"Aku hanya memenggal ..., membunuh targetku dengan memberikan rasa sakit, jika targetku itu memang pantas mendapatkannya, menurut penilaianku," gumam Elen.
"Jadi kau sudah menyiapkan racun ini untukku?"
"Itu benar. Seseorang sepertimu pasti memiliki sesuatu yang ingin disampaikan untuk terakhir kalinya. Katakan saja," ucap Elen.
"Eh? Hahahaha, kau sangat lucu. Jadi kau tak memenggalku karena hal itu. Aku kan sudah mengatakannya sebelumnya. Aku hanya punya dua adik. Itu saja."
"Begitu ya, racun itu sebentar lagi akan menyebar. Jadi tunggu sebentar lagi," ucap Elen lalu hendak berdiri.
Tangan Vito memegang Pundak Elen. "Tunggu!" Elen melirik, kembali terduduk. "Aku memang telah dikendalikan oleh Sistem. Aku terpaksa berkhianat agar kedua adikku bisa melanjutkan hidupnya. Hanya saja, rasa takut terus saja menghantuiku," ucap Vito.
"Katakan apa pun yang ingin kau sampaikan, sampai kematian menjemputmu."
"Baiklah. Pertama-tama, sampaikan maafku pada Kirei dan seluruh angkatan kita. Tidak masalah, jika mereka akan marah padaku. Aku akan menerimanya."
"Lalu?"
"Selain kedua adikku, aku memiliki seorang ibu, dan juga seorang ayah, bisakah kau sampaikan juga pesan terakhirku pada mereka?"
"Tentu saja."
Vito memberitahu Elen apa pun yang ingin ia katakan pada Elen. Dengan wajah yang sangat tenang, ia seolah telah menerima akhir dari perjalanannya, seperti apa pun nanti akhir perjuangannya di sekolah tersebut. Dan pada akhirnya, ia berakhir menjadi salah satu alat Sistem di sekolah itu. "Oh iya, terima kasih atas segalanya. Aku senang bisa bertemu dan berakhir ditanganmu," ekspresi Elen berubah sesaat.
"Terima kasih?"
"Sejak awal, firasatku mengatakan jika suatu hari nanti, aku mungkin akan berakhir seperti ini. Aku selalu melakukan yang terbaik, mengumpulkan banyak poin agar berguna nantinya."
Elen mengernyitkan dahinya. "Kau mengumpulkan poin sebanyak ini untuk siapa? Kau akan berakhir hari ini. Lagi pula, poin sebanyak ini bisa mengikat banyak anggota tahun pertama dan ...." Elen kembali melirik ke arah Vito yang sedari tadi tersenyum ke arahnya.
"Kau sudah menyadarinya. Aku sengaja memberikan poinku padamu, karena aku percaya padamu. Hari ini, mungkin kau belum mengerti. Tetapi seiring berjalannya waktu. Kau akan menyadari betapa kerasnya perjuangan mereka. Walau begitu, memang sulit menyatukan mereka. Tapi aku yakin kau pasti bisa. Diantara yang lain, kau sangatlah peka dan mudah membaca situasi. Mereka yang selamat hari ini, mereka adalah orang-orang yang berharap masih bisa kembali dan pulang ke rumah mereka."
"Kau juga sama kan?" ucap Elen.
"Hmm. Tetapi aku telah memilih akhir dari hidupku."
"Sepenting itu arti rumah bagi kalian?" ucap Elen. Vito mengukir senyum hangat.
"Setiap orang mengartikannya berbeda. Tergantung, seperti apa suasana rumah tempat mereka tinggali," gumam Vito. Ia tampak merindukan rumahnya, dan berharap kembali seperti yang lain.
"Aku mengerti, Kau sudah berjuang Vito. Tetapi perjuanganmu mungkin akan segera terlupakan," ucap Elen.
