Flashback On
"Silahkan duduk." Dokter duduk di kursi yang bersebrangan dengan Genna dan Tiffany.
"Sebelumnya saya mau tanya, sebelum kecelakaan apakah teman anda terlibat perkelahian?"
"Iya Dok." Sahut Tiffany.
Dokter menganggukkan kepalanya beberapa kali, mengambil sebuah gambar rangka tubuh manusia.
"Pasien mengalami banyak patah tulang diantaranya tulang hasta, fibula, tibla dan tulang rusuk. Dan banyak lebam di sekujur tubuh pasien." Menunjukkan tulang yang dimaksud pada gambar.
"Setelah perkelahian, saya bertemu dengan teman saya tetapi dia tidak separah itu." Sahut Tiffany.
"Apakah pasien benar kecelakaan motor?" Tiffany dan Genna saling memandang, sedikit aneh dengan pertanyaan dari Dokter.
🐼🐼🐼
Setelah mendengar perkataan Dokter, Genna rasa ada kejanggalan dengan kecelakaan yang dialami sahabatnya Singgih. Jika hanya kecelakaan motor mungkin tidak akan luka dan lebam sebanyak itu, dan pasti hanya pada sebagian tubuh yang lebam.
Dengan langkah terburu-buru Genna memasuki kantor polisi yang sedang menyelidiki kecelakaan-kecelakaan yang menimpa orang terdekatnya.
Setelah mendapat arahan dari polisi yang mengantarkannya ke sebuah ruangan khusus bukti, di sana sudah ada empat orang yang duduk dengan komputer dihadapannya.
"Silahkan duduk Genna." Salah satu dari empat orang tersebut sudah mengenali Genna. Siapa sangka Genna bisa memasuki ruangan khusus bukti ini, itu semua karena teman dari Hendra ayah dari Genna.
"Apa ada sangkut pautnya Om?" Tanya Genna tak sabaran sambil mendudukkan bokongnya.
"Saya menemukan kertas ini." Menyodorkan sebuah kertas kepada Genna.
"Kertas yang sama saya temukan ketika anggota kamu meninggal dan hilang ingatan." Lanjutnya.
One die at a time.
Hanya itu yang tertulis dalam kertas tersebut, kertas yang sama ia temukan di laci rumah sakit ketika Meira meninggal karena telah diberi obat yang salah.
"Om kertas ini juga sama dengan kertas yang saya temuin di laci kamar rawat Meira dulu."
Flashback Off
Semua yang dibicarakan dengan Dokter juga detektif selalu berputar di otaknya.
Dengan perlahan dia mengangkat wajahnya, melihat wajah yang sangat kacau dari cermin yang ada dihadapannya, tidak ada setetes air mata pun yang jatuh padahal matanya sudah memerah.
Dia membalikkan tubuhnya menghadap dinding kemudian memejamkan matanya, membenturkan dahinya pelan terhadap dinding dengan kepalan tangannya berada tepat di samping kepalanya.
"Kenapa gue sebodoh ini sih? Kenapa gue lupa sama perintah gue sendiri? Kenapa gue biarin temen gue pergi sendirian? Kenapa...?"
"Arghhh." Meninju dinding yang tak bersalah hingga buku-buku tangannya mengeluarkan darah segar.
🐼🐼🐼
"Udah makannya?" Tanya Genna saat melihat gadisnya duduk disebelahnya.
Sedangkan Tiffany berjalan tanpa menoleh sedikit pun, dia berdiri di depan pintu ruang ICU, punggungnya ia sandarkan ke dinding, menutup matanya, rasa bersalah selalu menghampirinya.
Nadyne menolehkan kepalanya kepada Genna karena sedari tadi Nadyne hanya memandangi Tiffany yang sepertinya sangat sedih "Udah."
"Aileen." Lelaki dengan seragam yang dikeluarkan dan bandana di kepalanya itu menoleh saat mendengar panggilan dari sang ketua.
"Anterin Tiffany pulang!" Lanjutnya.
Saat mendengar bahwa dirinya harus pulang, Tiffany menoleh "Gue gak mau pulang." Setengah merengek.
"Biar kita yang jaga disini Fan." Sahut Nishad meyakinkan.
"Gue yang akan hubungi keluarga Singgih."
"Tapi Gen-."
"Mereka harus tau." Potong Genna cepat sebelum Aileen mengeluarkan banyak alasan untuk tidak memberitahu keluarga Singgih.
"Ayok Nad ikut aku dulu."
🐼🐼🐼
Langit jingga memang sangat indah, cuaca yang cerah, ramai orang yang berkunjung dengan pakaian khas rumah sakitnya, bahkan ada yang menggunakan kursi rodanya.
Semakin gelap langit, semakin sedikit juga pengunjung taman ini.
"Gak enak kan nahan nangis?" Genna menolehkan kepalanya mendengar tutur kata yang dikeluarkan gadisnya.
Nadyne tersenyum menatap teduh mata tajam milik Genna "Gak ada yang salah kok kalau laki-laki nangis."
Genna sedikit membalikkan tubuhnya menghadap sepenuhnya kepada Nadyne, begitu juga Nadyne melakukan hal yang sama.
"Mana ada pemimpin yang lupa sama perintahnya sendiri? Mana ada ketua yang biarin anggotanya terluka?"
"Gagal banget."
Nadyne hanya diam menunggu kelanjutan ucapan Genna, matanya sudah berkaca-kaca melihat mata tajam yang seperti sangat merasa bersalah.
