Halo guys Mimin coba up ulang cerita ini dengan alur yang lebih baik.
Happy Reading Guys
©©
Langit jingga mulai tenggelam direnggut malam yang cepat datang. Erlina menggenggam kembali harapannya yang patah tanpa pernah dia ingat kalau sebelumnya pernah ada.
Wajahnya lesu, menatap cakrawala yang mulai kehilangan kehangatan. Pikirannya kacau setelah mendapat kabar bahwa Erlina akan dijemput pulang.
Pulang ya? Erlina merasa dia sama sekali tidak punya rumah. Pulang kemana? Sejak neneknya meninggal dia tidak punya pijakan kokoh. Meskipun keluarga Bibi Ela selalu baik, Erlina merasa sungkan.
Sejak lama, rasa percaya diri miliknya hilang.
Sepupu laki-lakinya datang, menegur pelan untuk segera menutup jendela kamarnya sebelum malam semakin larut. "Lin, jendelanya."
Namanya Ilham Saputra Jagad, sosok kakak laki-laki bagi Erlina. Seseorang yang selalu tanpa dia pinta pasang badan apapun yang terjadi.
"Segera tutup jendelanya, lalu ke ruang makan ya." Ilham berujar setelah melihat Erlina memikirkan kepulangannya.
Jika dia diberi pilihan, maka bersama Erlina akan Ilham lakukan. Sejak umur delapan tahun, mereka telah hidup bersama. Jauh dari kebisingan kota.
Di ruang makan, mereka bertiga berkumpul. Kurang Paman Sam, beliau sedang mengunjungi acara tahunan di pesantren kota.
"Bibi tidak tahu kalau Mbak Mentari mau menjemput Erlina bulan ini." Bibi Ela mengatakan hal yang sebenarnya. Dia sendiri kaget saat kakaknya mengabari kalau Erlina akan dijemput.
Mendengar pengakuan Bibi Ela, spontan Erlina menggeleng. "Lin tidak mau ikut Bunda, Bi. Setelah Lin dibuang, rasanya sedikit tidak mungkin Lin diinginkan lagi. Bagaimana cara menolaknya, Bi?" Erlina mengatakan isi hatinya.
Dibuang, diasingkan, tidak dipilih nyatanya hal tersebut mengubah cara pandang Erlina pada kedua orangtuanya.
Bibi Ela mendesah panjang. Sebagai orang yang dulu menentang keputusan Mentari, Eralia tidak akan membiarkan begitu saja. Akan tetapi mendiang ibunya pernah mengatakan jika Mentari harus memilih. Mempertahankan Erlina atau kehilangan Ellina-saudari kembar Erlina. Dan Mentari memilih merawat Ellina dan mengirim putrinya yang lain kepada ibunya.
"Bibi juga tidak ingin, Lin. Bibi tahu keputusan Mbak Mentari sudah nyakitin hati kamu. Tetapi, Bibi juga tidak boleh egois. Jika boleh Bibi berkata bahwa mungkin waktunya tidak banyak lagi." Ujar Bibi Ela.
Erlina kembali diam, memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi. Sedikit dia tahu, bahwa kondisi Ellina tidak selalu baik. Sayangnya dia terlahir dengan fisik yang kurang kuat.
Bibi Ela menemani keponakannya. Mengetuk lembut hatinya. Ela tahu Erlina terluka karena keputusan sepihak Mentari yang bahkan almarhum ibunya menolak tegas.
Sempat ada ide jika nenek Erlina saja yang ke Bandung untuk merawat cucunya. Daripada dipisahkan seperti sekarang, tetapi Mentari kekeh dengan pendapatnya.
Jadilah hari ini, anak yang tidak tahu cara berpikir orang tuanya itu menjadi korban.
"Jika ada ruang luas di hatinya Lin. Rasa kecewa kamu ngga akan pernah bisa melibas habis ruang maafmu. Bibi tahu, sangat tahu rasanya dikecewakan oleh orang yang paling penting. Jadi Bibi harap Lin ngga tenggelam di dalam kubangan itu, ya?"
Eralia sangat paham, jika dikatakan kecewa pada Mentari. Jelas, Eralia akan mengakuinya blak-blakan. Tetapi hati Erlina tidak boleh jatuh terlalu dalam.
Mendengarkan penuturan Ibu keduanya, Erlina tidak langsung menanggapi. Dia terdiam cukup lama. Katakan, otaknya sedang mencerna kalimat panjang tadi.
"Bibi ngga minta langsung memaafkan. Ngga ada hal semudah itu di dunia ini. Jadi, tidur ya. Besok katanya mau ikut manen ubi?" Eralia memeluk ponakannya sayang. Berbisik pelan untuk menyudahi acara melamun.
Erlina mengangguk, memegang ujung selimutnya. "Ngga harus memaafkan, tapi lihat dulu kondisinya." Itu yang bisa Erlina simpulkan dari kalimat panjang Eralia malam ini.
