1. Pagi yang Aneh

988 63 30
                                                  


Peluit uap nyaring itu berbunyi untuk ketiga kalinya minggu ini.

Selama lima tahun lamanya aku dibangunkan oleh bunyi nyaring yang menulikan telinga itu. Setiap hari. Sepanjang tahun. Bunyinya selalu sama, kecuali pada hari-hari tertentu, hari-hari buruk yang sebaiknya tidak dibicarakan.

Tapi sepertinya hari-hari buruk itu sekali lagi akan dibicarakan karena bunyi peluit pagi ini persis seperti bunyi peluit pada hari-hari itu. Bunyi abnormal.

Bunyi adalah sesuatu yang harus aku pelajari di menit pertama bekerja di bawah naungan Serikat. Peluit uap bersiul keras satu kali dalam setiap jeda selama tiga detak jantung adalah tanda untuk segera bekerja. Suara nyaring itu selalu berbunyi setiap pagi, tanpa hari libur, tanpa pernah ada variasi. Namun pada saat-saat tertentu, ada bunyi lain yang terdengar. Dan bunyi lain itu baru saja menjerit di sepenjuru hanggar. Kemungkinan bunyi abnormal itu terdengar hingga ke seluruh wilayah kerja Serikat Pandai: bunyi putus-cepat sebanyak lima kali tanpa jeda.

Bunyi yang menyatakan ada yang tidak beres.

Buru-buru kusingkirkan tongkat sapu yang jadi gulingku semalaman menginap di hanggar. Menyeret tubuh di atas papan beroda, aku meluncur seperti bola meriam ke pintu masuk bagi kapal udara. Edward sudah bersiap di sana, tanpa bicara, menarik tuas seberat lebih dari lima pons di depan pintu. Roda-roda gir berputar, saling melengkapi pola gigi masing-masing, membentuk mekanisme yang membuka pintu secara perlahan dalam bunyi derit halus.

Aku menekan tombol lampu di dekat pintu berkali-kali, memberi sinyal kedipan cepat pada kapal besi yang terbang dengan posisi janggal di kejauhan. Menengok, aku melihat cerminan rasa terganggu yang sama terlukis di wajah Edward. Sedetik kemudian, kontak mata kami berakhir. Kami berdua kembali menatap ke arah kapal udara raksasa itu yang kini semakin jelas sosoknya. Ketika kapal udara itu resmi masuk, segala keanehan yang tadi terlihat, mewujud menjadi nyata.

Sekali lagi ada kapal yang rusak parah.

Cahaya fajar dari pintu hanggar yang terbuka menerangi badan kapal udara di atas enam tiang penyangga hidrolik yang langsung mencengkam tiap kaki kapal saat mendarat. Aku menjengit, merasakan kesan familiar yang mengusik nalar.

Sama, tapi di saat yang sama ... berbeda.

Kerusakan kapal ini sama seperti kerusakan parah dari dua kapal udara lain yang datang ke hanggar selama satu minggu ini. Namun jenis kapal udara yang mendarat hari ini adalah kapal udara sipil, bukan kapal udara militer seperti dua kasus sebelumnya.

Kuamati setiap detail kerusakan kapal udara bagian luar. Atap sampai haluan remuk tak berbentuk, salah satu baling-baling utama hancur, menyisakan tiga baling-baling utama yang mulai berasap karena tugas yang terlalu berat. Puluhan lubang-lubang seukuran kepala, masih berasap dan bercahaya merah bara api, bersarang di sepanjang sisi samping kapal. Sebagai pelengkap, belasan goresan panjang membentang lebar mengikuti bekas tembakan meriam, dari bagian ekor hingga haluan.

Kapal udara ini akan sangat sulit diperbaiki.

Mustahil sebenarnya adalah kata yang tepat, tapi para pengawas tidak akan mengizinkanku atau siapapun berkata demikian.

Benar, mustahil.

Mustahil?

Sesuatu di dalam diriku tergelitik.

Sebenarnya tidak terlihat semustahil itu. Sedikit keajaiban las pada sudut yang tepat dan penempelan lempeng baru yang benar akan membuat goresan mengerikan itu tertutupi. Lubang-lubang itu bisa ditambal dengan lempeng-lempeng baja baru yang banyak tersedia di ruang penyimpanan. Dengan satu baling-baling baru, di bawah tangan terampil, empat baling-baling utama akan menyala kembali seperti tidak ada masalah. Secara teori memang mudah, tapi mewujudkannya adalah tantangan tersendiri.

Lazarus ChestTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang