Sisi Lain Part 3

333 92 6

Setiap orang itu beda. Akan ada saat di mana sisi positif lebih banyak daripada negatifnya.

_______________________________

Pagi-pagi banget, gue udah berangkat ke sekolah bareng Ve. Kebiasaan yang udah jarang gue lakuin karena emang kemarin-kemarin gue sengaja bangun lebih lambat lima menit.

Hari ini adalah hari ke dua masa tugas gue dan Al berlangsung.
Kemarin gue sempat belajar sedikit metik gitar yang benar, yang bisa mengeluarkan nada suara yang seharusnya. Karena gue akui saat gue belajar gitar sendiri--dulu-- , suaranya sumbang. Nggak sebagus saat Al ajarin kemarin.

Ve bilang ke gue untuk menahan emosi saat berhadapan sama Al. Katanya, untuk ngelakuin tugas berdua, gue dan Al harus membangun ikatan yang baik. Ibarat kalo pasangan dalam film, dua tokoh itu harus punya chemistry. Kurang lebih seperti itu.

Gue turutin karena emang hanya itu yang gue butuhin.
Gue nggak mau gara-gara keegoisan gue, justru berdampak pada nilai gue di sekolah.

Sekolah hari ini kayak biasa. Masuk ke kelas, belajar, istirahat, belajar lagi terus bel pulang. Dan saat pulang, gue harus nunggu Al di parkiran karena kita udah janjian. Giliran gue yang nentuin kami mau latihan di mana.

Udah sekitar lima belas menit gue nunggu Al. Padahal saat jam pulang, gue udah liat dia siap-siap mau keluar. Tapi, sekarang baunya pun belum kecium.

Gue liat jam di pergelangan tangan, bosen rasanya. Apalagi sekolah udah mulai sepi. Kendaraan yang parkir di sekitaran gue pun udah mulai dibawa sama yang punya, tapi Al belum muncul juga.

"Ni orang ngerjain gue apa ya? Gue udah lumutan juga. " kayak biasa. Seorang cewek kalo nunggu cowok yang datengnya lama selalu ngeluh.

Daripada waktu terbuang percuma, gue manfaatin untuk panasin motor dulu. Jadi, kalo Al udah dateng, gue tinggal jalan.

"Yuki, nunggu siapa? "
Tiba-tiba seseorang negor gue yang duduk di atas motor sambil celingak-celinguk. Gue noleh, ternyata Bagas. Temen sekelas.
"Eh, Gas, gue nunggu Al. Lo liat nggak? "
"Oh Al,  gue liat dia lagi di pos satpam. Nggak tau ngapain. Gue ajak pulang tapi gue disuruh duluan.! "
Jelas Bagas.
Gue seketika kesel. Masa' iya gue nunggu orang yang nggak ada niatan macem Al.
Minta dikasih pelajaran ni orang.

Sementara Bagas sibuk sama motornya, gue cabut kontak motor gue dan pergi nyamperin Al.

Di perjalanan ke sana, gue udah punya rencana mau kasih Al pelajaran. Biar dia paham gimana cara hargai orang.

"Kita sudah buat perjanjian. Kalo dilanggar hukumannya motor kamu disita. "

"Nggak, saya nggak akan rela kalo motor itu diambil. Bapak nggak bisa seenaknya dong. "

"Terus kamu mau apa? Kesepakatan kamu sendiri yang buat, lalu kamu pula yang langgar. Ini sudah ketiga kali Bapak kasih kesempatan. "

"Tapi saya punya alasan. Beri saya kesempatan. Kasih tau mereka. Saya janji ini yang terakhir. "

"Kemarin kamu bilang terakhir. Kalo sudah tiga kali, mana ada lagi kesempatan. Kamu buat saya kena marah mereka. "

"Saya mohon, Pak. Bapak tau gimana keadaan saya kan? Apa Bapak tidak prihatin? "

"Makanya Al, turuti perintah mereka. Jika begini, kamu yang susah. !"

Keributan itu buat langkah gue berhenti. Obrolan keras di area sekolah dengan suasana yang sepi membuat gue mendengar tiap kalimat itu dengan jelas.

Short Story ( Alki Version)Baca cerita ini secara GRATIS!