"Meira, Genta, Udin, Papah, Mamat, Singgih."
"Jangan ada lagi, kalau mau hukum, aku aja, jangan mereka."
Genna menjatuhkan kepalanya, dahinya dia simpan di bahu Nadyne. Punggungnya bergetar, Nadyne bisa merasakan Genna menangis saat tangannya basah terkena air mata yang turun berasal dari mata Genna.
Dengan perlahan Nadyne mengangkat tangannya, menepuk punggung yang bergetar itu.
"Aku butuh kamu disamping aku Nad."
"Tapi terlalu bahaya buat kamu."
"Demi keselamatan kamu, kita akhiri dulu hubungannya yah Nad?"
🐼🐼🐼
"Assalamualaikum." Memasuki rumahnya bersama seorang laki-laki disampingnya.
"Wa'alaikumussalam. Dari mana sayang?" Tanya Nina lembut.
"Dari rumah sakit Bu." Nadyne mencoba tersenyum walau berat melakukannya saat suasana hatinya seperti ini. Tangannya mencium punggung tangan Nina.
"Masuk dulu Genna." Ajak Nina setelah Genna mencium punggung tangannya.
Nadyne melihat sofa di ruang tamu yang terisi dengan pria paruh baya dengan sang ayah.
"Oh iya, ada Om Zayn sayang."
"Om Zayn?" Beo Nadyne
"Iya, sana salim dulu."
Nadyne, Nina diikuti Genna berjalan kepada kedua pria paruh baya yang duduk berbincang.
"Nadyne? Udah segede gini, padahal dulu masih kecil banget. Nana masih inget Om Zayn kan? Pasti nggak. Lama banget gak ketemu soalnya kan?" Cerocos Zayn, Nadyne mengangguk serta tersenyum canggung.
"Nana?" Beo Genna
Nadyne menghampiri sang ayah kemudian mencium punggung tangan Reynald diikuti oleh Genna, setelah itu kepada Zayn.
"Ippo? Berapa tahun kita gak ketemu? Satu atau dua tahun yah?" Pria paruh baya ini sangat antusias.
"Sekitar dua tahun lalu Om." Jawab Genna sopan.
"Sekarang disini? Dulu bukannya di Jakarta?" Genna mengangguk membenarkan pertanyaan Zayn.
"Maafin Om yah gak dateng waktu papah kamu meninggal." Rasa bersalah yang terdengar jelas saat Zayn mengatakan kata-kata itu.
"Ippo?" Tanya Reynald
"Iya anaknya Hendra, temennya Nana dulu. Kamu masa lupa sih?" Bahagianya wajah Zayn sangat ketara.
"H-hah? Temen aku?" Tunjuk Nadyne pada dirinya sendiri.
"Sebelum kalian pindah ke Bali. Kalian sering main di kantor saya dulu."
Mulut Nadyne sedikit terbuka karena tidak percaya, menatap lekat wajah Genna yang melakukan hal yang sama dengannya.
"Kalian belum tau? Tapi kalian barusan pulang bareng?" Mendengar itu refleks Nadyne dan Genna menggeleng.
🐼🐼🐼
"Demi keselamatan kamu, kita akhiri dulu hubungannya yah Nad?"
"Tapi aku gak sanggup Nad, aku gak sanggup jauh sama kamu. Aku harus gimana? Aku harus gimana supaya kamu gak dalam bahaya?"
Kata-kata itu selalu berputar di otak Nadyne, tengah malam ini Nadyne masih saja belum tertidur. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Dia tidak mengerti.
Hubungannya dengan Genna masih belum ada kepastian, antara berakhir atau tidak, dia tidak mengerti. Dulu saja hubungannya berawal dari sebuah klaim, bukan persetujuan apakah dirinya mau atau tidak. Apa hubungannya akan berakhir sama? Tidak, Nadyne belum siap menerimanya.
Meja belajar yang berhadapan langsung dengan pintu kaca balkon membuatnya menatap bintang dari dalam kamar. Buku yang sedari tadi terbuka pun tidak dihiraukan, dia hanya ingin berpikir bagaimana masalahnya cepat terselesaikan.
"Ippo, aku kangen masa kecil dulu."
"Menangis karena permen bukan masalah yang besar." Air matanya mengalir deras membentuk sungai di pipi mulusnya.
Flashback On
"Nana mau permen gak?" Anak kecil yang berumur 6 tahun itu menyodorkan sebuah permen lollipop kepada anak perempuan yang lebih pendek darinya.
"Mau!" Antusias anak perempuan dengan rambut yang dikuncir dua.
"Ambil sendiri." Memeletkan lidahnya, mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
Anak perempuan itu mencoba mengambil permen tersebut tetapi tidak bisa, sampai di titik dirinya sudah kecapekan hingga dirinya menangis.
"Susah ambilnya hiks."
"Ippo jahat hiks."
Flashback Off
***
HAIII GUYSSS!!!
HAPPY EID MUBARAK!!
Masih berlaku kan?
Minal a'idzin walfaidzin maaf kalo ada salah salah dari penulis Gennaios ini, maklum baru awal awalan nulis heheh.
Kasih nilai buat cerita ini dooong, dari 1-10 kalo nilainyaa bagus di usahain secepatnya update!!!
Mau up photo pacaaaar halu akuu yang kesekian wkwkwk.
Happy reading!!