Part 1

810 98 9
                                        

Aku berbaring di sebuah ranjang putih ditemani dengan sehelai selimut tipis. Suasana yang sangat hening, hanya terdengar suara detik jam dan beberapa alat-alat yang tak kumengerti untuk apa fungsinya.

Aku memandang jendela yang dipenuhi dengan embun-embun pagi. Seharusnya kini aku mulai bersekolah di tempat yang baru. Namun aku tak masuk di hari pertamaku karena sakit beberapa minggu ini. Beruntung pamanku merupakan wali kelas di sana dan tidak menuntutku untuk masuk.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu ruangan. Pintu itu perlahan terbuka dan menunjukkan sosok dibaliknya. 3 orang laki-laki berseragam yang sepertinya seumuran denganku.

Aku menatap ketiganya heran. Berbagai pertanyaan melayang satu persatu melintasi kepalaku.

"Hai Koo Junhoe" sapa salah satu anak itu.

"Siapa kalian?" tanyaku.

Mereka mulai memperkenalkan diri mereka masing-masing.

Kim Hanbin, Kim Jiwon, dan Song Yunhyeong. Mereka satu kelas denganku. Mereka datang dengan tujuan untuk menjengukku, si murid pindahan dari ibu kota yang tidak masuk selama satu minggu.

"Pak Yang Hyun Suk meminta kami untuk bertemu denganmu." ucap Yunhyeong.

"Kudengar dia pamanmu, Kalian tinggal berdua?" tanya Hanbin.

"Ahh tidak, ada nenekku juga." jawabku menjelaskan.

"Memang orang tuamu dimana?" tanya Jiwon.

"Ayahku bekerja di luar negeri, sedangkan.." Aku berhenti sejenak sebelum melanjutkan kata-kataku. "Ibuku meninggal saat aku lahir."

Jiwon nampak terkejut mendengar jawabanku. "Ma-maaf aku tidak bermaksud.."

"Tak apa" aku tersenyum untuknya agar ia tak merasa bersalah. Sebenarnya itu kisah lama, aku bahkan tidak tahu bagaimana sosoknya, tumbuh tanpa seorang ibu sudah menjadi hal yang wajar bagiku.

"Junhoe, ada beberapa peraturan di kelas yang perlu kamu ketahui." ucap Yunhyeong.

"Ya, kalau kau sudah sembuh, bicaralah pada kami." lanjut Hanbin.

Aku mengangguk pelan.

Kami berbincang cukup lama sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Belum ada satu hari aku masuk ke sekolah, tapi aku sudah mendapat teman yang memperhatikanku. Aku harus mensyukurinya.

***

Malam ini aku keluar dari ruanganku. Kulalui koridor melewati ruangan-ruangan lain. Lampu-lampu nampak redup, lantai terasa dingin, cat di dinding terlihat sudah memudar. Aku menelusuri semua itu hingga sampai di sebuah lift.

Pintu lift itu terbuka perlahan. Sekilas nampak sosok laki-laki berkulit putih berdiri di dalam lift itu. Ia menundukkan kepalanya, membuatku tak bisa melihat wajahnya.

Aku mulai melangkah masuk. Laki-laki itu tetap tak bergeming seolah-olah tak menyadari kehadiranku di sampingnya. Hanya ada kami berdua di dalam lift itu. Aku sesekali menoleh dan melihatnya.

Seragamnya sama dengan seragam yang dipakai Hanbin, Jiwon, dan Yunhyeong. Ada kemungkinan kita satu sekolah. Ia membawa serangkai bunga berwarna putih yang tak kuketahui apa jenisnya. Aku hendak mengajaknya berbicara namun kutarik kembali keputusanku.

Lift tiba-tiba berhenti. Pintu perlahan terbuka memperlihatkan sebuah ruangan yang tak disinari oleh sedikitpun cahaya. Gelap.. aku tak dapat menebak apa yang ada di sana.

Laki-laki itu melangkah keluar.

"He-hei!" Aku memberanikan diri tuk memanggilnya.

