Good MOM ✔

By filofrosine

294K 27K 2.8K

Kisah tentang Jessica Jung dan keempat anaknya. Season 1 : End Season 2 : On Going ©2016 filofrosine pres... More

Jessica, Jisoo, Jennie, Rose, dan Lisa (Season 1)
1. Pindah
2. That Crazy Things
3. Lesson
4. Encounter (1)
5. Encounter (2)
6. Friction
6. A Weird Teacher
7. Coquet
8. A Night With Mom
9. Opposite
10. Meet Him
11. Lil Problem
12. Double Trouble
13. Seseorang yang Tidak Asing
14. Dia
15. That Guy
16. Solution
17. Lomba (1)
18. Lomba (2)
20. Birthday Party? (1)
21. Birthday party (2)
22. Meet
23. Believe?
24. Daddy?
25. The End
0.0 [Season 2]
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14. (Spesial Part)
15. (spesial part)
16. (spesial part)
17
18
19
20
21
22

19. Run Run Run

4.6K 505 105
By filofrosine

Pagi itu ada yang berbeda dari biasanya. Bukan karena cuaca yang secerah ini, bukan juga akibat dari masakan pelayan yang selalu berubah-ubah ini. Tetapi percikan kembang api tengah mematik kesana kemari. Dengan kata lain, meja makan tampak lebih hidup dengan keberadaan sebuah perbincangan ringan di sana.

Lisa tampak semangat menceritakan lomba dance-nya yang akan di adakan di sekolah. Dia bahkan hampir berteriak dan menyemburkan seluruh makann dalam mulutnya karena terlalu bersemangat jika tidak dengan segera Rose marahi untuk berhenti bicara. Meskipun begitu tetap saja tidak menghentikan gadis semacam Lisa berhenti untuk antusias. Biarkan saja Lisa seperti itu, karakter semangatnya adalah buah dari sifat ibu dan ayahnya.

"Dan aku akan memenangkan kontes-- uhuukk uhuukk."

Jessica tertawa kecil melihatnya, dia bahkan sampai menyodorkan air minum ke arah Lisa yang sampai terbatuk-batuk menceritakannya. Lisa menerimanya dengan malu-malu, tak biasa dengan suasana cair di meja makan ini.

Setelah Lisa, ada Jennie yang masih saja tak mau mengaku luluh di depan ibunya, kini giliran bercerita tentang lomba musik hip hopnya. Jisoo langsung menganga tak percaya apakah Jennie memiliki kemampuan seperti itu dalam dirinya. Karena setau Jisoo, selain membuat masalah, hidup Jennie itu hanya remahan keripik yang tersapu ke dalam tong sampah. Malang. Hambar. Tidak bervariasi. Eww.

Well, melihat Jennie antusias tetapi malu-malu padahal pada kenyataannya sedikit urakan ini, membuat Jisoo tersenyum dan langsung memeluk Jennie. Sang empunya hanya meronta meminta di lepaskan.

Jisoo juga tak kalah semangatnya bercerita tentang drama musikal yang hendak sekolahnya tampilkan. Yang mana dia amat sangat berharap menjadi pemeran utama.

"Bukannya menangis, penonton akan tertawa dengan aktingmu yang seperti orang kesurupan itu."

"Yakk!!" Jisoo langsung memukul kepala Jennie dengan keras. Gadis itu pun langsung meringis.

Jennie tak mau kalah itu pun langsung membalas dengan ucapan lagi. "Lagi pula mana ada yang berperan sebagai Koaru Amane-nya saja tidak pernah menonton filmnya. Bagaimana kau bisa menghayati perannya kalau begitu!!"

Jisoo mendelik tajam ke arah Jennie. Tapi yang Jennie lakukan hanya mengibaskan tangannya, lantas berkata. "Makanya, jadi cantik itu bukan berarti otakmu harus kosong!" Jennie tak mau kalah.

"Siapa bilang otakku kosong?!!" Jisoo geregetan sendiri jadi menjambak rambut Jennie dengan brutal. Siapapun dari mereka tau, jika Jisoo paling tidak suka diremehkan. Jadi, Jennie sengaja menggoda Jisoo dengan kata-kata yang menyebalkan.

