PROLOG

524 98 42
                                        

Suasana pengap bisa dirasa siapa saja ketika melihat orang ini. Orang ini hanyalah seorang gadis remaja, ia sekarang sedang duduk disebuah bangku yang sudah termakan usia. Hal ini bisa disimpulkan melalui debu-debu yang melekat di tubuh bangku tersebut. Warna yang harusnya berwarna coklat muda kini tak terlihat seperti itu lagi. Mungkin jika seseorang yang memiliki tubuh dengan berat diatas 50kg, tanpa fikir panjang kursi itu akan roboh.

Gadis itu diselimuti oleh keringat dingin. Wajahnya sama sekali tidak terlihat sebab rambut panjangnya itu menutupinya. Rambut gadis itu berwarna kecokelat-cokelatan dengan balutan jepitan putih yang semakin melorot. Ia terus menunduk seperti melihat sesuatu tepat pada pangkuannya.

Jemari kecil dan putih itu sedang memainkan sesuatu, pulpen. Pulpen itu berwarna hitam menyeluruh.

Ruangan yang ditempatinya sangat pengap dengan bau apek dimana-mana. Sebuah ruangan yang terbuat dari tumpukan batu tua yang diselimuti oleh sarang laba-laba dan dihiasi oleh beberapa benda tak terpakai.

"Hahaha..." suara gadis itu terdengar pelan dan melengking. Siapapun yang mendengar suara ini akan merasakan bulu kuduknya merinding walau memakai mantel tebal. Lampu ruangan itu perlahan bergoyang-goyang hingga membuat gadis itu beberapa saat terlihat dan beberapa saat tidak terlihat. Beberapa menit kemudian tawa melengking itu berubah menjadi tangis seorang gadis remaja yang memperihatinkan, "hikss..hikss..hiks.." begitulah berulang-ulang. Seperti sesuatu memainkan emosi gadis itu. Dengan masih posisi yang sama, menunduk dan memainkan pulpen hitam di atas pangkuannya.

*****

"Ini harusnya bukan tugasku" celotehnya. "Dia benar-benar membuatku susah akhir-akhir ini. Aku tahu jika dia akan melepas masa bujangnya, tapi dia masih punya kewajiban untuk melakukan tugas-tugas ini." Lanjutnya.

Ia hanya seorang pria yang sedang berjalan dengan kesal sambil berulang kali mengutuk seseorang. Kaki yang terbalut sepatu kulit tua yang usang itu dibawah berjalan menyusuri lorong-lorong tua tempat ia bekerja sejak 13 tahun yang lalu. Tampak ia sedang mendorong sebuah troli yang berisi benda-benda tua yang sudah rusak untuk di taruh di dalam sebuah ruang bawah tanah yang sebentar lagi akan dijangkaunya.

"Dasar, Richar! Si pria yang tak tahu tanggung jawab. Awas saja kau jika acara pernikahanmu itu selesai, aku akan berpura-pura sakit untuk mengambil cuti!" kata pria itu lagi. Beberapa meter lagi dia akan menemukan tangga penghubung ruang penyimpanan itu. Dengan rasa kesal ia mempercepat langkahnya hingga membuat troli itu bergemuruh beberapa kali. "Richar! Kau akan patah seperti kursi tua tak berguna itu." Liriknya ke kursi tua yang sudah terpisah-pisah. "Atau paling tidak, aku takkan menghandiri pestamu itu!"

Si pria penggerutu itu tiba-tiba terhenti dengan paksa saat ban troli yang didorongnya itu macet tiba-tiba. Hal itu menambah kekesalan dalam dirinya.

Pria itu melangkah akan memeriksa ban troli tersebut. Ia kemudian membungkuk dan setelah itu berjongkok. Ia mendapati ban troli itu penuh dengan permen karet yang manisnya sudah habis. "Permen karet?" ucap pria itu.

Tiba-tiba rasa marahnya entah kenapa mulai redah secara perlahan. Tadinya kepala tuanya itu hanya berisi rencana pembalasan untuk Richar kedepannya kini sudah lenyap seketika saat ia melihat bekas permen karet yang menumpuk pada ban troli itu. Ia memandang ke depan tak ada tanda-tanda jika seseorang sengaja melempar bekas permen karetnya.

Keringat pria itu sudah mulai bermunculan, ia kemudian mengerutkan keningnya. "Hu.. Pasti ini ulah anak-anak nakal lagi. Aku akan melaporkan ini kepada kepala sekolah." Ia berdiri dan memandangi ke dalam troli secara lekat mencari sesuatu. Hingga ia memilih sebuah kayu runcing dari dalam troli.

THE SECRET OF DEATH [ON GOING]Stories to obsess over. Discover now