Chapter 1 - Tentang diriku

37 8 0
                                        

    Atnina Ronazziva. Orang-orang biasa menyebutku, Ana. Aku lahir di Bandung, 23 September 2002. Aku sangat suka melukis. Lewat lukisan Aku bisa mengekspresikan diri dari segala hal hambar yang terdapat di bumi.

    Hal istimewa dari lukisanku adalah Ia tak pernah berbohong soal rasa, yang menghubungkan antara hati dan logika. Bagiku, langit adalah hal yang paling indah jika dihubungkan oleh rasa. Ia, tak pernah dibuat-buat. Ketika sedang sedih, Ia akan mendung. Jika, Ia sedang kecewa pasti akan turun yang namanya hujan. Jika, Ia senang pasti akan muncul langit yang cerah. Begitupun seorang manusia, kan?

    Selain itu, Aku tidak punya siapa-siapa selain Lena, dan Abangku. Rasanya, ingin sekali Aku terbang ke angkasa menari-nari, dan tinggal berdampingan dengan birunya langit. Namun sayang, Aku masih punya Abang galak yang harus di urus. Ia juga sangat rakus dalam hal makanan.

    Abangku sudah bekerja, katanya sih di perusahaan besar. Aku iyakan saja, tanpa berniat bertanya-tanya. Biarlah itu menjadi urusan Abangku, Aku hanya ingin uangnya saja, untuk membelikanku cat dan kanvas untuk melukis lebih banyak hal. Tentunya, yang belum pernah Aku temui di penjuru dunia.

     Ah maaf, Aku hanya bercanda soal hal di atas. Aku dan Abang sama-sama bekerja. Bedanya, Aku masih duduk di bangku SMA.

Kami berdua jarang sekali akur. Selalu saja memperebutkan makanan ringan untuk cemilan saat nonton televisi.

      Ibuku sudah lama pergi, meninggalkan Aku, serta Abang. Jangan pernah tanya soal Ayahku, ia tak pernah kembali setelah Ibu meninggal.

Saat itu, Abangku berlari mencekik kerah baju Ayah. Mendorongnya hingga tersungkur. Dan, terjadilah adu jotos yang berakhir lebam-lebam di wajah Abangku.

Sejak saat itu, Aku hanya bisa menangis. Berharap, ini semua hanyalah kembang tidur untuk ku nikmati dalam semalam.

***

"

Ga becus lo! Mending lo mati!" teriak Abangku membenturkan Ayah menuju tembok.

"Berani kamu sama saya?!"

"Gue ga butuh pecundang kaya lo! Yang cuma bisa makan uang Ibu gue buat beli perempuan! Anjing lo!"

"Bugh!" Sebuah bogeman mendarat di ujung bibir manis Abangku.

"Saya beli cewek karna Ibu kamu ga bikin saya bahagia!" ucap Ayahku, lalu mendaratkan tinjuan terakhirnya ke rahang Abangku.

Aku hanya bisa menangis melihat mereka berdua saling menyakiti. Padahal, Ibu baru saja di antar ke pemakaman.

Bu, lihat pemandangan menyeramkan ini.

Anna takut,

Anna pengen ikut Ibu,

Anna gabisa sendirian.

***

     Sebenarnya, Aku lelah hidup di dunia ini. Aku ingin pergi. Namun, ketika Aku mulai ingin mengakhiri hidup dengan menggantungkan diri, selalu ada bisikan di telingaku, "Aku mencintaimu, Ana. Jangan pernah pergi."

.

.

.




Hallo!
Ini cerita pertama ku, maaf engga nyambung *cry.

Aku masih harus banyak belajar, dengan cara kalian bantu vote dan komen, serta share juga biar temen-temen kalian bisa tau.
Biar aku lebih semangat, hwhw.

Disini, Aku mau bilang makasih.
Kalian udah mau mampir ke cerita yang menurutku masih banyak kurangnya.

Sampai ketemu di next chapter!

Sincerely,
Ala

Rona LangitWhere stories live. Discover now