Cinta yang Sederhana

903 138 21

Dia memiliki rambut  hitam,  lurus dan panjang. Kadang berkacamata.
Senyumnya manis, giginya putih dan rapi. Dia baik, nyaris sempurna.
Dan bodohnya, aku mencintai wanita itu.
Wanita yang jelas-jelas sudah memiliki pelindung.
Dia pacar orang.

*****

Pagi adalah awalku untuk menjalani hari. Hari yang akan terasa lebih membosankan karena mulai pagi ini juga, teman satu kost-ku pulang kampung. Lebih tepatnya, dia tidak akan lagi menemaniku di kota besar ini.

Hidup yang jika kusyukuri akan terasa cukup. Tapi, tidak jika seluruh kebutuhan menunggu untuk dibeli atau utang yang harus aku bayar.

Hidup sendiri itu tidak mudah. Terlebih di kota orang. Tapi, untuk sekarang aku masih menikmatinya. Wanita itu alasannya.

Dia tetanggaku. Ah, tidak terlalu dekat. Beberapa rumah menjadi pembatas kami. Hanya saja, setiap aku berangkat atau pulang kerja, aku selalu melihatnya.
Dia bukan pengangguran, dia juga pekerja seperti aku. Bedanya, dia anak pemilik tempat kerjanya yang juga merangkap sebagai boss.

Jangan heran jika seleraku tinggi. Aku tidak tahu. Yang aku tahu adalah aku benar-benar menyukainya. Menyukai dalam diam. Ah, malangnya.

Pagi menyenangkanku adalah ketika melintasi jalan ini. Aku bisa melihat wanita yang selalu berpenampilan cantik itu, meski dibatasi oleh pagar tinggi. Dia selalu duduk di kursi teras dengan secangkir minuman di atas meja. Entah teh atau kopi. Itu rutinitasnya.

Sudah biasa jika aku berangkat menggunakan angkutan umum. Karena untuk membeli kendaraan sendiri, uangku belum cukup. Tak apa, aku masih bisa bersabar sedikit lagi.

*******

" Mas Al itu kenapa sih masih aja bertahan di sini. Kalo aku jadi Mas, mungkin udah lama aku resign. Gaji nggak seberapa aja bossnya galak gini. Sombong pula. Seenaknya aja perlakuin karyawan. " rutukan kesal itu keluar dari mulut Lia. Gadis yang belum genap setahun menjadi rekan kerjaku di tempat ini. Andai aku punya pilihan, aku sudah lama mengundurkan diri. Lia memang beruntung, berbeda denganku. Mungkin karena dia wanita. Entahlah.

Aku tersenyum menanggapinya.

" Nggak Papa. Aku udah biasa diginiin. Lagian kan aku yang salah karena nggak liat-liat lagi jumlah barang yang aku kirim. Wajar kalo si boss marah. "

" Tapi kan Mas, bisa pake' bahasa yang agak halus. Biar pun Mas yang diomeli, aku dengernya juga sakit."
Lia masih bersikeras tidak menerima perlakuan boss kami terhadapku.

" Aku tau kenapa Mas jadi gini. Paling juga tadi pagi liat Mbak'e dijemput pacarnya! Jadi nggak konsen kan? "
Ucapnya sambil tersenyum menggoda. Entah kemana perginya kesal dia tadi.
Tapi, tebakannya benar.

"  Udah ah, kok malah bahas dia. Kamu tuh ya, makan dulu yang bener baru godain aku. Tuh nasi aja nempel ke mana-mana. Dasar bocah! " aku mengambil nasi yang menempel di pipinya sambil tertawa mengejek. Melupakan sejenak rasa cemburu pagi tadi yang sebenarnya selalu aku rasakan ketika kekasih dari gadis yang aku taksir datang menjemputnya.

Kedekatanku dengan Lia sudah seperti saudara. Dia anak tunggal, dan itu yang menyebabkannya menganggap aku seperti kakaknya sendiri.

******

Kembali pada rutinitas. Kerja, pulang, kerja lagi lalu pulang. Membosankan bukan?
Tapi, tidak untuk pagi ini. Maksudku, rutinitasku memang seperti biasa. Pergi kerja di pagi hari. Namun, perbedaannya adalah pagiku didahului dengan dia yang tiba-tiba memanggilku.

Jantungku berdebar seperti menunggu panggilan hasil kelulusan. Melangkah pelan bahkan ragu.

" Al, saya bisa minta tolong? " tanyanya saat aku sudah di hadapannya. Wajahnya seperti orang panik, satu sisi penuh harap.

Short Story ( Alki Version)Baca cerita ini secara GRATIS!