~judul sebelumnya 'My Best Friend Boy'~
Ketika sepasang sahabat saling mencintai, perasaan di antara mereka menjadi di pertaruhkan.
Shinta Nada dan Nathan Satria, rela mengorbankan perasaan mereka berdua hanya demi untuk kebahagiaan orangtua mereka...
Rất tiếc! Hình ảnh này không tuân theo hướng dẫn nội dung. Để tiếp tục đăng tải, vui lòng xóa hoặc tải lên một hình ảnh khác.
Semilir angin mulai menyentuh kulit sensitifnya, membiarkan surainya yang panjang terurai cantik. Sosoknya yang polos hanya mampu memainkan alunan nada dari petikan sebuah alat musik bernama ukulele.
Dia bernama Shinta. Namanya di ambil ketika Rama dan Sinta di takdirkan untuk bersama, takdir yang menyatukannya dengan kisah cinta epik dengan Rama.
Disini kita bukan menceritakan tentang kisah Rama dan Sinta, tetapi tentang kisah bagaimana seorang Shinta menemukan cintanya yang tulus pada pandangan perdana.
Seorang gadis cantik nan rupawan menapakkan kedua kakinya diatas rerumputan taman hanya untuk sekedar mencari ketenangan yang tak bisa ia dapatkan di rumahnya sendiri, sambil membawa sebuah ukulele kesayangannya dan seekor anjing jenis beagle bernama Mona. Setelah lima menit lamanya ia berkeliling mencari tempat duduk, hanya satu yang tersisa. Shinta menggigit bibir bawahnya, sedikit merasa sungkan pada lelaki bersyal biru tua yang sedang menguasai kursi taman seorang diri. "Permisi, gue boleh ikut duduk disini?."
Lelaki itu mendongakkan kepalanya, menatap sosok gadis yang telah menghancurkan konsentrasinya. "Ya." jawabnya singkat, padat, dan jelas.
Shinta menelan ludahnya kasar, lalu segera menduduki kursi taman setelah lelaki itu menggeserkan tubuhnya.
Canggung. Itu yang ia rasakan.
"Nama gue Shinta." ucapnya menampilkan senyum manis sambil menjulurkan tangannya kepada laki-laki itu.
"Dirgan." jawabnya singkat lagi, namun kali ini kesan dinginnya semakin menajam.
"Lo suka ngambar ya?," tanya Shinta memecah keheningan di antara mereka berdua.
"Ada urusan apa ya lo sama gue?," jawab Dirgan cuek dan tetap fokus pada sketsanya.
Shinta tak ingin membalas jawaban Dirgan, ia hanya mendengus kesal dan menghampiri si Mona dan memberinya makanan khusus anjing yang ia bawa.
Kedua netra gadis itu menelusuri setiap sudut tempat, sampai dimana ia menemukan seorang wanita paruh baya menjual berbagai macam bunga. Dari beragam macam bunga, hanya bunga krisan yang berhasil membuatnya terpesona dengan keindahannya.
"Cantiknya.." ucap Shinta setelah membeli setangkai bunga berwarna ungu itu.
Tanpa sepengetahuan Shinta, Dirgan memperhatikan setiap gerak gerik Shinta dan mencoba menjadikan Shinta objek sketsanya. Setelah itu Shinta kembali menduduki kursi tamannya itu, Dirganpun buru-buru mengganti kertas sketsanya menjadi kertas yang sebelumnya ia gambar.
"Dirgan lo suka musik?," tanya Shinta kembali yang tak dijawab Dirgan. Gadis itu hanya menghela napasnya kasar mencoba untuk mengabaikan manusia patung berwajah tembok di sampingnya itu.
Shinta mulai menyanyi dan memainkan lagunya dengan ukulele yang ia bawa tadi. Itu berhasil membuat Dirgan menoleh kearah Shinta yang sedang mengalunkan nada indah yang ia ciptakan sendiri, tanpa di sadari kedua sudut bibir Dirgan mulai terangkat. Namun tampak sangat tipis, nyaris tak terlihat.
"Lo tau lagu itu?." Dirgan bertanya masih dengan nada cueknya.
Shinta menghentikan petikan gitarnya kemudian menatap Dirgan. "Tau banget. Gue emang suka dengerinnya pas mood gue lagi ga bagus, lo suka juga?." tanya Shinta yang di anggukan oleh Dirgan. "Lo mau nyanyi bareng gue?." sambungnya. Dirgan mulai memposisikan tubuhnya menghadap Shinta.
"Eh gak kerasa udah sore, gue duluan ya, see you.." ucap Shinta kemudian lari tergesa-gesa meninggalkan Dirgan seorang diri. Gadis itu sempat tampak enggan melangkahkan kakinya meninggalkan taman, karena ia terlalu nyaman di tempat itu berkat seseorang yang telah membuatnya bahagia walau terkesan sederhana.
"Goodbye, Shinta.." lirih Dirgan menatap Shinta dengan pandangan kehampaannya.
***
Shinta membuka pintu rumahnya perlahan. Lagi dan lagi yang ia dengar pertama kali adalah suara teriakan Papanya yang selalu berperilaku kasar terhadapnya beserta Mamanya. Ia juga pernah nyaris masuk rumah sakit ketika Papanya kembali bertindak tak menyenangkan. Shintapun berniat melaporkan ke polisi namun apa dayanya ketika sang Ibu yg selalu mencegahnya, Mamanya berniat menceraikan namun Papanya selalu menolak. Karena itu, membuat Shinta semakin depresi dan ingin melukai dirinya sendiri, tetapi ia masih ingat bahwa masih ada dua orang yang harus ia jaga selain dirinya sendiri.
Nelangsa rasa selalu ia rasakan. Shinta hanya bisa berdoa kepada Tuhan seraya menulis curahan hatinya di sebuah buku diary miliknya. Shinta tak mempunyai teman karena ia tak memiliki barang seorangpun yang tulus ingin menjadi temannya. Mereka semua perlahan mulai berjauhan, mulai menghilang, dan mulai seperti tak pernah saling kenal.
Ketika ia sudah merasa kembali memiliki seorang teman, tetapi hari-hari berlalu Shinta menghabiskan waktunya di taman tetapi ia tidak pernah lagi melihat sosok Dirgan. Kemana lelaki itu?. Shinta merasa teman satu-satunya telah pergi, apakah Dirgan sama seperti teman-temannya yang dulu?.
Terlalau banyak pertanyaan sampai-sampai ia bingung harus mempertanyakan pertanyaan yang mana saja.
Apakah, memang Shinta di takdirkan untuk selalu sendirian?. Apakah, Tuhan memang baik?. Apakah, ini pilihan Tuhan yang terbaik untuknya?. Tetapi, mengapa sangat menyakitkan, seakan-akan permasalahannya tak pernah ada akhirnya.
"Tuhan, kapan semua ini akan berakhir?. Jika perlu, biarkan hidupku yang berakhir sampai disini." batinnya menangis, menahan derasnya air mata sangatlah sulit, sehingga ia hanya mampu mengutarakan perasaannya pada bayangannya sendiri, yang sudah di rasa..mati.
Những tác phẩm khiến độc giả say mê. Hãy khám phá bây giờ