Cinta Tanpa Restu

1.4K 166 7

WARNING, cerita ini tidak diperuntukkan bagi penganut happy ending,
Dari judulnya udah tau ya berakhir seperti apa.
Tapi kalo mau tetep baca silahkan saja, yg penting jangan salahkan author kalo ada apa-apa.

Apa yang salah dari mencintai?
Tidak, perasaan lumrah ini pasti ada dalam setiap hati manusia.
Lalu salahku dimana?
Apa mencintai seorang lelaki seperti Al adalah kesalahan besar?
Iya, aku tahu perbedaan kami. Jauh bahkan amat jauh.

Tuhan, jika Engkau menitipkan rasa cinta ini pada orang yang tepat, kenapa tidak Kau satukan kami?
Tidak bisakah jadikan aku orang yang pantas mendapatkan lelaki pemilik hatiku itu?

Tuhan tolong, biarkan kami bersama, mengarungi kehidupan bahagia dan tentunya mendapat restu dari kedua orang tuanya.

Restu?
Iya, satu kata yang amat sulit kami gapai.
Bahkan dengan menyebutkan tiga kata ajaib -kami saling mencintai- saja tidak cukup membuat kami mendapat restu itu.
Tuhan, katakan padaku cara meluluhkan hati kedua orang tuanya.

Tidak, aku bahkan tahu betul alasan dari penolakan itu.

Kasta kami berbeda,

Beritahu aku siapa pencipta kata Kasta itu, sungguh kata yang singkat itu merenggut semua kebahagiaanku.
Kebahagiaan yang hanya bersumber darinya.

Berlebihan?
Kurasa tidak, rasa cinta yang besar itu tidak semata hadir begitu saja, banyak proses serta ujian yang kami lalui.

Kini bahkan tangisan perihpun tidak mampu membuat kedua orang tuanya memberikan sebuah restu.
Sulit, amat sulit.
Aku hanya punya satu pilihan, menyerah.
Saat tidak ada lagi upaya yang berbuah manis, apa yang bisa aku lakukan.
Sementara aku tidak ingin membuat perpecahan dalam keluarga Al.

Pengecut?
Tidak, orang tua adalah kedua insan yang amat penting dalam kehidupan.
Aku bahkan tau rasanya hidup tanpa kedua orangtua.
Aku tidak mau Al mengalami hal yang sama sepertiku.

" Yuki, aku tidak bisa hidup tanpamu. Ikutlah bersamaku dan kita pergi jauh dari sini! "

Kalimat perpisahan yang selalu terngiang dalam otakku bagai cuplikan film, berulang bahkan saat aku tertidur.
Kalimat terakhir yang dia ucapkan sebelum orang suruhan keluarganya membawa dia pergi untuk kembali kerumah.
Dibawa secara paksa seperti anak kecil yang tidak di ijinkan untuk main jauh.

Aku hanya diam

dengan tangisan pilu,
aku merelakan dia dibawa secara paksa bahkan sampai dia tak sadarkan diri.
Apa yang bisa aku lakukan?
Melawan mereka?
Aku seorang wanita, bahkan untuk berteriakpun tidak ada gunanya.

Handphone-ku terus berbunyi meminta respon, aku tidak bergerak sedikitpun.
Menjawab panggilan dari Al hanya akan membuat tangisku pecah.
Membayangkan dia yang rela bertengkar menentang ayahnya saja sudah membuatku takut, aku tidak akan membiarkan itu terjadi.
Aku lebih rela membunuh rasa cintaku daripada melihat keluarganya hancur.
Tak apa merasa sakit untuk saat ini, karena dengan berjalannya waktu, rasa sakit itu akan berkurang dan lenyap dengan sendirinya.

Setelah dering tak lagi meraung, kini nada singkat berbunyi. Sebuah pesan.

" temui aku untuk terakhir kali, aku berjanji setelah ini kita tidak akan bertemu! "

Air mataku menetes satu persatu, sesak napas mulai menghantam dadaku.
Sebuah kalimat sarat akan kepasrahan Al tulis dalam pesan itu.
Harusnya aku bahagia, ini yang aku harapkan bukan?
Setidaknya dengan dia yang menyerah, merupakan satu-satunya jalan untuk kami mengakhiri hubungan tidak direstui ini.

Short Story ( Alki Version)Baca cerita ini secara GRATIS!