Lisa yang melihat hal itu malah tertawa dengan kerasnya, menahan perut yang sakit akibat tawanya sendiri. Lisa juga malah secara tidak langsung menjadi pemandu sorak untuk kedua saudarinya, terkadang untuk Jisoo terkadang untuk Jennie. Rose yang kembali harus terbiasa dengan keadaan seperti ini malah makan dengan tenang. Bahkan seperti tidak ada yang terjadi.

Jessica yang baru melihat pertengkaran seperti ini bangkit dari kursinya dan menghampiri kedua anaknya.

"Yakk!! Hentikan!"

"JENNIE JUNG! JISOO JUNG!"

Teriakan yang semula hanya berasal dari Jisoo dan Jennie yang menjerit karena saling menjambak dan saling mencemooh itu kini bertambah dengan suara cempreng Jessica yang seperti dolpin. Satu ruangan penuh suara anak dan ibu dolpin yang saling bersahutan.

Lisa tertawa semakin keras kala melihat Jessica ikut terjambak oleh tangan Jennie dan tangan Jisoo. Bahkan sampai tercakar, menggurat merah di sekitar pipinya. Rose sampai membelalakkan matanya.

"HENTIKAN!!"

"JISOO KAU MEMANG TIDAK PANTAS JADI PEMERAN UTAMA."

"YAKK!! KAU PIKIR SUARAMU ITU BAGUS?!"

"RAP TIDAK BUTUH SUARA BAGUS, RAP ITU BUTUH KECEPATAN BICARA."

"OH TENTU SAJA SANGAT PANTAS UNTUK NENEK-NENEK SEPERTIMU."

"DASAR ANAK MONYET."

"KAU ANAK BABI."

Tak sampai di situ, yang sangat mencengangkan lagi Jessica dengan susah payah mencoba meraih gelas kaca yang tak jauh dari meja makan. Karena tidak ada ide lain, begitu Jessica meraihnya, dia membanting gelas tersebut.

Pyaarrr

Alhasil suara pecahan kaca itu mampu menghentikan adegan jambak-menjambak antara Jisoo dan Jennie. Keduanya yang merasa tertegun karena sikapnya sendiri itu menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"SEKALI LAGI BERTANGKAR UANG JAJAN KALIAN AKAN KU POTONG!" Jessica terengah mengucapkannya.

"DAN KALIAN PIKIR AKU INI BINATANG? SUDAH JELAS KALIAN ANAK SEORANG JESSICA JUNG. WANITA PALING CANTIK DAN POPULER."

Jisoo, Jennie, Lisa, dan bahkan Rose tercengang.

Wanita yang dari luarnya tampak kalem, berkata selantang itu dan se-percaya diri itu demi meluruskan anak siapa mereka, meskipun hanya ungkapan kekesalan saja. Melihat Jessica tertawa saja tidak pernah, dan sekarang malah bersikap sangat sedikit urakan seperti itu membuat Jisoo berpikir bahwa sifat mereka tak jauh-jauh dari ibunya.

"Baiklah, kalian lanjut sarapan. Aku akan segera kembali. Bibi tolong bereskan kekacauan ini!!"

Jessica mendengus pelan, mengumam tidak jelas, dan melangkahkan kaki pergi dari meja makan menuju kamarnya. Tentu saja karena rambut ketiga perempuan itu sudah tidak rapi bahkan tidak berbentuk. Jessica harus memperbaharui penampilannya. Bagaimanapun dia harus tampil prima dan cantik setiap saat.

Sepeninggal Jessica, keempat gadis itu saling melempar pandang. Tanpa sadar mereka semua menahan tawa.

"Tampaknya kini kita tau sifat angkuh Rose dari siapa," tukas Jennie menahan diri untuk tidak tertawa sembari menyisir rambut dengan jarinya.

"Urakan Lisa, keras kepala Jennie, dan kepercayaan diri yang tinggi Jisoo, tentu saja dari-nya." Bahkan Rose kini malah yang berkomentar. Dia sama menahan tawa dengan yang lain.

Detik berikutnya, keempat gadis itu tertawa dengan lepas. Setelah sekian lama.

