Bab 1

65.2K 3.4K 25

Suara dari hak high heels menggema dari lorong sepi lantai sembilan sebuah apartemen. Jemari lentik dengan kuku-kuku panjang berwarna merah tua menekan tombol kode pintu. Sebuah kumpulan angka tepat dihari kelahiran sang empunya.

Setiap memasukkan kode sandi tersebut ia tersenyum, seperti ada yang menggelitik hatinya. Masuk ke dalam kesenyapan langsung menyapa tanda tak ada seorang pun disana. Sebelah tangannya mencampakkan clutch yang sedari tadi diamitnya ke sofa bed sembari berjalan ke arah pantry.

Ada informasi baru. Kuletakkan di atas meja kerja.

Indira langsung mengambil kertas memo yang tertempel di pintu kulkas lalu merematnya dan melemparnya asal ke tong sampah. Panji, sahabatnya itu selalu bertindak praktis dan tak banyak bicara. Dia jarang mengirim pesan dan lebih suka berbicara langsung atau paling tidak menelpon itupun dilakukannya dengan singkat. Dulu ia diam karena sering menjadi korban bully, namun sekarang sikap diamnya semakin parah seiring dengan profesinya yang sudah berubah menjadi penyidik kepolisian. Tuntutan pekerjaan dan sikap yang sungguh selaras.

Tetapi menurut Indira itu adalah kebetulan yang sangat menyenangkan. Panji dengan suka rela memberinya kabar apapun yang menyangkut urusan masa lalunya.

Tanpa perlu menunggu Indira langsung menuju ruang kerja Panji, ruang kerja sempit yang dipenuhi dengan rak buku bahkan ada yang harus diletakkannya di lantai karena rak yang tersedia tak mampu lagi untuk memuatnya.

Dengan menyandarkan tubuhnya ke kursi, tangan Indira mengapai lembaran kertas dari atas meja. Informasi yang tertulis membuat Indira menyipitkan matanya sejenak. Bukan itu yang diharapkannya tetapi mungkin Panji menganggap itu berguna.

Informasi tentang Adelia Santika Mulawarman adik dari orang yang diincarnya, Abdi Putra Mulawarman. Segala informasi mulai dari usia, tinggi badan, berat badan, golongan darah, hingga hobby dan kesukaan. Indira berdecak tak suka, Panji pernah memberikannya informasi ini tiga tahun yang lalu, hanya mengalami perubahan sedikit saja dan apa pentingnya menurutnya sebelum matanya sampai ke note yang ada dibagian paling bawah.

Note : objek sudah kembali ke Indonesia dari dua hari yang lalu.

Senyum miring langsung tercipta di wajahnya, itu artinya pendidikannya di luar negeri telah berakhir, sekarang ia hanya berharap ada jalan yang menghubungkannya untuk mengorek informasi lebih dalam.

Sesosok pria bertubuh tinggi tegap berdiri di ambang pintu, Indira tidak tahu kapan persisnya pria itu masuk ke apartemen, karena ia terlalu fokus memperhatikan lembaran kertas.

"Sudah lama?"

"Hmm... " jawab Indira tanpa perlu menoleh pada siapa yang menyapanya. "Lalu setelah ini apa? gimana cara aku mendekatinya."

Panji tak menjawab dan memilih beralih ke kamarnya, tubuhnya penat dan meminta untuk segera dibersihkan.

Indira bangkit dari kursi sembari melipat kertas, lalu berjalan keluar mengambil clutch dan menyimpan kertas tersebut di dalamnya. Ia kembali berjalan ke arah pintu untuk mengganti high heels yang sudah terasa menyiksa dengan slipper.

Dengan tangkas Indira menyepol rambut panjangnya dengan karet yang didapatkannya asal di sangkutan rak pantry, dan memakai celemek yang juga tersampir disana. Membuka isi kulkas dan melihat bahan apa saja yang tersedia yang bisa dijadikannya menu makan malam.

Panji yang keluar dari kamar dalam keadaan lebih segar langsung menuju kursi bar dan menuang air putih pada gelas kaca, meminumnya sambil sekilas menatap Indira yang memunggunginya.

"Akan pantas jika kita sepasang suami istri," celetuknya.

"Candamu sama sekali tidak lucu," sahut Indira sembari memotong sayuran, sayuran yang ada akan ia buat capcai dan akan dicampurnya dengan udang, yang praktis-praktis saja asal mengenyangkan, pikirnya. Lagi pula kalau soal makanan Panji tidak terlalu banyak menuntut.

Revenge Baca cerita ini secara GRATIS!