"Diva? Sini," ajak Albian saat melihat Diva turun dari gendongan Bi Irma. Sedangkan Bi Irma membantu majikannya masak di belakang.

Bocah kecil itu itu berjalan pelan sambil mengucek sebelah matanya menuju para anak laki-laki itu. Setelah sampai Diva langsung memeluk Albian, sambil sedikit merengek. Albian juga tahu seperti ini lah gambaran Diva juga bangun tidur, pasti merengek.

"Kenapa, hm?" Albian mengelus rambut bocah itu.

"Hai, Diva! Aku punya permen, kamu mau nggak?" ucap Hazen sambil merogoh isi ranselnya lalu mengeluarkan permen lollipop.

Diva yang tertarik dengan permen itu langsung menoleh ke arah Albian, dalam dirinya bertanya apa boleh ia mengambil permen itu dari Hazen?

"Kalau Diva mau, ambil aja," Diva langsung berdiri dan menghampiri Hazen.

"Bilang makasih sama Kak Hazen, Diva." lanjut Albian.

"Maacih," ucap Diva pelan.

Beberapa dari mereka tersenyum karena melihat Diva yang sangat menggemaskan.

"Sama-sama anak cantik,"

"Jangan bilang lo sogok Diva buat jadi bokap sambungnya ya?" tanya Jeandra.

"Lo daritadi jangan bilang jangan bilang, gue kepret tau rasa lo!"

Ucapan Hazen mengundang tawa orang yang ada disana, sedangkan Diva berlari menuju Albian kembali lalu duduk di pangkuan Albian.

"Pelmen," gadis kecil itu menunjukkan permen lollipop yang diberikan Hazen tadi ke depan muka Albian.

"Iya, permen. Makan nasi dulu baru makan permennya ya," Diva mengangguk.

**•̩̩͙✩•̩̩͙*˚*•̩̩͙✩•̩̩͙*˚*


"MAS BIAN BANUN!"

"BANUN! UDAH CIANG!"

"MAS BIAN! UDAH JAM CEMBILAN!"

teriakan Diva terakhir berhasil membuat si pemilik kamar terbangun, dirinya merasa terkejut setelah Diva mengatakan bahwa sudah pukul sembilan. Gadis kecil itu berteriak sambil melompat-lompat di atas ranjang.

"Masih jam enam, Diva." ucap Albian dengan suara serak, khas orang baru bangun tidur.

"Kata Bi Ilma culuh biyang jam cembilan," Diva terduduk di atas paha Albian dan memeluk lelaki itu.

Albian yang masih setengah sadar langsung membalas pelukan Diva sambil mencium pucuk kepala Diva.

"Sekolah ya nanti sama Bi Irma,"

"Nda mau,"

"Kenapa nggak mau?"

"Mayes,"

"Nggak boleh males ah, Mas Bian kasih tau mama nih."

"AAAAA JANAN!" Diva kembali berteriak.

Albian tertawa melihat kegemasan Diva, lelaki itu langsung menggendong Diva untuk keluar kamar menuju Bi Irma yang berada di ruang makan.

"Bi, Diva udah mandi?" tanya Albian yang masih membopong tubuh mungil Diva. Gadis kecil itu hanya mengayunkan kedua kakinya.

"Belum, Mas."

"Kamu aja belum mandi, masa udah bangunin Mas Bian," ucap Albian lalu menyerahkan tubuh mungilnya Diva untuk digendong oleh Bi Irma.

Setelah itu Albian kembali ke kamar untuk mengecek ponselnya, barang kali ada pesan yang masuk. Namun ternyata tidak ada, kontak paling atas tertera nama Alika yang sengaja ia sematkan. Tanpa segan ia mengetik sesuatu yang membuat dirinya tersenyum sendiri.

Albian Najendra : Meisha, mau berangkat sekolah bareng nggak?

Tidak lama kemudian Albian mendapatkan balasan dari pesannya itu yang kebetulan Meisha juga sedang online.

Meisha Kalisha : Kak Bian mau jemput?

Albian Najendra : kirim alamat lo aja

Meisha Kalisha : 📍Location

Albian Najendra : Oke, gue mandi dulu

Sedangkan ditempat lain tepatnya dirumah Meisha, gadis itu tertawa sambil mengunyah sereal yang ia makan.

Sudah pukul enam lewat Albian belum mandi? sedangkan Meisha saja sudah rapi tinggal menghabiskan sarapannya lalu berangkat, tapi sepertinya saat ini ia harus menunggu Albian menjemputnya.

Dalam hati Meisha sangat senang, padahal dirinya belum ada pendekatan dengan Albian tapi kenapa Albian sudah memberanikan diri untuk menjemputnya? Ah, apalagi pagi ini Santi tidak pergi ke butik, sudah pasti Mamanya akan melihat Albian.

Selang beberapa menit waktu Meisha dihabiskan oleh kegiatan menunggu seseorang, setelah menghabiskan sereal gadis itu langsung duduk di teras rumah untuk menunggu Albian yang katanya akan menjemput.

"Cacha? Kok belum berangkat?" tanya Santi sambil membawa air untuk menyiram tanaman.

"Kak Bian belum datang, Ma."

Meisha sudah mengatakan bahwa dirinya akan dijemput oleh Albian, Santi kira Albian adalah kekasih Meisha namun gadis itu berkata bahwa Albian hanya Kakak Kelas disekolahnya.

"Dia mau jemput jam berapa? Ini udah siang, sayang." ucapan Santi membuat Meisha menunduk, apa Albian berbohong soal ia akan menjemput?

Sedetik kemudian terdengar suara sepeda motor yang berhenti di depan gerbang rumah Meisha, dengan cepat Meisha berlari kecil untuk menemui seseorang yang memarkirkan sepeda motor di depan rumahnya.

Meisha tersenyum, akhirnya yang ditunggu pun tiba. Albian yang melihat Meisha membuka gerbang itu pun turun dari sepeda motornya untuk memberikan satu helm yang ia letakkan di belakang kepada gadis itu.

Meisha menerima helm pemberian Albian, lalu melihat lelaki itu menghampiri Mamanya yang baru saja menghampiri mereka.

"Assalamualaikum, Tante." ucap Albian setelah mencium punggung tangan Santi.

"Waalikumsallam, kamu yang namanya Albian?"

"Iya, Tante. Saya Albian,"

Santi mengangguk paham. "Yaudah kalau gitu bawa motornya hati-hati ya,"

"Iya, Tante. Siap."

Meisha tertawa pelan melihat Albian berbicara dengan Mamanya, seperti orang yang sudah lama akrab padahal hari ini baru pertemuan pertama mereka.

"Cacha berangkat ya, Ma." Meisha mencium punggung tangan Santi, begitupun Albian yang menyusul mencium punggung tangan Santi.

Santi mengangguk dan tersenyum lalu melihat putrinya berangkat sekolah bersama Albian.

* * *

TBC

Yeay bisa update lagi, Alhamdulillah.

Jangan lupa vote untuk chapter ini ya!

Bantu promote juga, ajak teman-teman kalian buat baca ALBIAN !

IG : anzolv_

ALBIAN || SCOUPS [On Going]Where stories live. Discover now