Apa yang salah dengan 25?? part 1

275 81 9

Perempuan usia 25 tahun yang belum menikah itu amat sulit ditemui di anggota keluargaku. Bayangkan aja, Ibuku yang punya  2 saudara perempuan yang masing-masing punya 3 dan 4 anak, rata-rata menikah di usia di bawah 24 tahun. Lalu aku yang notabene anak pertama harus terus-menerus jadi bahan bully saat eyang mengajak keluarga besar untuk kumpul di rumah besarnya.

Jika sudah kumpul di halaman belakang rumah eyang, sepupu-sepupuku mulai cari bahan pembicaraan yang ujung-ujungnya akan berhadiah pertanyaan,
"Yuki, udah mateng lho usia kamu tuh. Kapan sih bawa calon buat dikenalin? "

Atau
Jika aku tengah asik menggendong salah satu anak sepupuku disindir dengan kalimat cukup menohok.
"Yuki, udah cocok banget lho jadi Ibu. Jadi kapan?"

Masih jaman banget yah nanya gitu?

Untuk masalah menikah, siapa juga yang betah menjomblo?
Aku satu-satunya orang yang belum menikah di antara tiga sahabatku.
Dan untuk masalah anak, siapa juga yang betah terus terusan sayang sama anak orang sedang orangtuanya nyindir terus?
Kan mending sayangin anak sendiri.

Rasanya telinga udah mau bolong dengerin sindiran mereka. Mending juga kalau mereka yang biayain nikah, atau kalau baik banget, sekalian cariin.
Ini boro boro cariin, kalau aku bawa cowok yang mereka anggap kurang menarik, ujung-ujungnya pasti dinyinyirin.
Parahnya, belum apa-apa udah ditanyain yang aneh-aneh.
Ini salah satu alasan kenapa aku paling males kalau Mama ajak kumpul keluarga.

Sampe satu ketika tanpa sengaja aku liat cowok yang menarik perhatian. Waktu itu, dia dateng ke rumah Eyang bawa paper bag yang entah isinya apa. Saat itu, aku lagi di dapur mau buat minum. Maklum, rasanya panas aja tiap sepupu bahas keluarga yang ujungnya masih nyindir aku juga.

"Aleeee,,,, " teriakan cempreng khas milik Jessie, si sepupu paling cerewet.

"Hey, Jess, apa kabar? " cowok itu senyum ke arah Jessie. Fix, mereka udah saling kenal.
Dan ya, mungkin namanya Ale.

Aku perhatikan dia yang jalan dengan tangan digandeng Jessie menuju halaman belakang.

Sejak saat itu, beberapa kali aku liat dia tiap main ke rumah eyang. Bisa jadi itu cowok rumahnya deket sini. Entahlah.
Dan jujur, ini alasan kenapa rasa malas sebelumnya berganti dengan rajin.
Secara pribadi, menurutku dia menarik.
Dari penampilan yang kelihatan cuek aja dia ganteng, nggak kebayang kalo dia pakai baju yang rapi kayak apa.

Pernah satu ketika aku tanya sama eyang siapa cowok itu, dan eyang cuma jawab, "Dia Ale. "
Belum sempat melanjutkan penjelasan, sepupuku yang lain panggil eyang kayak anak kecil minta uang jajan. Merengek manja.

Huh, apa cocok perempuan beranak satu manja sama eyangnya?

*****

Lagu romantis yang dinyanyikan secara duet oleh Calum Scott feat Leona Lewis buat aku budek. Seenggaknya kata Rhein, adikku.
Pasalnya, waktu Rhein ketuk pintu kamar, aku masih melafalkan lirik dengan suara yang cukup memekakkan telinga.
Ya, aku pakai headset, otomatis telingaku cuma fokus sama lagu, nggak yang lain. Sampe akhirnya sayup-sayup suara Rhein mengalahkan lagu romantis ini.

Rhein masuk setelah kubuka pintu. Aku yang tanya alasan dia datang aja dicuekin. Aneh ni adik satu.

"Kak, " panggilnya.

Aku nggak jadi pasang headset karena keburu dipanggil. Aku nggak mau dikatain budek untuk kedua kalinya.

"Reno lamar aku semalam. "

Short Story ( Alki Version)Baca cerita ini secara GRATIS!