11. Clara kembali

75 16 0
                                    

Tanpa perlu kau ungkap. Sahabatmu akan langsung mengetahui apa yang mengganjal di dalam hatimu dan akan berupaya membuatmu melupakan sejenak keresahan itu.

-Giana Siviani Permana-

✴✴✴

Waktu sudah menunjukkan hampir jam sepuluh malam. Giana dan ketiga sahabatnya masih berada di tempat diadakannya pesta dari salah satu teman lama Olin namanya Tere.

Acara ulang tahunnya bertempat di sebuah hotel dengan dekorasi serba pink dan hari ini adalah ulang tahun Tere yang ke-17 atau yang biasa di sebut sweet seventeen.

Banyak sekali teman-teman Tere yang diundang malam ini, mulai dari teman SMP sampai teman SMAnya. Menurut Giana, Tere adalah sosok perempuan yang mudah bergaul dan ramah terbukti dari sikapnya yang dengan senang hati menyambut Giana, Ester dan Dilla meski ia belum mengenal mereka.

Sekarang ketiganya sedang duduk di salah satu meja sambil menunggu Olin yang sedang berkumpul bersama teman-teman SMP-nya.

Tere dan keluarganya menyewa seorang dj untuk memeriahkan acara malam ini. Beberapa anak muda sedang asyik bergoyang mengikuti irama musik dari sang dj di tengah ruangan yang sudah berubah menjadi arena dance floor.

Tak lama kemudian Olin muncul di hadapan ketiganya.

"Sorry gue ninggalin kalian barusan habis ketemu teman lama." Ester menarik kursi untuk diduduki oleh Olin.

"Makasih." Ucap Olin pada Ester.

"Nggak apa-apa kita ngerti kok. Kapan lagi lo bisa ketemu mereka coba?" Giana berujar sambil tersenyum menatap Olin. Olin jadi senang karena sahabat-sahabatnya ini sangatlah pengertian.

Dilla melirik jam di ponselnya. "Udah mau jam sepuluh nih, mau pulang sekarang nggak?"

Giana mengangguk, "boleh sih. Yuk pamit dulu sama Tere." Giana memasukkan ponselnya ke dalam tas kecilnya.

"Giana?"

Tiba-tiba, seorang perempuan muncul di sampingnya. Wajah perempuan itu tampak tak percaya akan bertemu Giana di sini. Wajah Giana pun sama kagetnya seperti perempuan tersebut.

"Clara?" Giana menyebut nama cewek yang malam itu mengenakan dress selutut berwarna orange pastel.

Mendengar namanya disebut membuat Clara tersenyum lebar. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya secara antusias. Giana lantas berdiri lalu tiba-tiba Clara memeluknya dengan sangat erat.

"Gue kangen banget sama lo."

Giana bingung harus berekspresi seperti apa. Di satu sisi ia sangat senang, tentu saja karena Clara adalah sahabatnya sedangkan di satu sisi, ia merasa kedatangan Clara adalah suatu ancaman akan usaha PDKT-nya dengan Reno. Namun, Giana memilih mengenyahkan pikiran buruknya dan lebih memilih tersenyum senang akan kembalinya salah satu sahabatnya itu.

"Kapan datangnya?" tanya Giana setelah keduanya melepas pelukan.

"Tadi pagi sih. Tapi langsung di ajak Mama buat datang ke acara ulang tahun anak temannya, eh taunya malah ketemu lo di sini padahal rencananya mau ngasih suprisenya besok."

"Yah nggak apa-apa lah. Berarti lo emang nggak ditakdirkan buat ngasih kejutan besok." Canda Giana. Keduanya pun tertawa.

"Uhuk.. Uhuk," Ester sengaja batuk untuk menyadarkan keduanya.

Clara menoleh menatap Ester lalu menatap Olin dan Dilla. Ia bersalaman sekalian berkenalan dengan Olin dan Dilla yang memang belum dikenalnya lalu menarik Giana untuk duduk padahal Ester sudah berdiri untuk memeluknya.

GianaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang