" Ia, sekarang. Aku cuma 3 hari disana " Putra melihat Dira menangis " Hey jangan nangis " Putra menyekat air mata Dira " Aku pasti pulang untuk kamu. Kamu ingat kan dari dulu akan selalu ada untuk kamu " lanjut Putra

" Janji kamu bakal pulang kesini " Dira memeluk Putra sambil menangis. Rasanya tak ingin berpisah dengan Putra. Orang yang selalu ada disaat Dira butuh

" Janji cantik " Putra membalas pelukan Dira. " Yah uda aku jalan yah " Putra melepaskan pelukannya

" Dad Putra jalan dulu. Nanti Putra balik lagi. Hey ganteng kakak jalan kamu jagain ka Dira yah " Putra berpamitan pada Dirga dan Dion

" Salam orang tuamu yah dan hati" ucap Dirga

" Kakak nanti balik kan ? " Dion memeluk Putra

" Ia kaka pasti balik bro. Kalau kakak gak balik nanti ka Dira nangis terus " Putra tersenyum sambil menatap Dira yang masih menangis

Putra menatap Rendi cukup lama. Tak iklas jika Rendi menyakiti Dira tapi kepergiannya untuk Dira jadi Putra tak bisa membatalkan.

" Gue nitip Dira, jagain dia dan JANGAN buat dia nangis " ucap Putra penuh penekanan

" DIRA ISTRI GUE " Rendi balas menatap Putra seakan ingin memakannya

Putra tersenyum meremehkan lalu tersenyum pada Dira dan pergi meninggalkan mereka.

Ruangan menjadi senyi. Dirga tidur, Dira juga tidur karna semalaman tidak tidur dan Dion yang pulang bersama Dian. Sarah tak datang ke rumah sakit karna mendapat telefon kalau ada rapat dadakan.

Rendi menatap Dira yang tengah tertidur. Raut wajah gadis yang sudah mengambil setengah hatinya. Gadis yang selalu tersenyum dengan cantiknya sekarang tertidur dengan mata sembabnya.

Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 7 malam. Dian datang bersama Anjas dan Sarah. Mereka bukan jalan bersama tapi mereka bertemu ditempat parkir rumah sakit.

Dian bersyukur karna memiliki besan yang baik seperti Sarah dan Anjas. Mereka selalu mendampingi Dian disaat terpuruknya.

Pintu terbuka dan mereka melihat Rendi yang sedang menatap Dira yang tertidur. Dirga juga sudah bangun dan menatap Rendi dan Dira. Saking fokusnya Rendi menatap Dira dengan segala pikirannya Rendi tak sadar kehadiran orang tuannya.

" Rendi " panggil Anjas

Mendengar namanya dipanggil, Rendi lalu bangun dan kaget karna mereka semua sedang menatapnya.

" Ma, Pa, mom kapan datang " Rendi tersenyum tapi senyuman yang sangat terlihat sedih

" Sudah sekitar 5 menit sayang " Ucap Dian sambil tersenyum

" Maaf yah mom Rendi gak denger " Rendi melihat Anjas yang menatapnya tak suka

" Dirga, Dian aku keluar dulu mau ngomong sesuatu sama Rendi " Anjas keluar dan diikuti oleh Sarah dan Rendi

Mereka pergi ketaman rumah sakit. Mereka duduk saling menatap.

" Rendi kamu sebenarnya semalam kemana. Kenapa papa sama mama nelfon gak dijawab " Anjas menatap Rendi

Rendi diam. Dia masih berpikir apakah harus memberitahukan soal Gladis atau tidak. Tapi Rendi memang anak yang sangat mencintai kedua orang tuannya.

