Bab 13

25.7K 2.4K 48

Mata itu menatap lekat, meneliti setiap lekuk wajah dihadapannya, mengingatnya hingga terhapal mati dipikirannya, ia berjanji tidak akan melupakan wajah polos yang sedang terlelap itu.

Tangan Indira menyentuh sejumput rambut Satria yang terlihat berantakan. Jari telunjuknya lalu bergerak mengikuti tekstur wajah Satria, "tampan." Gumamnya pelan. "Rahang yang tegas." Gumamnya lagi. Lalu berakhir di bibir Satria, ia tidak merokok bibirnya kemerahan seperti wanita dan tentunya sangat menggoda untuk kembali mengecupnya.

Indira menarik selimut yang menutupi tubuh polosnya dan mengarahkan wajahnya untuk mengecup bibir Satria.

"Jangan membangunkanku!" protes Satria dengan mata terpejam dan menarik Indira dalam dekapannya. "Biarkan seperti ini dua puluh menit lagi."

Indira menjalarkan tangannya ke punggung Satria, merekatkan kepalanya di dada Satria. "kalau boleh memilih aku ingin selamanya ..." bisik batinnya. Mata Indira terpejam erat, dengan sudut mata yang mengeluarkan cairan bening.

Ia larut dalam perasaannya sendiri, pilu dengan hati yang teremas. Beberapa detik kemudian Indira kembali membuka matanya, "dua puluh menit kelamaan. Kamu harus pergi kerja, Satria ..."

Satria memaksa matanya terbuka, ia tak mampu menggambarkan rasa bahagianya, ia ingin terkurung di ruangan itu dengan Indira kalau bisa seharian penuh.

Satria melonggarkan dekapannya. Indira mendongakkan kepalanya, dengan berani menantang tatapan Satria untuk yang terakhir kali, pikirnya. "Kita akan pergi kerja bersama, kali ini aku tidak akan menurunkanmu di halte, aku akan menurunkanmu tepat di depan kantor." Kata Satria bersungguh-sungguh.

Indira tercenung untuk beberapa saat. Lalu ia tersenyum kecut. "Aku mengajukan cuti."

"Apa!?" pekik Satria tak percaya.

"Aku lelah dengan pekerjaanku. Aku butuh istirahat."

"Jadi kamu hari ini tidak masuk?" Indira mengangguk. "Kenapa tidak mengatakannya padaku?"

Indira mengendikkan bahu dan mengelus pipi Satria. "aku hanya butuh istirahat. Sungguh. Jika aku mengatakannya lebih dulu. Pasti kamu akan cari alasan untuk ikut libur."

"Memangnya kamu mau kemana?"

Pergi darimu...

"Eng ... mungkin mencari tempat yang tenang. Aku juga belum tahu."

Satria mendesah, dengan tatapan agak kesal. "kemanapun pastikan beritahu aku alamatnya. Aku akan segera menyusul. Mengerti."

Indira hanya diam dan tersenyum tipis.

***

Adelia bangkit dari kasurnya, entah sudah berapa lama rasanya ia tak keluar dari kamarnya, ia benar-benar mengurung diri, meskipun kadang ia merasa sangat senang jika Satria menjenguknya namun dari sorot matanya ia tahu jika itu hanya keterpaksaan saja.

Adelia membuka pelan pintu kamar Abdi, hari masih pagi sekali, namun kakaknya itu sudah duduk di kursi belajarnya dan membaca sebuah buku tebal. "Kakak tidak tidur semalaman?" tanyanya duduk di pinggiran kasur.

Abdi menutup bukunya dan meletakkannya ke atas meja, ia menatap Adik semata wayangnya itu dengan tatapan sendu. "Tidur, hanya terbangun tadi, tidak tahu mau apa jadi Kakak baca buku. Kamu sudah merasa lebih baik?"

"Sebenarnya belum. Masih ada yang mengganggu pikiranku tapi aku takut untuk bertanya."

"Pasti tentang pertemuan Kakak kemarin." Tebak Abdi.

Adelia mengangguk. "Aku takut Kakak benar-benar seperti yang dituduhkan perempuan itu."

Abdi tersenyum kecut. "Kamu pasti tahu jika Kakak tidak seperti itu." Mendengar jawaban Abdi membuat perasaan Adelia sedikit lega.

Revenge Baca cerita ini secara GRATIS!