam akan pergi dari rumah jika Al berusaha mendekat. Setidaknya sebelum Al bisa membuktikan apa yang Amanda katakan adalah kebohongan . Al memang tidak tahu seperti apa sakit yang Yuki rasakan. Tapi dirinya mengerti satu hal. Yuki kecewa.

[•••]

" Gue nggak bisa terus kayak gini. Gue harus buktiin kalo Amanda udah bohong " Al duduk di kursi kebesarannya memegang pena yang ia ketukkan pada laptop yang terlipat di atas meja. Kadang dahinya berkerut karena memikirkan sesuatu.

Drtttt.. Drttt.. Drttt

Ponsel yang Al letakkan di atas meja bergetar, satu pesan ia terima.

' Hai Al, apa kabar '

Pesan dari nomor yang tidak ia kenal. Al menimang ponselnya lalu berpikir sejenak. Amanda.

***

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, biasanya Al sudah berada di rumah bersantai atau berada di ruang kerjanya. Namun batang hidungnya belum juga terlihat. Yuki sudah menerima pesan dari Al yang berisikan bahwa suaminya itu akan pulang terlambat, namun tidak menyangka akan selama ini .

Yuki memang terlihat tidak peduli, tapi siapa sangka di dalam hatinya, Yuki sering memikirkan Al. Bahkan airmata menjadi sahabatnya kala ia berdo'a. Tidak terlewat sedikitpun do'a yang ia panjatkan hanya untuk suaminya. Al.

David, lelaki bertubuh putih dengan mata sipit itu senantiasa menemani Yuki yang saat ini sedang terpuruk. Lelaki itu sangat tahu bagaimana perasaan Yuki, maka dari itu dirinya tidak membiarkan Yuki sedih sendiri.
Bahu kokoh itu senantiasa memberikan kenyamanan untuk Yuki bersender bahkan Ia rela pakaiannya basah oleh airmata Yuki.

" Udah ya, nggak capek apa nangis terus? Kamu buktiin dong kalo kamu itu kuat lebih dari yang terlihat." David merangkul pundak Yuki sambil sesekali mengelusnya.
Yuki hanya mengangguk namun masih dengan tangisan.

Lelaki itu menghapus airmata yang membasahi pipi Yuki dengan lembut, lalu menarik tubuhnya kedepan dan menatap Yuki iba. Tatapannya dalam tersirat rasa prihatin.
Tetesan airmata itu keluar tanpa ia sadari. David menangis.

" Yuki, aku sakit liat kamu kayak gini. Jangan hukum diri kamu lagi Yuk . Kamu harus bangkit. Lupain semuanya dan beri Al maaf. Bisa jadi wanita itu bohong dan Al memang benar. "

Short Story ( Alki Version)Baca cerita ini secara GRATIS!