" Rendi kenapa kamu Diam saja. Papa gak pernah mengajarkan kamu diam disaat ditanya " Anjas sudah tak bisa mengontrol emosinya

" Mas kontrol diri kamu inget kita dirumah sakit " Sarah mencoba menenangkan Anjas

" Kamu masih tak mau memberitahukan kepada mama dan papa Rendi ? Mama sedih " Sarah tau Rendi adalah anak yang baik dan penurut. Sarah sengaja memasang wajah sedih

" Ma jangan Sedih, Rendi gak suka " Rendi sangat menyayangi Sarah dan tak ingin melihat malaikatnya bersedih

" Kalau gitu kasih tau mama semalam kamu kemana dan ada masalah apa kamu sama Dira " Sarah menatap Rendi

" Gladis " ucap Rendi

" Gladis ? Maksud kamu " wajah Sarah dan Anjas menjadi serius

Sarah dan Anjas mengenal Gladis karna Rendi selalu membawa Gladis kerumah. Sarah juga menyukai Gladis tapi tak sebesar rasanya pada Dira. Mereka tau betapa Rendi mencintai Gladis dan disaat Gladis menghilang mereka tau betapa hancurnya Rendi

Rendi menceritakan awal dia melihat Ratna dan apa yang terjadi pada Gladis. Rendi juga menceritakan kalau dia tak memberitahukan kepada Dira soal Dirga. Soal Dirga yang masuk rumah sakit dan Dira menelfonnya tapi dia sedang bersama Gladis dan Gladis yang menjawab panggilan Dira. Soal dia tak menjawab panggilan Anjas dan Sarah. Dan soal kejadian tadi pagi yang dia berkata sangat kasar pada Dira.

Sarah menutup mulutnya seakan tak percaya dengan apa yang Rendi katakan. Sarah sedih dengan keadaan Gladis tapi Sarah lebih terkejut dengan Rendi yang begitu tega terhadap Dira. Sungguh Sarah tak menyangkah anak yang ia banggakan bisa sejahat itu. Sarah memang sangat menyayangi Dira

Anjas yang tak habis pikir dengan Rendi menampar Rendi. Anjas tak percaya dengan apa yang sudah dilakuka Rendi kepada Dira. Tapi Dira masih membela Rendi. Anjas sangat malu jika Dirga dan Dian sampai mengetahui apa yang diperbuat Rendi. Apalagi Dirga yang sangat mempercayai Rendi.

" Kamu benar-benar membuat papa kecewa Rendi. Kamu tau,  kamu sudah menyakiti Dira tapi Dira masih membela kamu didepan kami sebagai orang tua. "

" Maafin Rendi pa tapi apa yang terjadi pada Gladis juga salah Rendi pa " ucap Rendi 

Rendi tak merasa sakit karna tamparan keras dari Anjas tapi hatinya sakit karna ini pertama kali dia membuat Sarah menangis dan Anjas semarah itu padanya.

Tanpa mereka sadari Dira mendengar semua yang mereka bicarakan. Dira berdiri dengan air mata yang tak henti mengalir. Dira mendekat. Wajah kaget dari mereka bertiga terlihat jelas.

" Pa ma jangan marah Rendi lagi yah. Dira ngerti posisi Rendi. Dan Dira mohon sama papa dan mama jangan cerita ini ke mom atau dad. Dira gak ingin mereka sedih " Dira mencoba menyekat air matanya

" Maafin mama sayang " Sarah memeluk Dira dengan air mata.

" Dira juga mohon mama sama papa jangan campur urusan Dira dan Rendi " Dira menatap sekilas Rendi

" Maksud kamu sayang " Anjas menatap bertanya pada Dira

" Dira dan Rendi akan belajar jadi suami istri yang baik dengan segala masalah yang ada. Dira ingat pesan papa waktu acara pernikahan kami. Papa bilang kalau ada masalah dalam rumah tangga jangan sampai orang tau bahkan orang tua sendiri. Selesaikan dengan cara kalian dan selalu terlihat bahagia. Papa ingat kan pesan itu ? " Dira menatap Anjas

" Papa ingat sayang " Anjas tau hati Dira pasti sedang hancur

" Jadi biarkan Dira dan Rendi yang selesaikan. Orang-orang yang ada disekeliling kami seperti Putra dan Gladis akan mengajarkan kami untuk menjadi lebih baik. BAIK ITU SEBAGAI PELAJARAN ATAU MASA DEPAN  " ucap Dira sambil tersenyum

" Maksud lu " Rendi menaikan alisnya mendengar kata terakhir Dira

" Lu paham maksud gue " Ucap Dira dengan tatapan sendu

***

Upp lagiiiii
Semoga kalian suka yah
❤❤❤

HURT ( DIRA DINATA )  ✅✔☑Where stories live. Discover now