"Ricksen, kamu sebagai ketua OSIS berperan sangat penting dalam pelaksanaan MPLS nanti. Kamu harus membantu Ibu mempersiapkan segala kebutuhan selama MPLS berlangsung. Bisa, Ricksen?" Suara tegas Ibu Jean, guru bidang kesiswaan SMA Ganesh, menggema di ruang rapat.
Seluruh anggota OSIS dan Pramuka kini berkumpul untuk membahas pelaksanaan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah).
Ricksen Theodore Arlenzo.
Ketua OSIS SMA Ganesh Yogyakarta.
Lelaki berwajah datar dengan sifat tegas. Irit bicara kecuali jika membahas hal penting. Bertanggung jawab dan selalu berperan besar dalam setiap acara sekolah. Pria itu duduk di kelas XII IPS 1.
Ricksen mengangguk mantap. "Siap, Bu. Bisa." Suaranya lantang. Tegas.
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin agar pelaksanaan MPLS berjalan lancar." Lanjutnya.
Ibu Jean mengangguk puas. Pandangannya kini beralih pada sosok yang duduk di sebelah Ricksen.
"Nicho, Ibu minta kamu bantu Ricksen."
Arnicho Algeo.
Anggota pramuka tingkatan penegak.
Aktif di berbagai kegiatan pramuka, baik di dalam maupun luar sekolah. Seluruh sekolah mengenalnya dengan julukan "Si Paling Pramuka."
Nicho berdiri tegap dan tersenyum lebar. "Siap, laksanakan, Bu!"
Dia memberi hormat dengan santai, memancing tawa kecil beberapa anggota yang lain.
Jika Ricksen dikenal dengan wajah datarnya, maka Nicho adalah kebalikannya—selalu tersenyum lebar seolah hidup tanpa beban.
"Oh iya, kalian semua segera diskusikan kegiatan apa saja yang akan dilaksanakan saat MPLS nanti. Kirimkan hasilnya ke Ibu secepatnya." Ibu Jean menambahkan sebelum menutup rapat.
"Siap, Bu!"
Jawaban serempak menggema.
Ibu Jean tersenyum bangga. "Bagus. Ibu yakin kalian bisa bekerja sama dengan baik. Bagaimanapun, ini peran terakhir kalian di MPLS SMA Ganesh. Buatlah berkesan."
"Siap, Bu!"
★★
Gadis bermata cokelat dengan senyum cerah berlari menuruni tangga begitu mendengar suara motor berhenti di depan rumah.
"Bang! Martabak cokelat aku mana?"
Matanya langsung mencari-cari sesuatu di tangan abangnya yang kosong.
Laurence Iveline Algeo.
Adik manis Arnicho Algeo.
Gadis dengan senyum yang sering kali mengembang—kecuali saat dia sedang kesal.
Nicho berjalan lesu ke sofa. Setelah melepas ransel, dia menghembuskan napas panjang. Lelah.
Laurence duduk di sampingnya dengan tatapan penuh tanya.
"Gak ada martabak," jawab Nicho pelan. "Tadi abang gak lewat tempat jualannya. Abang habis dari rumah temen. Capek banget."
Dia membelai puncak kepala adiknya.
Laurence langsung mengerucutkan bibir. "Ih! Abang ingkar janji! Tadi pagi abang janji mau bawain martabak. Janji kan harus ditepatin, abang!"
Dia menepis tangan Nicho dengan kesal.
Nicho menghela napas lagi. "Maafin abang, ya? Seriusan, abang capek banget. Kalau abang lewat tempat jualannya tadi, malah makin jauh. Besok abang beliin deh. Janji."
Dia menyondorkan kelingking dengan senyum memohon.
Laurence berdiri sambil mendengus. "Abang janji mulu. Janji tadi pagi aja gak ditepatin, bikin janji lagi. Kesel!"
Tanpa menunggu jawaban, dia berlari menaiki tangga dan membanting pintu kamarnya.
Nicho menepuk dahinya frustrasi. "Hadeuh... Gak dibeliin bisa ngambek dua hari, dua malam, nih."
Setelah mengganti pakaian, Nicho turun ke garasi. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat sesuatu yang aneh.
Ban motornya kempes.
"Ck... Kapan gue nabrak paku?"
Dia berjongkok, menatap ban dengan sebal.
Setelah berpikir sejenak, Nicho kembali ke dalam rumah dan meraih ponselnya. Dia menelepon seseorang.
"Halo, Rick?"
"Hmm, apaan?"
Suara Ricksen terdengar datar di ujung telepon.
"Gue minta tolong, bisa ya?"
Nicho mencoba membujuk.
"Ck, males gue."
"Yaelah, minta tolong banget, nih. Lo kan sahabat gue yang paling baik. Bisain dong, Rick."
Nicho menahan tawa kecil, mencoba meluluhkan Ricksen.
"Alay lo! Bantuin apaan? Cepet."
Nicho menggaruk kepala, sedikit ragu.
"Beliin dua martabak di simpang jalan Gerhana. Cokelat sama kacang. Bawain ke rumah gue. Uangnya gue ganti dua kali lipat. Ban motor gue kempes, nabrak paku."
Hening sejenak.
"Ck... Lo nyuruh gue beliin makanan malam-malam gini. Lo pikir gue GoFood pribadi lo?"
Nada suara Ricksen terdengar kesal.
"Serius, Rick. Minta tolong banget. Adik gue marah gara-gara tadi pagi gue janji beliin martabak, tapi gak gue tepati. Please, Rick."
Ricksen mendengus. "Ck. Adik lo nyusahin. 20 menit lagi gue sampe."
Tanpa menunggu jawaban, Ricksen langsung memutus sambungan telepon.
Tut... Tut... Tut...
Nicho menggeleng sambil tersenyum kecil. "Ck... Punya temen gini amat."
•••
Halo, halo, hai :)
Call me Vio.
Semoga kamu suka cerita ini.. :)
Support aku dengan tinggalkan jejak dan ramein. Vote bintang dibawah dan comment ya.. Gratis kok😊.
Salam hangat, Pena Vio.
YOU ARE READING
RICKRANCE
Teen Fiction"Love at first sight." - Ricksen. Ricksen Theodore Arlenzo. Ketua OSIS SMA Ganesh Yogyakarta, dikenal dengan wajah datarnya yang tegas dan sikap dinginnya yang sulit ditebak. Tapi siapa sangka, di balik sosok tanpa ekspresi itu, hatinya bergetar heb...
