Aku menatap lekat sinar yang bersembunyi dibalik gelapnya malam, sementara aku masih menuntutnya untuk tetap terjaga pada keindahan yang menurutnya amat biasa, kutarik nafas pendek, menghembuskannya lalu kembali tersenyum kecil diujung bibirku, sedikit canggung, mataku kembali mengikuti arah telunjuk seseorang yang berada disampingku, ia menunjukan beberapa titik sinar kecil yang terdampar digelapnya langit malam, katanya ini tidak indah, aku marah, "bandung itu cantik" ucapku membela kota metropolitan itu
"kau h
anya belum tau wajah yang sebenarnya" ucapnya nya lagi, seketika kepalaku berpikir keras, menghilangkan rasa penasaran kulirik seseorang disampingku, seketika keningku mengkerut, wajahku menjelaskan ketidakpahaman tapi aku memaksakan untuk mengangguk seolah paham atas apa yang ia bicarakan, lalu tersenyum kecil dan kembali menatap cahaya cahaya kecil itu.
Beberapa detik aku kembali mengarahkan pandanganku saat ia membalas tatapanku. Aku bisa merasakan orang itu tersenyum puas karena paham aku tidak mengerti
"itu teropong boscha ya" ucapnya lagi, memperjelas penglihatan kuletakan kedua tanganku pada kaca besar yang memisahkan kami dengan suasana luar. aku mengernyit, beberapa detik kepalaku refleks bergeleng
"ga keliatan" ucapku masih menerawang langit yang kelam
"lihat kearah kiri, kira kira 30 derajat dari apa yang kamu lihat sekarang"
"masih gak keliatan" aku kembali berkata
"coba tengok dikit lagi terus mata lo lurus.. fokus sama satu titik yang ukurannya kaya biji kacang"
"mana si..? gak ada..! nihil..!" aku mulai kesal, seseorang disampingku terkekeh, aku mengalihkan pandanganku padanya memastikan orang itu tidak sedang mengerjaiku, melihat raut wajahnya yang tidak meyakinkan aku mulai mengatur strategi
"atau itu..?!" ucapku sumringah, seseorang disampingku mengernyit sebelum akhirnya ia menjawab
"yaelah kalo itu kubah masjid kiya" aku terkekeh sementara seseorang disampingku tanpak kesal karena aku tak kunjung menemukan apa yang ia maksudkan, ia kembali tersenyum, aku bisa melihatnya dari ujung mataku.
Malam ini berbeda, untuk yang pertama kalinya aku merasa sangat dekat dengannya, seseorang yang telah bertahun tahun menghilang untuk menempuh pendidikan.
"teruntuk rasa yang sudah tertata, wanita yang beranjak tua, sementara dia menganggapmu muda, Aku tak mampu mengelak, saat kita saling berkata ambigu, menyembunyikan rindu ingin bertemu, pada seseorang yang tak pernah membuatmu kaku, panggil saja si "Aku"".
Gimana prolognya ? Suka kah ? Atau penasaran? Atau biasa biasa aja ? 😂 Jangan lupa voment ya dan terimakasih sudah membaca.
1800 Detik
#jangantakutbermimpibesar
YOU ARE READING
1800 Detik [TAMAT] √
Non-Fiction"aku takut sesuatu terjadi padamu tapi kubiarkan kamu berjalan sendirian di keramaian dengan alasan yg sekarang membuatku berpikir itu bukan alasan sama sekali" "aku pernah menangis dikota itu sendiri dalam gelap bersama rintik hujan dan ketakutan d...
![1800 Detik [TAMAT] √](https://img.wattpad.com/cover/220781410-64-k882554.jpg)