Bertemu Masalalu ( CTR )

1.1K 128 24

Seperti yg author infoin di Fb, Sebelum baca ini, mending baca part yg Cinta Tanpa Restu dulu ya, Karena ini part spesial yg author buat sebagai lanjutan kisah perpisahan mereka.

Udah baca?
Masih inget?

Oh, yaudah.
Happy reading guys 😘😘

____________________________________

Tiga tahun sudah berlalu sejak pertemuan terakhirku dengannya malam itu. Pertemuan terakhir yang menyakitkan.
Ciuman dan tangisan yang masih amat membekas dalam pikiranku hingga saat ini.

Aku di sini sendiri. Jauh dari kota di mana kota itulah yang menjadikan kami dua orang yang memiliki hubungan erat atas nama cinta.

Tidak ada kabar berita, dan akulah penyebabnya. Nomor ponsel aku ganti, dan semua akun media sosialku, aku nonaktifkan.

Ibarat buku, aku harus membuka lembaran baru untuk kembali menulis kisah hidupku. Dan itu sudah hampir terjadi.
Kini sebuah cincin melingkar indah di salah satu jari manis tangan kananku. Ini adalah pemberian seseorang yang akan menjadi penggantinya. Aku tidak jamin jika dia adalah sosok yang tepat. Maksudku, apakah dia akan berhasil merenggut semua perhatianku seperti apa yang aku berikan pada Al atau tidak . Tapi semoga saja.

Aku tinggal di apartemen yang seminggu lalu dia hadiahkan untuk kami, dan setelah menikah, kami akan tinggal di sini hanya berdua.

Apartemen dengan dua kamar, satu ruang santai, satu pantri dan balkon dengan view keindahan kota besar ini cukup nyaman membuat aku berlama-lama mengistirahatkan tubuh kala letih mendera.

Pertemuan kami baru terjadi satu tahun lalu, saat aku resmi menjadi pegawai sebuah Cafe yang cukup terkenal di kota ini.
Kebetulan, dia adalah pemilik Cafe nya. Entahlah, jodoh itu misteri.
Saat kemarin aku harus merelakan orang yang amat aku cintai karena perbedaan , kini saat aku pergi, aku menemukan orang yang justru tidak mempermasalahakan itu semua.
Perbedaan kami memang jauh, tapi percayalah kami sama.

Jauh karena kasta, tapi kami sama-sama makhluk Tuhan yang butuh kasih dan sayang.

Dia mengatakan bahwa aku spesial, satu di antara seribu, dan aku tidak seperti gadis-gadis sebelumnya.

Ya, aku mengerti maksud dari perkataanya, tapi sejujurnya dari awal serangan rayuannya aku hanya memberikan respon biasa. Tidak serius dan aku menganggapnya hanya main-main. Tapi, itu berhenti saat dia benar-benar membuktikannya. Dia datang padaku dengan memberikan sebuah cincin, lalu mengajakku untuk berkenalan pada kedua orang tuanya.
Aku sempat tertegun saat mendengar keseriusannya, secepat inikah?
Baiklah, ini memang sudah berlalu tiga tahun, tapi bukan itu. Aku takut saat kami bersama nanti, aku justru belum bisa melupakan masalalu. Dan itu akan merugikannya.

Namun, aku kembali berpikir. Saat aku takut akan sesuatu, aku harus menghadapi rasa takutku itu bukan lari dan menghindar. Jika tidak, aku akan tetap merasa takut. Maka dari itu, aku menerimanya. Mencoba menjalin hubungan baru dan melupakan masalalu.
Bukankah hanya soal waktu?
Jika saja dia yang sekarang bisa lebih baik, kanapa tidak aku coba?

Aku berdiri di balkon apartemen ini, memejamkan mata dengan menarik napas teratur. Angin malam yang bertiup lembut membuat anak rambut dan helaian rambut lainnya yang tidak terkucir itu berterbangan dengan bebas hingga kadang menyapu pipi bahkan hidungku. Rasanya damai apalagi sebuah earphone menggantung dengan dua speaker kecil menyumpal pada tiap telinga. Sebuah instrumen lagu mengalun indah menambah rasa nyaman di sana.

Tak lama, aku tergaket saat sebuah tangan memeluk perutku pelan dari belakang. Aroma tubuhnya sangat aku kenal, dan ini adalah dia. Calon suamiku.

Short Story ( Alki Version)Baca cerita ini secara GRATIS!