♡29: Gone♡

123 58 133
                                    

Bulan masih duduk dan menyandarkan kepalanya di bahu Ferdi.

Ia ingin mendengarkan cerita apa saja dari Papinya. Memandang wajahnya yang sudah banyak kerutan membuat hatinya berdesir. Papinya tidak lagi semuda dulu.

Waktu itu terlalu cepat berlalu. Ada sedikit penyesalan mengapa ia tidak menyisihkan waktunya untuk berbicara dengan mereka.

Memang benar mereka jarang bertemu karena terhalang kesibukan masing-masing. Terlebih sikap Ferdi dan Gabriela yang membuatnya enggan untuk menyapa duluan.

Jadi, ia ingin menghabiskan sisa waktu yang ada bersama Papi. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi dan memandang wajah tampan Ferdi, sambil sedikit bermanja padanya.

Dari kecil ia sudah dididik dengan keras supaya tidak manja. Jadi, ia sedikit iri dengan teman-temannya yang bisa bermanja-manja dengan orang tuanya.

“Nak, kalau kamu tahu kenyataan ini. Kamu pasti benci sama Papi,” ujarnya sendu.

Bulan merengut heran. “Memangnya apa itu Papi?”

Ferdi terdiam sejenak. “Kamu punya saudara tiri, Nak. Papi sudah beberapa tahun menikah dengan Mami, tapi masih belum dikaruniai anak,"ceritanya.

"Jadi, Papi lampiaskan saja kekecewaan dengan terus bekerja. Mami yang masih harus banyak istirahat akhirnya cuti bekerja dulu.”

“Lalu Papi?”

“Lalu, Papi jatuh hati dengan sekretaris Papi. Namanya Santi, dia muda dan begitu semangat. Dia juga perhatian sama Papi ketika Papi jenuh menghadapi sikap Mami yang mood-nya masih belum stabil.”

Ferdi menghela napas panjang.

“Malam itu, Papi dan Mami berantem hebat. Papi memutuskan untuk pergi dan kembali ke kantor. Di sana, Santi masih ada karena dia lembur mengerjakan tugasnya. Lalu, hal itu terjadi," ceritanya.

"Kamu punya saudara tiri, Nak. Itu kebenarannya yang membuat Mami terluka. Ia baru tahu, Nak. Papi menutupi semua terlalu rapi, hingga tidak sadar jika suatu hari semua akan terbongkar.”

Mata Bulan sudah berkaca-kaca. Bagaimana mungkin Papinya melakukan kesalahan sefatal ini?

Tidak lama kemudian ada yang mengetok pintu, Bulan kira itu Sky yang datang ke ruangan. Ternyata yang datang adalah tiga orang yang dikenalnya.

“Halo om, selamat sore. Gimana kabar om?” tanya salah seorang dari antara mereka dengan hangat.

Entah kenapa perasaan Bulan
tidak enak. Apa dia terlalu banyak berpikir negatif ya?

Ferdi tersenyum sambil mengedipkan matanya, ia tahu kehadiran cowok yang baru datang itu membuat anak gadisnya jadi merona malu.

"Duh, kenalin dong ini siapa," goda Ferdi.

Gelak tawa pun hadir membuat suasana semakin hangat, tapi hati gadis itu malah berdegup kencang.

Bukan salah tingkah, tapi ada yang aneh.

"Ini kakak kelas Bulan, Papi. Namanya Kak Lavenia, Kak Rida, dan Kak Joy."

"Temen apa temen nih?" goda Ferdi lagi.

Bulan tersipu, lalu Joy mengulurkan tangannya.

"Halo om, nama saya Joy. Saya pacarnya anak gadis om yang cantiknya kayak bidadari."

Bulan semakin merona malu.

"Pantes ya lagi dicari bidadari yang hilang, soalnya bidadarinya ada di hadapan saya."

Mereka terus mengobrol, tanpa menyadari wajah Rida dan Lavenia sudah berubah masam dan melirik tajam ke Bulan.

Mereka masih bercakap-cakap. Bulan tersenyum dan mendengarkan saja.

I Am Not Bucin! (TAMAT)Where stories live. Discover now