[Good Mom]

Mungkin definisi laki-laki menyebalkan dan sedikit brengsek kali ini dipegang teguh oleh laki-laki yang kini berjalan bersamanya selama dua jam ini. Selama itu, mereka hanya berkeliling, atau bahkan berputar-putar di hampir seluruh penjuru mall. Alasannya? Pertama, sosok yang seharusnya berada di balik meja ini memaksa Jessica untuk menemaninya mencari inspirasi. Kedua, Jessica sudah cukup lelah menuruti kemauan laki-laki ini.

Saat wanita itu bertanya untuk apa, si lelaki hanya menjawab sekenanya dan tidak dengan mudah dapat di pahaminya.

Katanya, fashion adalah nama tenganya. Katanya, terkadang dia akan membuat desain khusus untuk brandnya sendiri dan di jual dengan harga tertentu, yang jelas berbeda dengan yang lain. Katanya, laki-laki ini sedang dalam masa gilanya sampai harus meminta Jessica untuk pergi.

Bukannya wanita itu tidak sibuk, tetapi karena pagi-pagi sekali perusahaannya kedatangan karyawan yang nyatanya kompeten untuk membantu menyelesaikan proyek dengan St Scott, maka mau tidak mau Jessica harus rela di seret oleh William. Siapapun memang tidak bisa menolak keinginan laki-laki itu, bahkan Sehun yang mencoba membela Jessica dengan berkata bahwa situasi akan genting jika Jessica tidak ada pun di jawab dengan enteng olehnya.

"Aku akan tanggung jawab jika terjadi kerugian, tetapi kalau kau mengizinkan aku untuk membawa Jessica, aku memberi jaminan seratus persen proyek ini tidak akan gagal."

Dan sebagai sekretaris yang di percaya dan telah bekerja sangat lama dengan William, Naeun mengangguk dan memasang wajah percaya diri.

Sekarang, di sinilah mereka. Jessica yang sedang duduk di salah satu sofa di sebuah butik dan sosok William tengah mengobrak-abrik isi butik itu.

Sembari memukuli betisnya yang menegang, Jessica sesekali melirik bahkan mengumpat kepada William. Jessica juga tidak tau, inspirasi seperti apa yang William inginkan. Dia pemilik tapi kenapa dia yang repot?? Toh perusahaannya sudah bisa membiayai satu kota mungkin lebih, tapi kenapa masih susah-susah cari ide? Apa para karyawannya tidak ada yang kompeten? Atau hanya dia saja sedang cari-cari alasan? Entahlah, Jessica tak mau urusan.

"Sungguh, jika kau mengajakku jalan lagi, aku akan lumpuh di tempat," ucapnya sarkas ketika William datang dengan cara berjalan angkuhnya, tak lupa memamerkan deretan gigi putih terawat. Tersenyum jenaka pada Jessica.

"Nona Jung, kau harus ingat tujuan aku mengajakmu. Sampai aku belum mendapat inspirasi kau belum boleh pergi." William duduk di samping Jessica dan memberikan sebuah paper bag.

Dengan enggan Jessica menerimanya. "Apa ini?"

"Sumber inspirasiku." Dia tersenyum dengan penuh misteri. "Kajja, masih banyak yang harus di cari."

"Yakk!! Tapi, nasib kakiku bagaimana? Pokonya aku tidak mau pergi." Enggan beranjak, Jessica tak menunjukkan pergerakan untuk sekedar berdiri, menatapi William dengan tatapan paling menyedihkan.

"Kalau kau lumpuh akan ku gendong," balas William dengan sengit.

Jessica membelalakan matanya. "Itupun kalau kau lumpuh." Sukses sudah bertambah kekesalannya. Mau tak mau Jessica bangkit dan berjalan mendahului William, sebelum laki-laki itu mulai melakukan hal yang aneh.

Saat mereka tengah kembali memasuki sebuah butik lagi. Jessica tentu saja memanfaatkan kesempatan yang dia punya.

Sembari menengteng dua buah paper bag, Jessica mengeluarkan ponselnya dari dalam tas kecil yang sedari tadi dia bawa. Jari-jarinya dengan cepat mengetikkan sebuah pesan singkat. Segera dia kirimkan begitu pesan itu selesai di ketik.

Seulas senyum kemenangan terpancar di wajahnya.

"Apa yang membuatmu tersenyum bodoh seperti itu? Membuatku curiga saja."

Jessica tentu saja terhenyak menyadari William sudah berdiri di hadapannya. Namun, dia kembali menetralkan wajahnya, pura-pura tidak terjadi sesuatu. Jessica memutar bola matanya.

