ToD Ending

709 164 9


Hari terkahir tantangan menjadikan Al sebagai kekasih membuat Yuki merasakan perasaan aneh. Ada rasa sedikit tidak rela saat harus mengucapkan kata 'putus' yang sudah ia hafalkan semalaman. Entah sejak kapan Yuki memikirkan perasaan Al nanti, apakah Al akan terluka atau malah akan merasa bahagia karena ikatan tidak jelas mereka terlepas begitu saja.

" Aduh Yuki, sejak kapan lo khawatir sama perasaan orang. Ini cuma permainan doang. Dan lo harusnya seneng karena semua ini berakhir. " Yuki berbicara sambil menatap tubuhnya di depan cermin. Tubuh berbalut seragam putih dipadu rok abu-abu pendek sedikit di atas lutut dengan rambut yang dikucir kuda itu terlihat sangat sederhana, tanpa poni,  namun menarik.

Yuki menganggukkan kepala,
"Ya, harusnya gue seneng. Gue denger sendiri Al dengan bangga nyebutin Kara sebagai pacar. Terus kenapa gue ngerasa aneh? "

Kepalanya kini menggeleng
" Nggak, ini cuma permainan. Dan Al bukan tipe gue. Gue nggak mau punya cowok yang nggak punya sikap kayak dia "

" Sekarang yang terpenting adalah, Kara akan dapet pelajaran yang setimpal. Walaupun gue yakin Al nggak akan suka! "
Yuki tersenyum, lalu meraih tas sekolah yang berada di atas kasurnya dan bergegas keluar untuk berangkat bersama tiga sahabatnya

****

" Morning guys, siap untuk hari ini? " Yuki baru saja keluar dari pagar rumahnya, mendekat pada tiga sahabatnya yang sudah menunggu beberapa menit yang lalu. Ketiganya mengangguk girang, lalu mengucapkan kata siap secara bersamaan.

Mereka berangkat menggunakan satu mobil. Kali ini milik Febby. Dengan Febby sebagai driver dan ketiganya duduk santai pada kursi masing-masing.

" Ki, apa lo udah siap mutusin Al setelah kita buat perhitungan sama Kara? " tanya Prilly dengan raut muka penasaran

"Hah?  Oh, ya emang harus gitu kan? Kan perjanjiannya cuma seminggu! " jawab Yuki tanpa melihat pada Prilly. Tatapannya masih pada jalanan yang nampak dari kaca depan mobil.

" Nggak masalah sih kalo mau diperpanjang. Lagian masa' iya lo langsung mutusin Al gitu aja tanpa alasan. Emang lo udah siapin alasannya apa? "

Yuki terdiam.
Latihan semalam hanya sekedar kata putus dan Prilly benar jika alasan yang akan ia berikan haruslah masuk akal. Bukan alasan aneh dengan mengatakan bahwa Al sudah memiliki kekasih atau Yuki tidak menyukainya. Yuki sudah tahu itu sebelum mengatakan keinginannya untuk menjadikan Al kekasih dan masalah perasaan? Bahkan orang buta pun tahu jika Yuki tidak menyukai Al saat mereka baru saja 'jadian'.

" Ee--  Bilang aja putus. Ngapain juga ngasih alasan. Dan lo kan tau Ly kemaren dia bangga bilang Kara itu pacarnya. Terus kalo gue ngajak putus, itu berkah buat dia. Nggak ada yang akan ngancem dia lagi dan gue juga udah menuhin tantangan lo. Ya kan? "

Prilly menatap Jessie lalu menaikkan alisnya dengan maksud bertanya pada sepupunya itu. Jessie hanya menggeleng tanpa berkomentar apapun.

*****

Semua aktifitas sekolah sudah lewat satu jam lalu. Harusnya di jam sekarang, empat gadis cantik itu pulang ke rumah, bukan sengaja menjebakkan diri pada sebuah tempat yang beberapa menit lalu mereka awasi. Tidak ada waktu yang mereka sia-siakan sedikitpun untuk bersantai di rumah menghabiskan hobby masing-masing atau aktifitas biasa mereka sebelum permainan seminggu yang lalu dimulai.

Rencana hari ini begitu sederhana, hanya menunggu di mobil yang berjarak beberapa meter dari sebuah sekolah yang sangat mereka ketahui itu sekolah siapa hingga Kara keluar dari sekolahnya.

Di sana sudah ada Al yang sepertinya memang kenal akrab dengan penjaga sekolah itu. Mereka terlihat tidak canggung untuk saling bertukar cerita. 

Short Story ( Alki Version)Baca cerita ini secara GRATIS!