Berjuang sendiri

2.5K 279 9

Aku Termenung sendiri disini, dibawah langit gelap malam tanpa bintang.
Sepoi angin meniup helaian rambutku yang terurai bebas di samping telinga. Mengingat dia,  si pemilik hati. 

Dengan sebuah buku diary diatas meja,  kutulis semua keluh kesahku akan perasaan gila ini terhadapnya. 
Bisakah benci itu hinggap sedikit saja dalam hati ini untuknya ?

Aku seolah sendiri berjuang saat dimana dia yang mengaku mencintaiku berada jauh dariku bahkan tidak mengabariku sama sekali setelah kejadian malam itu.

Flashback

" sayang, malam ini orangtuaku ingin kau datang ke rumah untuk makan malam "
Seorang pemuda tampan dengan kemeja panjang yg digulung hingga siku yang semula menyantap makan siangnya berhenti sejenak untuk memberi respon pada kekasih yg sudah lama ia pacari,

" makan malam? Tumben sekali! "
Jawabnya santai, kembali ia lanjutkan makan yg tertunda.

" iya, mungkin ada yang ingin mereka sampaikan padamu. Kau bisa kan? ".
Gadis itu meraih tangan kekasihnya seolah memohon, dan perasaan lega keluar saat lelaki dihadapannya itu mengangguk sambil tersenyum.

**

Malam pun tiba.
Sang gadis sudah bersiap dengan setelan yg ia pikir sudah sangat maksimal, berdandan didepan kaca dan bersolek tanpa ada bagian yg terlewatkan.
Cantik.

Tak lama sebuah bel berbunyi, hatinya riang seperti orang yg baru saja mendapat hadiah. Kaki nya bergegas menuju pintu yg sudah ia pastikan akan ada kekasihnya berdiri dengan gagah disana.

Saat membuka pintu, benar saja, lelaki dengan setelan kemeja kotak-kotak kecil dengan warna biru yg dominan tengah berdiri dengan tersenyum.

Gadis itu membawa sang kekasih untuk masuk dan menemui kedua orangtuanya yg sudah menunggu beberapa menit lalu.
Lelaki itu tidak terlambat, hanya saja orangtua sang gadis sudah siap sebelum waktu yg ditentukan.

" selamat malam om, tante.! "
Lelaki itu dengan sopan menyalami dan mencium tangan dari dua orang yg tidak lain adalah ibu dan ayah kekasihnya.

" selamat malam nak, silahkan duduk! "
Dengan sedikit grogi, lelaki itu duduk. Detakan jantung yg sebelumnya normal, kini tidak lagi sama. Jeda dari detakan jantungnya sudah seperti genderang perang yg berdentum cepat.

Hufth,,,  helaan nafas sebagai upaya untuk menenangkan diri selalu dilakukan, setidaknya bisa mengurangi ketegangan yg tanpa diinginkan terjadi begitu saja.

Obrolan ringan diselingi canda tawa setidaknya menghilangkan sedikit perasaan canggung lelaki dengan tubuh tinggi 175 cm itu.

" bagaimana perjalananmu kesini?  Apa menyenangkan? "

" ya Tante, maaf karena Al jarang main kemari.! "

" ah tidak apa-apa, tante tahu kamu pasti sibuk dengan pekerjaanmu.! "

" hah,,  pekerjaan apa, dia itu cuma sales, apa yg bisa dihasilkan dari seorang sales? "

Ejekan kasar itu keluar dari seorang lelaki yg tiba-tiba muncul dalam obrolan santai itu.
Kata-kata yg menohok hati seorang lelaki sederhana yg berstatus sebagai kekasih adik kandungnya.

" Leo, jaga ucapanmu. Al adalah tamu kita "

" tamu?  Sales obat ma, bukan tamu.! "
Jawabnya santai tanpa sedikitpun takut akan tatapan kedua orangtuanya.

Al menunduk menahan emosinya, jika saja tidak ada orang tua kekasihnya disini,  bahkan Al tidak tahu apa yg akan menimpa kakak dari kekasihnya-Yuki - itu.

Inilah kenapa AL sangat jarang mengunjungi rumah Yuki, lelaki bernama Leo adalah musuhnya sewaktu SMA, orang yg selalu meledeknya tanpa melihat situasi, menghina dirinya bahkan sikap yg sulit dimaafkan adalah menghina orang tua Al yg sudah tiada. Brengsek.

Al heran,  turun dari mana sifat angkuh Leo, setahu dirinya, Yuki orang yg lembut begitupun kedua orangtuanya.

" Leo,  masuk kamar! SEKARANG! "

Bentakan keras itu keluar dari mulut sang ayah, tak ada yg menduga jika lelaki berusia limapuluh lima tahun itu akan marah dan membentak anak lelaki dirumahnya.

" papa bentak aku demi anak haram ini? "
Mata Al kini memerah, telinganya mulai panas mendengar kembali hinaan yg ditujukan untuk dirinya.

" cukup Leo, aku diam bukan berarti kau bebas menghinaku sesukamu. aku diam karena menghormati kedua orangtuamu, tapi sepertinya kau tidak akan mengerti arti dari ini semua. "
Al berdiri dari duduknya, matanya lurus menatap Leo dengan amarah.

" maaf om, tante,  atas sikap Al. Al akan pergi dari sini. Permisi! "
Lelaki tampan itu beranjak menuju pintu dan menaiki sebuah motor matic buatan Jepang miliknya.
Panggilan yg keluar dari mulut ayah dan Ibu Yuki tidak dapat menghentikan langkahnya sedikitpun, ia terus maju bahkan kini sudah melewati pagar megah milik keluarga kekasihnya.

Yuki yg baru saja menyiapkan makan malam keluar dengan panik karena mendengar keributan diruang tamu.
Saat ingin bertanya, kakaknya terlebih dahulu berkata sesuatu yg sulit dipercaya Yuki.

" Al pergi, dan tidak akan kembali lagi! "





Short Story ( Alki Version)Baca cerita ini secara GRATIS!