prolog

8.5K 591 20
                                        

Siapapun dia, sekuat apapun dia dalam menghadapi masalah, kalau soal cinta mungkin ia juga bisa rapuh.

Arin memang mencintai Aryan, namun cinta nya tak bisa membuat mereka bertahan. Mungkin, sebuah perpisahan memang akhirnya. Jika memang ini adalah keputusan terbaik, Arin akan mencoba melapangkan dada. Walaupun sulit.

Percayalah, melupakan seseorang tidak semudah membalikan telapak tangan.

Apalagi, dia adalah orang yang sangat kita cintai.

Mungkin, kita hanya butuh beberapa detik untuk memastikan kita sudah jatuh cinta. Namun, butuh waktu yang sangat lama untuk bisa melupakan.

Ayolah! Kemana Arin yang dulu? Yang selalu ceria tanpa ada rasa beban apapun?

Sial! Arin menangis lagi. Dan bodoh nya, ia menangisi seseorang yang bahkan sangat mustahil untuk menangisinya.

Bisakah berbalik arah?

Arin tidak ingin sakit hati. Namun ini lah yang terjadi saat ia telah merasakan jatuh cinta.

"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" pekik nya. Arin benar benar merasa terpukul.

"Kenapa gue harus kenal sama lo, sih, Yan?" seru Arin dengan air mata yang deras. "Kenapa lo harus janji kalau akhirnya lo nggak bisa tepatin?" sambungnya sambil terisak pilu.

Cinta. Satu kata yang menurut hampir semua orang membawa kebahagiaan. Namun, itu semua tidak berlaku untuknya. Karena kenyataannya—

Cinta adalah hal yang paling menyakitkan yang pernah ia rasakan.

L E T T I N G G O

letting go Where stories live. Discover now