"Sudah selesai?" Jessica malah bertanya.

"Tentu saja belum, ayo keluar," ajak William. Jessica pun mengekor dibelakang punggung laki-laki tersebut.

Saat beberapa langkah keluar dari butik sebelumnya, ponsel Jessica bergetar dan berbunyi dering singkat. Menandakan ada sebuah pesan yang masuk.

Seketika itu wajahnya berubah menjadi sumringah. Buru-buru dia menyimpan ponselnya dan menghentikan langkah kakinya. Dia mengendap-endap mengambil arah yang sebaliknya dari tujuan William.

Namun, baru saja mengambil dua langkah menjauh. William sudah berteriak. "Yakk! Kau mau kemana?!"

Mendengar suara William yang nyaring, membuat Jessica pun memutuskan untuk lari. Tidak peduli dengan pandangan di sekitarnya, Jessica malah memacu kakinya dengan cepat untuk segera melarikan dirinya.

"Yakk!!! Jangan kabur~!!!" Teriakan William semakin kencang. Tak ayal orang-orang pun ikut melirik laki-laki yang kini memasang wajah amat sangat menyeramkan.

Melihat Jessica yang kini berlari menerobos orang-orang yang berlalu lalang, memacu kecepatan William juga mengikuti Jessica. Meskipun dalam hati dia terheran-heran, bukankah tadi wanita itu mengeluh sakit kaki dan kini malah berlari seperti dikejar anjing atau penagih hutang. Padahal kasta William jauh di atasnya.

William tak dapat mendekati Jessica dengan cepat, lantaran suasana mall siang itu cukup padat di datangi oleh berbagai pengunjung. Willam juga tidak bisa menghabiskan waktunya hanya untuk memanggil satpam demi menghentikan gadis itu. Jadi, dia pun ikut berlari mengejar Jessica saja.

Sesampainya di depan pintu keluar. Tepat, saat sebuah mobil merah maroon berhenti di lokasi Drop Out. Jessica mengenali mobil itu dan langsung membuka pintu, menjejalkan diri ke dalam sembari melempar paper bag yang entah mengapa dia bawa. Selama berlari, Jessica tidak berani menengok ke belakang dan kini dia hanya bisa meminta orang di hadapannya untuk segera jalan.

"Cepat jalan!!" tukasnya.

Mobil pun melaju begitu William baru saja sampai di pintu utama.

"Sial!!" umpat William sendirian dengan pasang mata memerhatikan laki-laki tersebut.

Akhirnya Jessica bisa bernapas lega. Dia menghirup napas banyak-banyak untuk melegakan rongga paru-parunya. Matanya menelirik ke arah spion, memandang mata yang kini juga melihat ke arahnya. Jessica mengulas senyuman.

"Terima kasih sudah mau datang, Sehun."

[Good Mom]

Well part Jessica di sini dan untuk sementara sesingkat ini.

Senang bisa menyapa pembaca sekalian kekekeke.

Btw double update 18 dan 19

Original posted: 2016
Repost¹: 1 November 2018
Repost²: 13 Februari 2019

Continue Reading

You'll Also Like

71.1K 4.5K 16
"Untuk pertama kalinya hati ini bergerak dan berdetak hebat karna mu, HANYA KARNA MU!!!" Lalisa Manoban "Tuhan telah menghadirkan mu, setelah semua p...
67.5K 6.9K 7
"Jika aku tidak diinginkan, kenapa aku dihadirkan?" - LM. "Mungkin kau tidak berarti untuk orang lain, tapi kau berarti untukku." JK. ••• Semua bermu...
84.6K 9.6K 43
[21+] Di balik kehidupan mewah yang Chaeyoung jalani, siapa sangka jika suaminya terjerat hutang hingga harus menghadapi ketua mafia yang terbayang a...
71.4K 6.3K 47
𝔹𝕝𝕒𝕔𝕜𝕡𝕚𝕟𝕜 𝕩 𝔹𝕒𝕓𝕪𝕞𝕠𝕟𝕤𝕥𝕖𝕣 "Apakah selama ini orang tua kita memang sekaya ini, eonni?" "Atau malah kita yang sedang dibohongi oleh...
Wattpad App - Unlock exclusive features