Mark

44 7 0
                                        

Laura terjaga dalam tidurnya dari mimpinya yang manis, dari balik jendela kamar menyelinap seberkas cahaya mentari. Laura beranjak dari ranjang berjalan membuka tirai jendela sinar mentari langsung menyambut pagi, burung-burung berkicau merdu memberikan salam pagi.

Ini jam 06:00 Hari Jum'at, dirinya segera mandi bersiap-siap sekolah.

Badannya terasa segar Laura telah memakai setelan baju sekolahnya. Segera dia menuju ke lantai satu menggunakan lift mana mungkin menggunakan tangga dia berada diatas lantai lima Laura akan kena omel kakaknya Laskar. Laskar berkali-kali menelpon untuk segera turun kebawah bersiap sarapan.

"lama sekali." omel Laskar.

''jangan banyak begadang kamu mikirin apasih sampai bengkak begitu mata?'' tanya Laskar sembari membuka nasi kuning dan memberikan kepada adiknya.

"nonton film" jawab Laura singkat.

"bunda sudah sarapan?" tanya Laura kepada kakaknya.

Laskar mengangguk "sebelum pergi temui bunda"

"tentu" Laura mengangguk.

sudah menjadi kebiasaan kedua saudara itu selalu menemui bundanya sebelum berangkat sekolah.

"bunda?" Laura mengetuk dan membuka pintu terdapat bundanya yang terbaring lemas di ranjang. Dia dan Laskar menghampiri bundanya, bunda tersenyum manis wajahnya tetaplah ayu walau pucat.

"Laura sekolah ya bunda, kalo ada apa-apa panggil mba Lia. Bunda banyak istirahat ya, bunda pasti sembuh." Laura mengenggam tangan bunda menciumnya dan mengecup kening bunda yang ia sayangi.

''Laskar pergi kerja bunda, bunda tidak usah pikirkan firma hukum semuanya aman, tentrem. Sekarang bunda harus sehat." Laskar mengecup kening bunda.

Anne mengangguk mengiyakan kata anak-anaknya.

Di perjalanan menuju sekolah Laura mengobrol santai dengan Laskar. Biasanya Laskar terkadang sibuk dengan tabletnya sibuk dengan semua dokumen kasus yang sedang ia tangani, tapi untuk sekarang Laskar mengabaikannya sebentar dia ingin memberikan waktu untuk adiknya yang ia sangat sayang.

"3 bulan lagi kamu akan ujian persiapkan dari sekarang untuk kuliah, bukankah cita-cita mu sejak kecil dokter? Aku akan menyekolahkanmu di tempat yang jauh, Jepang.'' Tawar Laskar memperlihatkan berbagai universitas yang di jepang.

"mari bernegosiasi, aku tidak ingin di Jepang itu masih Asia. Maka itu tidaklah jauh, aku memilih di Canada, Toronto. Benua America jauh dengan Asia, Bagaimana?" Laura mencoba bernegosiasi.

"tidak di Canada yang ada kamu berpacaran Laura, bukannya belajar. Kesampingkan dulu pacarmu itu cita-cita jauh lebih penting dari berpacaran. Dan ingatlah jangan terlalu terbius bujuk rayu para lelaki yang haus akan belaian." Laskar menolak tawaran Laura sekolah di Canada, dia takut jika Laura tidak sekolah dengan benar, atau takut dengan hal yang dia takuti.

"aku tetap ingin di Canada, kenapa semuanya harus kemauan kakak sih? Kak Laskar tau kan sedari kecil aku bercita-cita ingin sekolah  di Canada aku ingin disana."

"itu karena bentuk kasih sayangku kepadamu, dan aku yakin Canada menjadi tempat yang kamu benci yang tidak ingin kamu kunjungi lagi. Aku akan menyekolahkanmu di Jepang. Tidak ada penawaran"

"Tuhan kenapa aku punya kakak sialan seperti dia? Oke kak kalo aku tidak di Canada mungkin sekali-kali aku boleh mengunjungi pacarku yang akan melanjutkan pendidikannya disana."

"Tuhan kenapa adikku ini murahan sekali perbaiki dia Tuhan" sarkas Laskar. "Jika itu kemauanmu aku memperbolehkanmu ke Canada hanya satu minggu tidak lebih"

LAURA [ON GOING]Stories to obsess over. Discover now