FreelancerAuthor
"Ma, kapan Abang punya adek?"
Pertanyaan Ravion mengejutkan Muri yang baru saja merapikan pakaian anaknya yang sekarang berusia delapan tahun itu.
"Adek? Tiba-tiba banget nanyain adek. Ada kejadian apa di sekolah sampe kamu bisa kepikiran mau punya adek, Bang?"
Muri sebenarnya panik dan tidak tahu apa yang akan terjadi pada pembahasan ini karena tidak ada orang lain yang bisa menyelamatkannya dari pembahasan ini.
"Kemaren Evan dijemput sama adeknya. Cewek. Masih kecil. Terus Evan dipeluk, terus mamanya Evan video-in gitu. Terus hari ini Evan nunjukkin video dia sama adeknya itu di posting mamanya di Youtube. Terus banyak yang nonton."
Muri ingin sekali menepuk jidat karena terlalu banyaknya hal yang sekarang bisa ditemukan anak-anak di sosial media. Namun, dia tidak bisa melakukannya, nggak boleh ngeluh, Muri harus menjawab dengan taktis agar Ravion tidak merasa lebih buruk ketimbang temannya.
"Mamanya Evan konten kreator?" tanya Muri.
"Hm? Konten apa, Ma?"
Muri tertawa pelan karena Ravion tidak bisa menangkap terlalu cepat ucapan perempuan itu.
"Mamanya Evan kayak vlogger gitu? Youtube-er?"
"Iya! Evan sekeluarga punya akun Youtube, Ma. Seru, deh."
"Jadi, kamu kepengen bikin konten kayak Evan sama adeknya? Atau kamu emang pengen punya adek aja?"
"Ravi pengen punya keluarga, Ma. Isinya Mama, Ravi, Papa, sama Adek. Keluarga lengkap kayak Evan dan temen-temen Ravi yang lain."
Jove, aku nggak bisa begini terus. Aku nggak sanggup denger kalimat anak kita yang kayak gini, Jove.
Muri meringis, dia berusaha kuat agar tidak menangis karena tidak bisa memberikan keluarga utuh untuk Ravion. Sebab Jove, papa dari Ravion, tidak bisa bersama mereka.