Ditelan oleh satu rahasia. Milyaran orang mencari jawaban.
Apa kamu juga mempunyai teman tak kasat mata? Aku yang merasa cuek tidak tau jika dia sudah tiada.
□•□•□
Bagaimana perasaan kalian jika dunia yang kalian tatap selama ini berbeda pandangan d...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Ruangan ini berdominasi warna gelap. Suasana mencengkam terasa begitu nyata di tengah-tengah ruangan. Terdapat empat orang gadis dan dua orang pria yang sedang serius membahas suatu hal.
Mereka duduk melingkar memutari meja bundar lebar. Ditambah, terdapat satu lampu gantung yang bergoyang-goyang begitu lambat sangat membuat suasana horor begitu terasa nyata.
Suasana masih terasa tegang nan mencengkam. Mengingat beberapa ruangan khusus kedap suara, dan para gadis tak berani mengeluarkan suara sekecil pun kecuali diperintahkan untuk menjawab lontaran pertanyaan menegangkan.
"Cepat atau lambat kita harus menyelesaikan kasus ini!"
Master Arkan menatap serius keempat orang agen yang masih bau kencur itu. Tatapan mata mengintimidasi khas Master Arkan membuat jantung mereka seketika ingin berhenti berdetak.
"Tenang Master, anda terlalu menekan mereka."
Disebelah kursi Master Arkan terdapat Master Raka yang bertugas memberikan pendapat. Ia tersenyum memaklumi jika gadis-gadis ini tak bisa menyelesaikan tugas secara cepat dan tepat.
"Bagaimana aku bisa tenang! Bahkan ini sudah memasuki tahun ke tiga mereka menjalankan misi!"
Deru nafas Master Arkan terdengar begitu jelas, ia mencoba menelan bulat-bulat semua amarah yang hampir saja meledak. Suasana hening didalam ruangan sangat membuat mereka gusar. Apa yang akan terjadi selanjutnya tidak bisa mereka terka.
"Maaf Master ini kesalahan kami," dengan segenap keberanian yang gadis A miliki tanpa terbata-bata ia bercicit begitu pelan. Misi kemarin lusa gagal karna ia lupa menghapus jejak. Karnannya agen lain yang harus menyelesaikan misi secara cepat.
"Tidak apa-apa, Master Arkan memang seperti ini. Jadi maklumin saja ya?"
Master Arkan berdecak. Raka sangat mengetahui dirinya, sudah pasti ia tidak akan bisa jika melawan ucapannya. Raka lebih tau betul bagaimana diri melebihi dirinya sendiri.
"Berikan kami waktu sampai acara kelulusan. Kami berjanji akan selesaikan semua tugas," telapak tangan gadis C mengepal erat, ucapannya terlihat nyata dan menyakinkan. Tapi harus ada jaminan dari ucapannya tersebut.
Beberapa menit para gadis menegang menunggu keputusan Master Arkan. Tak henti-hentinya mereka merafalkan doa agar permintaan gadis C bisa terkabulkan. Akhirnya Master Arkan mengangguk setuju serta mempercayai janji yang sudah mereka anggap hutang.
"Baik, itu janji kalian. Jika tidak bisa tepat waktu kalian tau bukan konsekuensinya?" Satu alis Master Arkan terangkat. Jarinya selalu mengetuk-ngetuk meja menunggu jawaban dari empat orang agen muda didepannya.
"Siap, kami akan mengundurkan diri dan di eksekusi mati."
"Bagus. Kalau begitu rapat kali ini selesai."
Para gadis menunduk hormat lalu melangkah keluar dari ruangan yang sepertinya tak layak jika disebut ruangan khusus. Mungkin lebih cocok jika disebut sebagai ruang penyiksaan khusus jiwa dan raga.
"Kalian tunggu!"
"Ada apa Master Arkan?"
"Freya, gadis itu akan membantu kalian."
"Maksud Master?"
Master Arkan mengangguk, "tarik Freya, dan kalian akan tau maksudnya."