Ibunya Ilham terlalu menyukai kalimat panjang yang tidak terus terang. Terkadang Erlina sampai harus berpikir keras untuk memahaminya. Benar kata neneknya, jika putri bungsunya itu sangat sulit dipahami manusia awam macam Erlina sendiri.
Erlina memutuskan untuk tidur, selagi masih bisa.
Kabarnya di pagi hari disibukan dengan memanen ubi di kebun selatan dekat dengan sungai tempat Erlina mancing ikan bersama Ilham. Bibi Ela telah sibuk menimbang ubi untuk dicatat sebelum dijual ke pasar.
"Ubi ini akan dijual semua?" tanya Erlina penasaran. Bukan itu saja, Erlina juga ingin memakan ubi kukus. "Mana mungkin, kamu tidak ngiler. Bibi tidak percaya itu." jawab Eralia yang sangat tahu ekspresi Erlina.
"Ibu benar, dia tidak mungkin membiarkan camilan kesukaannya dijual semua. Pasti akan merengek jika itu terjadi." Ilham menimpali.
Melempar segenggam tanah kearah sepupu laki-lakinya adalah cara untuk melampiaskan kekesalan. Seingat Erlina tidak pernah merengek soal ubi. Mereka memang suka mengada-ada.
"Lihat saja, Ibu dia sudah mulai merengek," Ilham kembali menggoda.
Erlina mengadu, "Paman, lihat mereka sangat tidak berperikebaikan." sembari jarinya menunjuk Eralia dan Ilham.
Paman Sam hanya tertawa, "tandanya Erlina harus lebih berhati-hati agar mereka tidak lagi menggoda." jawab Paman Sam disela tawanya.
"Iih, nakal banget sih." gerutu Erlina sepanjang jalan menuju rumah.
Setelah selesai memanen, mereka langsung pulang. Ilham, Eralia masih menjadi kubu yang mengusili Erlina. Bahkan Paman Sam tidak bisa mencegah keduanya berbuat usil.
"Nanti kangen, besok-besok udah ngga bisa main lagi, Lin." Ucap Ilham sebelum lari ngibrit karena mengacak-acak rambut Erlina.
"Apaan sih!" Teriakan Erlina menggelegar sampai dapur rumah. Eralia melihat anaknya yang saling kejar-kejaran pun tertawa geli.
"Biarkan saja mereka bermain, selagi masih bisa. Aku tahu, aku ngga bisa maafin Mbak Mentari gitu aja. Apalagi setelah membuat mental Erlina berantakan." Eralia berucap pada suaminya. "Tapi, aku ngga boleh egois juga bukan? Hanya saja aku sedikit tidak rela untuk berpisah dengan anak perempuanku."
Sam memeluk istrinya, "kau bisa mengunjunginya. Kelak, dia juga bisa kemari sendiri setelah KTPnya keluar." hibur Sam, dia juga berkata. "Jangan bersedih, nanti Erlina akan menangis."
"Aku tidak akan menangis semudah itu, Sam. Jangan meremehkan seorang Eralia." Sam menggeleng ribut, "mana ada meremehkan, yang ada aku yang diremehkan. Ketua teater!"
"Dih," ujar Eralia sebal. Tidak bisakah Sam berhenti meledek soal ketua teater. Oh ayolah itu sudah dua puluh tahun yang lalu.
"Ibuuu, Erlina melempariku dengan batuu!" teriakan Ilham menyudahi aksi romantis pasangan vintage itu.
"Liiinnn, jangan sampai kepala yaa! Anaknya Bibi cuma satu, ngga mau bikin lagi." teriak Eralia tanpa pikir panjang. Ngomong-ngomong Eralia trauma melahirkan, makannya Ilham ngga dikasih adek.
"Ibu tega banget sama anak sendiri," Ilham merajuk di pangkuan ibunya. Kepalanya diletakan di pangkuan Eralia dan tangannya sibuk memilih baju ibunya. "Ibu ngga tega, itu konsekuensi karena Ilham jahilin adeknya terus."
"Ilham ngga jahilin, Ibu. Erlina aja yang sensian." sungut Ilham kesal bukan kepalang. Walaupun dia anak tunggal, jika bersanding dengan Erlina, maka ibunya akan memanjakan sepupunya dan menelantarkan Ilham. Sungguh ternistakan.
"Adiknya lagi sedih itu, dihibur sana!"
🤏🐙🤏
Revisi tahun 2026
YOU ARE READING
BINTANG KEJORA || REVISI
General Fiction"Aku suka senja, bahkan saat malam mulai menelannya. Aku tetap suka." Erlina Salsabila Perempuan muda yang menelan pahit kenyataan bahwa orangtuanya memilih saudarinya dalam pengasuhan, sedangkan Erlina harus berada di desa bersama neneknya. Erlina...
