Bab 14

23K 2.4K 89

Dering ponsel membangunkannya, ia meraba sekitaran kasur dengan mata masih terlelap, namun dengan setengah kesadarannya ia meyakini kalau tadi malam ia mencampakkan ponselnya begitu saja dan langsung terlelap.

"Hallo." Sapanya pada sang penelpon tanpa mau melihat di layar siapa yang menelponnya.

"Kamu sudah bangun Satria?" terdengar suara Ibunya.

Satria menggerang pelan lalu membuka matanya perlahan suasana kamar yang gelap hanya disinari sedikit dari gorden yang masih tertutup.

"Sudah." Jawabnya dingin.

"Kenapa tadi malam tiba-tiba membatalkan janji," oceh Ibunya.

"Satria ... "

"Hmm. Ya Ma, kan Satria udah bilang ke Adel kalau Satria lagi ada kerjaan."

"Mama tahu itu cuma alasan kamu. Mau sampai kapan kamu seperti ini Satria ... Kamu juga udah jarang pulang ke rumah."

"Satria sibuk Ma."

Terdengar desahan Ibunya. "Mama akan mengatur makan malam lagi. Dan kali ini kamu harus hadir."

Setelah sambungan terhenti Satria bangkit dari kasurnya. Bahkan ia masih mengenakan pakaian kerjanya semalam. Tak terasa sudah hampir tujuh tahun berlalu. Hidupnya benar-benar sudah tak tertata, ia bahkan tidak tahu apa tujuan hidupnya. Ia seperti robot yang hanya melakukan pekerjaannya dengan baik, sangat baik malah. Lebih dari itu, hatinya dingin. Ia tak akan menyapa siapapun lagi. Tatapannya datar. Gairahnya benar-benar sudah tercabut, yang tersisa didirinya hanyalah raga.

Sudah dua tahun juga tepatnya ia tinggal di rumahnya sendiri, hidup membujang tanpa ada yang mengurus, omelan Ibunya hanya masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Sampai sebulan yang lalu Ibunya mengirim pembantu rumah tangga ke rumahnya, Satria tidak menolak juga tidak bertanya lebih, ia selalu bersikap tak acuh.

Dan bertahun-tahun juga Ibunya selalu gencar menasehatinya untuk menikahi Adelia. Tadi malam ada acara makan malam antara keluarganya dengan keluarga Adelia. Dengan seribu satu alasan ia berhasil meyakinkan Adelia jika ia sangat banyak pekerjaan. Ia memang telah di percaya untuk menjabat posisi yang lebih tinggi. Dan itu semakin jadi penguat alasannya untuk kembali menunda rencana pernikahan yang sama sekali tidak diharapkannya.

Satria selalu berkata tegas pada Adelia kalau ia belum ingin menikah, dan Adelia dengan berbesar hati selalu menunggunya, padahal berulang kali juga Satria berusaha mengatakan pada Adelia untuk mencari pasangan lain yang lebih cocok dengannya dan berhenti menunggunya.

***

"Kamu mau kemana Panji? Besok hari pernikahanmu."

Panji memutar tubuhnya. "Aku mau mengunjungi Indira dulu, Buk."

"Indira udah balik?"

Panji tersenyum kecut, dan perlahan senyuman Ibunya memudar. Ibunya tahu jika yang dimaksud mengunjungi Indira adalah pergi ke apartemen Indira. Panji bahkan sering bermalam disana, berharap suatu waktu Indira akan muncul disana.

"Ibu yakin Indira baik-baik aja di suatu tempat. Kamu sudah berusaha mencarinya, dan Ibu yakin kalau dia suatu saat akan kembali, setidaknya untuk menemuimu sahabat kecilnya."

Panji mengangguk, "Panji pamit dulu Buk," kata Panji lalu masuk ke dalam mobilnya.

"Hati-hati ... " nasehat Ibunya sebelum Panji pergi.

***

Suasana apartemen masih sama. Masih tetap kosong. Panji memandang getir, pertemuan terakhirnya dengan Indira tidak mengenakkan, yang tersisa diingatannya hanya kata-kata terakhir Indira lewat telepon, saat itu ia sama sekali tidak menyangka jika itu adalah ucapan perpisahan dari Indira untuk dirinya.

Revenge Baca cerita ini secara GRATIS!