Ia menoleh, menatapku dengan tatapan sayu. Kini aku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Mata yang sipit, hidung kecil, serta tahi lalat di pipi sebelah kanan tepat di bawah matanya, dilengkapi dengan wajah putih pucat yang memberi kesan 'dingin' padanya. Kupikir ia cukup tampan.

Pintu lift kembali tertutup. Aku sibuk memperhatikannya sampai aku lupa, mengapa aku memanggilnya tadi. Dia pasti menganggapku orang aneh. Tapi menurutku dia sendiri juga cukup aneh. Ada apa di ruangan itu? Untuk apa dia ke sana?

Lift mulai kembali naik ke lantai atas. Perlahan pintu lift itu terbuka. Aku melangkah keluar dan menemui seseorang yang sedari tadi menungguku di sebuah kursi yang ada di sana.

"Paman!" panggilku.

Ia menoleh dan tersenyum melihatku. Ia adalah pamanku, Yang Hyun Suk. Sekaligus wali kelas baruku.

Aku duduk di hadapannya.

"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya.

"Aku sudah merasa baikan." jawabku.

Paman kembali tersenyum. Ia membuka tas yang dibawanya dan mengambil sebuah buku di dalamnya. Cover buku yang berwarna hitam dan tulisan judul yang berwarna putih, tampilan yang sangat menarik bagiku untuk kubaca.

"Kau pernah bilang kalau kau bosan sendirian di ruanganmu kan?" ucapnya sambil memberikan buku itu padaku.

Kubaca judul buku itu. 'All Creepy Story in One Book'

"Wahh aku sangat menyukai ini, terima kasih paman!" ucapku senang.

"Kenapa kau suka sekali dengan cerita-cerita menyeramkan seperti itu?" tanyanya.

Aku tak menghiraukannya dan sibuk membuka halaman-halaman buku itu.

"Hey Junhoe, mau dengar kisah seram tidak?"

Mendengar kata-kata itu aku mulai menatap wajahnya. "Apa itu?" tanyaku penasaran.

Paman mendekatkan wajahnya ke arahku. "Dulu ada orang yang meninggal di rumah sakit ini." bisiknya.

"Yaampun paman, ini kan rumah sakit, sudah wajar kalau ada orang yang meninggal." ucapku kecewa mendengar kata-kata paman.

"Kudengar orang yang meninggal itu sebelumnya dirawat di ruangan yang kau tempati sekarang." ucap paman melanjutkan.

Aku terdiam mendengarnya. Tanpa sengaja aku menelan ludah. Detak jantungku berubah cepat. Nafasku mulai tak teratur.

"Hey, kalau kau begitu takut hanya dengan cerita seperti ini, bagaimana dengan kisah-kisah di buku itu. Mungkin kau akan pingsan setelah membacanya." ucap paman.

"Aku tidak takut" balasku. "Aku menyukai kisah seperti itu karena aku selalu berdebar setiap kali mendengar atau membaca kisah itu."

Paman tertawa pelan mendengar kata-kataku. "Berdebar? Apa kau sedang jatuh cinta?"

"Ya, mungkin aku memang jatuh cinta." ucapku.

"Haruskah paman membawamu ke rumah sakit jiwa?"

Aku ikut tertawa. "Hey, aku sudah berada di rumah sakit!"

Kami tertawa bersama sampai air mataku hampir keluar. Paman selalu memiliki cara untuk membuatku tertawa.

"Hmm paman." panggilku. "Orang yang meninggal di kisahmu tadi, siapa namanya?"

"Entahlah" jawabnya singkat.

"Kalau kau tahu, segera katakan padaku ya!" pintaku.

"Kau begitu penasaran ya?" tanyanya.

"Ya" jawabku sambil menganggukkan kepala.

"Junhoe, bagaimana kalau kisah-kisah seram yang kau sukai itu terjadi di kehidupanmu?" tanya paman.

Mendengar itu, aku terdiam. Aku berfikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan paman. Aku memang menyukai semua hal yang menyeramkan bagi beberapa orang. Tapi bagaimana kalau hal itu terjadi di kehidupanku? Ahh bukankah jawabannya sudah jelas?

"Itu akan sangat menyenangkan"

-TBC-

Class 3-3Where stories live. Discover now