"Tidak masalah, aku malah menganggap perjuanganku ini adalah bagian dari kerja kerasku untuk lulus dari sekolah ini. Walau aku ..., aku harus keluar lebih awal dari yang seharusnya," ucap Vito. Ekspresi Elen sulit untuk diartikan, entah kenapa ia menatap Vito dengan tatapan yang mungkin dirinya sendiri tak mengerti akan hal itu. "Pertarunganku di sekolah ini telah selesai. Aku akan segera kehabisan tenaga dan mati," lanjut Vito. Vito menatap ke arah Elen sejenak, membuat Elen merasa agak risih dengan hal itu. "Dengar, mau seberapa lemah dan tak berdayanya dirimu, korbankan hatimu. Seperti yang kau lakukan sekarang padaku. Tetaplah menatap ke depan. Walau sulit untuk mengorbankan sesuatu yang kau anggap penting. Itulah yang aku pelajari saat aku melihatmu untuk pertama kalinya," jelas Vito.
"Kenapa? Aneh, kau bicara seolah aku peduli saja denganmu. Aku bahkan tidak tau, apakah poinmu, masih ada padaku atau tidak. Secara tidak langsung, seseorang terus saja mengawasiku," ucap Elen.
"Hahaha, aku tau. Seorang Assassin pernah mengatakan hal itu padaku. Aku yakin itu kau, setelah melihat nomor tahananmu," ucap Vito.
"Assassin?"
"Kau ..., kau adalah Assassin Peringkat atas, kan? Tepatnya, kau adalah tahanan khusus 2099, kelas S.X-1. Kau adalah Assassin pengkhianat dan seorang buronan. Hanya orang-orang dengan tingkat kriminal berbahaya yang akan masuk ke kelas S.X-1," ucap Vito.
"Jadi mereka masih mencari tau tentangku. Tapi kau salah, aku bukan Assassin, dan juga bukan buronan. Mereka saja yang terlalu waspada denganku, hanya karena Kak Isa yang mengawasiku terakhir kalinya. Selain itu, aku bahkan tak lulus ujian tahap ke dua Assassin. Jadi lupakan hal memalukan itu," ucap Elen.
Vito tertawa kecil. "Kau lebih mengenal mereka dibandingkan aku. Berhati-hatilah Elen, kemungkinan pemerintah pusat akan memasukanmu kedaftar buronan, jika mereka tau kau berada di RL School. Jika itu terjadi, maka sulit bagimu untuk menemukan bukti seputar hubungan Tuan Forger dengan Sistem ini," jelas Vito.
Elen kembali melirik Vito. "Aku mengerti. Jika hanya berdiam diri dan terus meratapi, aku hanya akan kehabisan waktu dan membuang-buang waktuku saja. Karena waktu akan terus berjalan dan tak berhenti. Waktu tak akan tersenyum atau pun bersedih. Itu yang ingin kau katakan, kan," ucap Elen.
"Ah hahahha. Sebagai anggota tahun pertama, aku sudah melakukan tugasku untuk melindungi satu sama lain. Anggota lain juga pasti berpikiran sama denganku. Sebagai anggota tahun pertama, aku percaya padamu, Eleanor," ucap Vito dengan senyum manis ke arah Elen, lalu ia mengangkat tangannya dan menepuk pelan kepala Elen.
"Mungkin hanya kau saja yang berpikir seperti itu." gumam Elen.
"Terima kasih." Vito menutup matanya. Ia telah melakukan sesuatu yang luar biasa untuk teman-temannya. Elen membaringkan tubuh Vito perlahan. "Siapa sebenarnya yang mengendalikan Sistem ini? Ingatan ini sangat menyusahkanku. Kak Isa, kenapa dia melakukan ini padaku?" gumam Elen.
YOU ARE READING
Bad & Crazy School (Terbit)
Mystery / ThrillerOLD VERSION!! CERITA INI ADALAH CERITA SURVIVAL, DAN SUDAH BERISI SEASON 1, 2 DAN 3 [High School Of The Elite] Eleanor, seorang anak dari tahanan khusus yang memiliki masa lalu kelam akan kekalahannya dalam uji coba pelatihan wajib milter. Setelah m...
• • - - -/ - - - • •
Start from the beginning
