1

5.4K 80 2
                                        

"Lebih baik berurusan sama anjing daripada sama lo. Anjing di lempar batu aja kabur. Sedangkan lo kalo di lempar batu bukannya pergi malah ngelempar balik sambil marah-marah. HAHAHA."

ogengxx-Kumpulan Quotes

....

Langkahku masuk kedalam kelas. Suasananya masih sama seperti yang sudah-sudah. Sedikit keramaian baru-baru terlihat.

Aku memilih tempat duduk didepan. Cepat-cepat menentukan seseorang yang akan duduk denganku. Akhirnya kupilih Siffa. Teman sekelasku dulu waktu kelas satu B.

"Elo yakin masih mau duduk sama gue? Dua taun lho."

Pagi-pagi seperti ini Siffa sudah menyebalkan.

"Terserah. Kalo elo mau duduk sama yang laen, gak masalah kok." ujarku seraya menatap datar ke sekeliling.

"Okelah!"

...

Aku keluar kelas. Aku ingin memastikan bahwa rumor pindahnya Fitri ke kelasku itu benar.

"Dira."

Aku menoleh untuk melihat siapa yang memanggil namaku.

"Lavi?" aku terkejut, tak menyangka akan ditegur Lavi.

"Elo mau kemana, Dir?" tanya Lavi, tumben.

"Ke kelas dua C. Mau ketemu Fitri, katanya dia mau pindah ke kelas gue."

"Oh." respon Lavi singkat.

...

Betapa terkejutnya aku ketika melihat Lavi diantara beberapa orang itu.

Aku kira Lavi tidak akan sekelas lagi denganku.

Sepertinya sudah menjadi kebiasaan, kalau hari pertama masuk sekolah pasti momennya perkenalan.

Seseorang refleks berdiri ketika ditunjuk pak Kurnia untuk memperkenalkan dirinya.

"Namaku Erga. Dari kelas satu C. Tinggal di asrama sekolah."

Wali kelas menunjuk yang lain. Aku tidak begitu memperhatikan dia yang tengah memperkenalkan diri.

Aku sudah tahu siapa dia. Lavi.

Cukup lama. Kemudian aku duduk kembali dan menunggu yang lain bergiliran.

Di akhir perkenalan pak Kurnia memilih Riki sebagai ketua kelas dan Erga sebagai wakilnya.

...

Ketua kelas maju kedepan. Memintaku untuk menuliskan nama orang-orang yang terpilih pada struktur organisasi.

Beruntungnya aku yang sempat ditunjuk sebagai calon ketua kelas, tidak berniat mencalonkan dan malah menunjuk kearah Riki.

Kenapa? Asal kalian tahu, beban itu berat. Aku tidak akan kuat.

Betapa juga hebatnya telunjukku, akhirnya Riki lah yang terpilih.

Aku menepuk jidatku sebal. Semua orang kembali menunjukku tapi sebagai sekertaris.

Padahal momen-momen di kelas dua ini aku ingin sekali bersantai bukan dibebani tugas sebagai sekertaris.

Selain itu beberapa hal lainnya juga sempat dibahas bersama anak-anak. Seperti rencana kelas kedepan, event-event, terutama usulan event menghias kelas yang tengah dipertimbangkan.

...

Aku meregangkan otot-otot jemariku seraya bernapas lega. Tapi itu hanya sesaat sebelum Erga datang.

Erga memintaku untuk menuliskan rencana event menghias kelas yang akan dilaksanakan sebentar lagi di papan tulis.

"Erga, elo kejam banget sih sama gue? Elo liat tadi gue baru aja selesai nulis, belum aja gue istirahat sebentar!" gerutuku kesal pada Erga.

"Masa bodo. Itu kan tugas elo, Dir!" ketus Erga seraya pergi dan sempat menyimpan sebuah catatan kecil diatas mejaku.

Kampret.

...

Esoknya sampai minggu depan masih juga momen perkenalan guru dan murid untuk setiap pelajaran berbeda.

Pada perkenalan kali ini sang guru meminta untuk menambahkan cita-cita dalam perkenalannya.

Aku mendengar beberapa keinginan teman-teman di masa depan seraya berharap impian mereka dapat terkabul. Tentunya padaku juga.

Ketika di sesi perkenalan Erga, membuatku mengerutkan kening. Persis.

...

Setelah usai. Aku menoleh pada Erga yang tengah duduk sambil melihat kearahku.

Tempat duduknya berada di samping barisan tempat dudukku. Memang cukup dekat.

"Elo juga mau jadi apoteker?" tanya Erga dengan wajah datarnya.

Aku mengangguk pelan. "Kenapa? Elo takut kalah saing sama gue ya, Er?" kataku pura-pura mengejeknya.

Erga tetawa dingin. "Elo yakin? Elo pikir bisa semudah itu ngalahin gue?"

Aku mengangkat bahuku tidak tahu.

Erga nampak kesal. "Kalo gitu kita saingan. Siapa yang dapet nilai jelek, dia harus ngaku kalah. Gimana?"

Aku sejenak berpikir. Mungkingkah aku mengalahkannya?

Kemudian dengan pasti aku mengangguk penuh yakin.

...

Tiga minggu berlalu. Pelajaran biologi akan mengadakan ulangan harian pertamanya. Aku sudah menebak kalau ini yang akan menjadi taruhannya.

Aku tidak begitu memikirkan menang atau tidak. Biarkan saja alam yang menentukan.

Saat akan ulangan kami dipindahkan duduk dengan teman yang bukan sebangku.

Menurut bu Julaeha ini adalah salah satu cara untuk menghindari murid yang menyontek atau bekerja sama dengan teman sebangkunya.

"Boleh pinjem pensil, Dir?" pinta Lavi sebelum ulangan dimulai.

"Ambil aja di kotak pensil." sahutku seraya menyempatkan diri membaca-baca kembali sekilas modul biologi.

Lavi berterima kasih dan segera menerima soal yang di bagikan guru biologi.

Dia mendapat kode A. Tentunya aku mendapat kode B. Kebalikannya.

Sebelum waktu ulangan selesai, kulihat Erga sudah selesai mengisi soal. Dia berjalan santai dan sempat menatap remeh padaku. Apa-apaan dia?

"Gimana, mau ngaku kalah duluan?" celetuk Erga yang tengah bersandar pada tiang.

"Gak tau. Hasilnya aja belum keluar, Er." tukasku sedikit enggan.

"Oke. Kita liat aja nanti." Erga langsung beranjak pergi.

...

vote-comment-share

@boandr

love is youStories to obsess over. Discover now