Bab 4

25.7K 2.5K 26

Satria menyoroti mobil Indira yang memutar disisi sebelah mobilnya. Apa yang sedang ada dipikirannya? Segera ia mengeluarkan kunci mobil dari sakunya. Tangannya mengudara menyentuh handle, namun tiba-tiba ia dikejutkan dengan seseorang yang menubruknya dari belakang dan melingkari erat pinggangnya dengan tangan mungil.

"Surprise," pekiknya riang.

"Adel ... " ucap Satria saat menoleh. "Ngapain kamu disini?"

Adelia melepaskan tautannya dari tubuh Satria. "Hari ini aku disini. Besok juga. Besoknya lagi juga."

Satria semakin mengerutkan dahi, bingung.

"Aku kerja disini mulai hari ini."

Kali ini Satria terbeliak. "Ngapain?"

"Kok ngapain? Ya kerja."

Otak Satria langsung berputar cepat, "Kamu cari kerja di tempat lain aja. Besok aku bilang bagian HRD untuk cari pengganti kamu."

"Kakak ..." serunya tak percaya.

"Kita bisa bertemu di tempat lain, di hari weekend atau saat aku cuti panjang, tapi tidak untuk ditempat kerja. Aku ingin fokus."

"Semenjak pindah kesini kita hanya bertegur sapa melalui chat, dan Kakak tahu sendiri aku tidak tenang jika tidak melihat wajah Kakak. Aku janji tidak akan mengganggu Kakak, aku juga akan bekerja dengan serius, aku punya kemampuan kak, dan aku masuk juga atas usahaku sendiri."

Sejak dulu Adelia terus menempelinya, bahkan ketika ia kuliah di Amerika, Adelia juga mengikutinya kuliah disana. "Jangan mengikat diri denganku Adel. Kamu bisa melakukan hal lain yang kamu suka dan aku tidak akan melarangmu."

"Yang aku suka hanya kakak. Dan apapun yang ingin kulakukan ya dengan kakak." Kata-kata itu lagi seru batinnya.

Satria memijat pelipisnya, ia menyerah. "Sudah makan?"

Adelia tersenyum senang lalu menggeleng kuat. Satria selalu luluh melihat senyuman itu, Adelia sudah seperti adiknya sendiri, namun Adelia memiliki perasaan yang dalam padanya, hingga ia menyatakan cintanya duluan, Satria tidak punya orang lain disisinya tepatnya orang yang dicintainya, dan Adelia adalah wanita terbaik sebagai pilihan hidupnya, lagi pula orang tua telah saling mengenal.


***

Indira berlari kencang menuju unit apartemen Panji, dengan tergesa ia memasukkan sandi yang sudah dihapal mati itu.

"Panji ... " lengkingannya langsung menyambut Panji yang tengah berada di pantry.

"Ada satu orang lagi ... infonya sangat aku butuhkan ... dia ..." Indira menarik dalam napasnya yang terasa tersenggal akibat berlari. "Aku rasa dia adalah kekasihnya."

Panji tidak menjawab. Ekspresinya langsung berubah kala itu juga dan berjalan menuju ruang kerjanya. Indira hanya melongo dan ikut mengekor.

"Kamu denger nggak sih yang aku bilang barusan?" serunya sedikit emosi.

Panji mengobrak-abrik filenya di dalam laci. "Ini." Serahnya kemudian.

Indira terdiam memandang Panji dengan sorot mata tajam. "Kamu sudah tahu," lirihnya.

"Itu percakapanku di chat dengan teman baik Adelia semasa SMA."

Indira semakin merasa sesak didadanya, dan mengambil kasar lembaran kertas dari tangan Panji. Matanya mengamati lamat. "Apa ini? Keluarga bersahabat lama. Sudah mengenal sejak kecil. Pacaran dari SMA." Indira tertawa hambar. "Dan kamu telah mengantongi informasi ini sejak lama. Atau jangan-jangan kamu juga tahu kekasihnya ini telah bekerja sebagai atasanku. Begitu?"

Revenge Baca cerita ini secara GRATIS!