PROLOG

938 524 146
                                        

Tandai jika ada typo 🙌

Di mana pun kalian berada, semoga sehat selalu yaa‼️💗

Jangan lupa vote and coment teman-teman.

~⁠♪ Kembali pulang - Feby putri ♪ ~

~⁠♪ Kembali pulang - Feby putri ♪ ~

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

*****

Bughh

Pria paruh baya yang diketahui sebagai ayah nya itu seketika menonjok dirinya dengan tenaga yang cukup besar.

Sehingga laki-laki tersebut memejamkan matanya, merasakan sedikit ngilu yang menjalar akibat pukulan sang ayah. Namun, di detik berikutnya, ia tertawa terbahak-bahak. Tawa yang terdengar memilukan—

"AYO TONJOK LAGI KALO LO BELUM PUAS, BUNUH GUE AJA SEKALIAN. HIDUP LO DIJAMIN AMAN SENTOSA." Laki-laki itu berteriak dan menajamkan matanya, saking kesalnya terhadap pria paruh baya yang ada di hadapannya ini.

Ia memajukan sedikit langkah nya, dan ia mencekal lengan pria paruh baya yang berada di hadapannya ini, lalu kemudian ia mengarahkan lengan tesebut ke arah wajah tampannya. Seakan-akan menyuruh pria paruh baya itu untuk mengulang hal yang sama seperti tadi.

"Ayo pukul lagi. Pukul sampe gue mati, gue muak an**ng."

Terjadi keheningan di antara keduanya, mereka berdua saling beradu tatap. Ia menatap pria paruh baya itu dengan tatapan yang penuh akan dendam. Sedangkan pria paruh baya itu menatap ia dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.

Hingga di seperkian detik, pria paruh baya yang berstatus sebagai ayah nya itu menepis cekalan tangan darinya, dan meninggalkannya dengan begitu saja.

Sekarang, di ruangan tersebut hanya ada dirinya. Napasnya naik turun, gemuruh di hatinya sangat berisik.

Ia terduduk dengan menekuk lututnya, pandangan matanya terlihat sangat menyedihkan. Ia mengacak-acak rambutnya, seperti orang yang sedang frustasi.

"Gue capek, bangsat! Gue benci sama lo sialan."

"Andai gue bisa ikut pergi sama mama, mungkin ga akan gini."

"Mah, mereka selalu nyalahin aku atas kepergian mama." Rintihan dari mulutnya sangatlah memilukan. Dengan kondisi wajah yang kebiru-biruan akibat bogeman yang ia dapat dari sang ayah.

Masalah dalam hidupnya seringkali berdatangan.
Sudah 10 Tahun kepergian ibunya, kehidupannya seakan-akan hilang arah. Dunianya menjadi suram.

_______________________________________

Pukul 07.00 pagi

Seperti biasa, siswa-siswi dari SMA 1 Cendikia, berlalu-lalang melewati koridor sekolah. Ada yang pergi ke kantin, ada yang ke perpustakaan, ada yang bergibah di depan kelasnya, dan ada juga yang berlari-lari.

Dari arah koridor depan, segerombolan most wanted berjalan dengan begitu angkuhnya. Dengan dipimpin oleh seorang Mahadevan Abhi Grigara. Sosok yang digilai oleh kaum hawa dan sosok yang paling disegani oleh siswa-siswi di SMA ini.

Semua atensi mengarah kepada mereka, jeritan demi jeritan telah mereka lontarkan.

"OMG! Demi Jungkook jadi suami guee, tumben banget ayang mbeb datangnya jam segini. Biasanya juga sering telat."

"Demi apa? Itu si Devan sama circle nya tumben banget datang lebih awal."

"Coba na cubit gue, itu beneran ayang Devan kan."

"Awwww, sakit bego."

"Katanya gue suruh nyubit elo. Gimana sih."

"Mamaaa, mau jadi istrinya Devan."

"Devan nikah yuk."

"Laskarrrr ganteng banget"

"DEVANNN MAU GA LO JADI PACAR GUE."

"Awww Devan, pangku eneng dong."

"Devan ya ampun, kegantengan lo ga pernah berubah ya."

"Bumi, colek aku dong."

"Love you Gempa."

"Haduh, kalo gabisa Devan. Gue mau Gempa aja dehhh."

"Gempa, Devan. Mau ga, jadi pacar aku."

"HUUUUU MARUK LU."

"Milih sambil merem juga gabakal nyesel."

"Bismillah dapat Devan."

Begitulah kira-kira teriakan-teriakan yang mereka lontarkan

Dirasa sedari tadi menjadi pusat perhatian, Mahadevan seketika menghentikan langkahnya, begitupun dengan teman-temannya.

"Mampus lo pada." Celetuk salah satu teman Mahadevan.

"BERHENTI LIATIN GUE! ATAU MATA KALIAN GUE CONGKEL SEKARANG JUGA!."Suara Mahadevan terdengar sangat mengggelar di area koridor ini. Dan hal itu mampu membuat mereka bungkam dan ketakutan.

Mereka berhamburan pergi dari area koridor tersebut. Mereka tidak ingin terkena masalah.

"Nah kan, kicep juga kalian." Ujar teman Mahadevan.

_______________________________________

"Aku ga boleh nyerah, di luaran sana masih banyak orang yang lebih rumit masalah hidupnya dari aku." 

"Tapi— rasanya berat banget."


To be continued 💗

Next chapter ⤵️
Terima kasih, dan jangan lupa tinggalkan jejak .

Abhipraya Where stories live. Discover now